Dulu, aku pernah punya seorang sahabat. Yah dulu kita adalah
dua orang yang sama-sama hidup di perantauan dengan terpincang-pincang mencoba
berdiri di tengah kota megapolitan. Aku masih sangat ingat ketika aku bersama
kaka Puput, kaka Kris, dan Kaka Vranco pergi makan siang di rumah makan
belakang kantor. Kami selalu lewat depan kantor penjualan tiket pesawat yang
letaknya di samping kantor kami. Dan setiap kali kami lewat aku selalu
melihatnya sedang sholat dzuhur dari dinding kaca depan kantor. Yah di ruangan yang
hanya sekitar 3x4 meter, ia dengan pesona anggunnya. Perempuan berambut sebahu
dengan kemeja dan blezer hitam sekaligus ber-rok selutut itu tampak menarik,
tegas dan cerdas.
Pada suatu hari ketika aku memutuskan untuk pindah dan
mencari kos sendiri, kaka Puput mengajakku untuk satu kos bersamanya dan juga
bersama gadis itu, ya namanya Dewi, aku memangilnya tetah Dewi. Kami bertiga
akhirnya tinggal dalam satu kamar yang cukup luas. Teteh Dewi tampak lebih
simple dengan pakaian rumah dan tanpa make
up cetar seperti basanya di kantor. Tidak butuh waktu lama untuk kami
saling mengenal dan menjadi sahabat.
Kau boleh men-judge
dia perempuan ala-ala kantoran pada umumnya yang hanya mengejar dunia, tapi sungguh
kau akan terkejut ketika melihat ia segera bangkit mengambil air wudhu ketika
adzan berkumandang, entah apapun pekerjaan yang sedang ia lakukan. Ia yang
selalu membaca Al-Qur’an setelah selesai sholat dan ia juga yang selalu
bersimpuh di sepertiga malam terakhir dengan penuh linangan air mata. Ia yang
selalu berangkat lebih awal dari aku dan ka puput karena jadwal kerjanya dari
jam 8.
Kau tahu, ternyata dia adalah sahabat yang Alloh kirim untuk
menemaniku berjuang. Di saat semua orang berusaha menjatuhkan impianku, tapi
ada sesosok yang menemaniku untuk terus berjalan, menerjang ketidakmungkinan
dan tanpa takut untuk berharap, sesulit apapun keadaan yang sedang kita jalani;
berada di bawah tekanan bos perusahaan. Mimpinya simple kawan, ia hanya ingin
bekerja di sebuah perusahaan penerbangan dengan seleksi masuk yang sangat
ketat. Sedangkan aku hanya ingin melanjutkan sekolahku di sebuah Universitas
ternama di Jogja. Kami sama-sama memiliki keterbatasan dan finansial yang
minim, tapi kau tahu? Dia selalu bekerja keras dan melakukan apapun dengan
sebaik mungkin.
Hingga di bulan ramadhan itu, ternyata ia mendahuluiku. Setelah
perjalanan panjang bersama yang kita lewati, ia berhasil menggapai mimpinya, ia
berhasil di terima di perusahaan penerbangan impiannya. Yang lebih memebuatku
salut adalah ketika ia begitu berani mengambil keputusan untuk meninggalkan
pekerjaan lamanya, meskipun bosnya mencegahnya habis-habisan. Ia dengan penuh
keberanian menerjang hambatan itu. Mimpinya lebih berharga dan ancaman bosnya
sama sekali tak menggoyahkan tekad kuatnya.
Suatu ketika dia pernah berbicara padaku bahwa ia berazzam
akan berjilbab ketika mimpinya berhasil dicapai. Dan kau tahu dia benar-benar
menepati janjinya. Kini tak ada lagi rok mini, hanya ada keanggunan dari
sesosok yang sholihah, cerdas, dan berpendirian kuat.
Dulu, aku sempat menangis ketika aku tahu bahwa sebuah Universitas
di jogja menerimaku sebagai mahasiswanya. Karena saat itu aku benar-benar harus
meinggalkan sahabatku yang lain, kaka Puput, setelah kepindahan teh Dewi. Kau tahu
rasanya seperti harus memutus tali pertemuan dengan seseorang yang telah
menemaniku berjuang mati-matian menggapai mimpi. Tapi kau tahu, setelah
kepindahanku kaka Puput mengirim pesan kepadaku bahwa ia juga telah berjilbab. Aku
tidak hanya menangis, tapi juga sesenggukan. Aku merasa semakin bersalah dan
ingin rasanya aku kembali.
Dulu di perusahaan export-import itu hanya aku yang memakai
jilbab. Di awal bosku sudah mengingatkanku untuk tidak berjilbab tapi aku tetap
kekeuh mempertahankan prinsipku. Dengan lobi-lobian sekian kali sampai aku
mengancam tidak akan bekerja jika tidak diizinkan memakai jilbab. Akhirnya bosku
mengalah dan memaklumi. Kau tahu berat rasanya untuk menaklukan bosku itu. Aku tak
bisa membayangkan bagaiman kaka Puput melobi bos kami untuk kemudian ia
berjilbab. Tapi sungguh aku bahagia dan sangat bahagia.
Kawan, memang begitulah jalan dakwah. Apa yang kita usahakan
saat itu belum tentu dapat kita petik hasilnya saat itu juga. Mungkin nanti
saat kita sudah tak berada di sana, atau bahkan ketika kita tidak lagi ada di
dunia ini. Bahkan aku tak pernah menasihati mereka untuk berjilbab, namun cukup
kutunjukkan bagaimana perempuan itu wajib untuk berjilbab. Dengan tindakan dan
aksi yang nyata cukup untuk menggerakan hati mereka.
Sahabat, jangan pernah menyerah walau usahamu tidak pernah
dihargai orang, meski apa yang kau lakukan terasa sia-sia. Karena suatu saat
nanti semua akan membuahkan hasil. Semua akan dinilai oleh yang memberi hidup.
cukup sederhana kawan. Cukup lakukan apa yang seharusnya kau lakukan, jangan
takut dan jangan dengarkan mereka yang sedang berusaha menjatuhkanmu.

