Bismillahirrahmaanirrahiim.
“Dek, sebentar lagi kamu
punya adek” seperti guntur yang menyambar. Lembut tapi meluluh lantahkan.
Ini bukan pertama kalinya
saya punya adek, atau istilahnya adek tingkat. Dari tahun ke tahun saya selalu
punya adek baru, tapi tentunya baru ngeh saat SMP dan SMA, dulu pertama kalinya
punya adek, jadi senior di sekolah, mengajari mereka, ya begitulah. Saat SMA
pun demikian, namun mulai merasa lebih menjadi panutan, memberi contoh. Yang paling
berat terasa adalah saat di kampus, entah mengapa begitu, seperti ada beban
berat yang harus dipikul. Entah, mungkin selama ini saya ga menyadari bahwa
saya juga telah membelajarkan adek” saya dengan sikap saya, secara tidak
langsung atau seperti apa, tp rasanya ketika harus terjun ke dalam suatu
lingkaran dan dengan gamblang membelajarkan adek” saya itu rasanya,,,,
Bukan saya keberatan,
bukan saya tidak mau. Bagaimana saya tidak merasa bahagia dengan kehadiran adek”,
saya bahagia, bahkan sangat bahagia, hingga saya sering menangis haru. Saya memikirkan
bagaimana saya harus bersikap, bagaimana harus memperlakukan kalian. Satu hal
yang orang tidak tahu tentang itu bahwa saya selalu berpikir dan berpikir lebih
keras dari saya memikirkan kuliah.
Selalu ada rasa takut,
takut sungguh. Ketika saya diminta membersamai adek” saat religius input,
simamoru, bahkan tak pernah luput air mata saya tumpah. Bingung, haru, bahagia,
semua rasa ada. Bahkan saya tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan. Satu hal
bahwa saya sangat bahagia.
Dek, Alloh itu sudah
merencanakan semuanya, dari awal perjumpaan kita, dengan menakdirkan saya di
KSK, memegang akun FB ospek FBS, dalam ketakutan, dalam kecemasan, dalam
kegalauan mengamban tugas pertama yang menjadi jembatan untuk mengenal kalian. Setiap
kebingungan, setiap pertanyaan, setiap kegalauan kalian yang menghiasi
hari-hariku, bahagia dek, sungguh. Jika banyak orang bilang kalau itu melelahkan,
membosankan, tapi tidak bagi saya, saya bahagia meluangkan sebagian besar waktu
saya untuk kalian.
Kehadiran kalian
adek-adekku, yang membuatku bukan lagi sekedar adik, yang membuatku bukan lagi
seorang yang harus bermanja. Iya dulu saya begitu, tapi tidak sekarang. Kalian yang
membelajarkan saya, bukan saya yang membelajarkan kalian. Saya dibelajarkan
bagaimana harus membina, mengayomi, mengasihi, semuanya dek, sifat” seorang
kakak.
“Kamu pasti siap, kan
calon murobbiyah”
Makanan apa itu?? Alloh,
jika saja bukan amanah dari Engkau, tentu aku enggan tuk mengembannya. Jika bukan
karena rasa cinta saya terhadap adek-adek, tentu saya lebih memilih
menghabiskan waktu saya di kamar.
Iya dek, kalian alasan
saya kembali menjadi diri saya. Diri saya yang dulu sempat ada. Saya lelah
menjadi orang lain, saya lelah berpura-pura menjadi diri yang berbeda untuk
kakak-kakak saya. Iya sekarang saya seorang kakak, mungkin juga akan ada Futy
Futy baru yang menyebalkan, menjengkelkan, dan kekanak-kanakan.
Flashback ke belakang, bagaimana saya menjalani hidup saya, hari-hari saya, dengan lingkungan yang sangat berbeda dari masa ke masa. Menjadi diri yang berbeda disetiap momennya. Bagaimana orang lain memandangku dengan sudut yang berbeda. Tapi itulah saya. Yang pasti saya memiliki stok cinta yang tiada habisnya untuk kakak-kakak dan adek-adek saya. Kalian anugerah yang Alloh titipkan untuk mengisi ruang di sudut terdalam ini.


6 komentar:
Waaa.... Love you always Mbak Futyy.. luv luvv~
We learn together~
Waaa.... Love you always Mbak Futyy.. luv luvv~
We learn together~
sayang dedek juga :)
<3 Mbak futy the best lah!
<3 Mbak futy the best lah!
ih kalian pada ngintip ternyata, malu deh jadinya
Posting Komentar