Sabtu, 23 Desember 2017

Dakwah itu Panjaaaang Jalannya



Dulu, aku pernah punya seorang sahabat. Yah dulu kita adalah dua orang yang sama-sama hidup di perantauan dengan terpincang-pincang mencoba berdiri di tengah kota megapolitan. Aku masih sangat ingat ketika aku bersama kaka Puput, kaka Kris, dan Kaka Vranco pergi makan siang di rumah makan belakang kantor. Kami selalu lewat depan kantor penjualan tiket pesawat yang letaknya di samping kantor kami. Dan setiap kali kami lewat aku selalu melihatnya sedang sholat dzuhur dari dinding kaca depan kantor. Yah di ruangan yang hanya sekitar 3x4 meter, ia dengan pesona anggunnya. Perempuan berambut sebahu dengan kemeja dan blezer hitam sekaligus ber-rok selutut itu tampak menarik, tegas dan cerdas. 

Pada suatu hari ketika aku memutuskan untuk pindah dan mencari kos sendiri, kaka Puput mengajakku untuk satu kos bersamanya dan juga bersama gadis itu, ya namanya Dewi, aku memangilnya tetah Dewi. Kami bertiga akhirnya tinggal dalam satu kamar yang cukup luas. Teteh Dewi tampak lebih simple dengan pakaian rumah dan tanpa make up cetar seperti basanya di kantor. Tidak butuh waktu lama untuk kami saling mengenal dan menjadi sahabat.

Kau boleh men-judge dia perempuan ala-ala kantoran pada umumnya yang hanya mengejar dunia, tapi sungguh kau akan terkejut ketika melihat ia segera bangkit mengambil air wudhu ketika adzan berkumandang, entah apapun pekerjaan yang sedang ia lakukan. Ia yang selalu membaca Al-Qur’an setelah selesai sholat dan ia juga yang selalu bersimpuh di sepertiga malam terakhir dengan penuh linangan air mata. Ia yang selalu berangkat lebih awal dari aku dan ka puput karena jadwal kerjanya dari jam 8.

Kau tahu, ternyata dia adalah sahabat yang Alloh kirim untuk menemaniku berjuang. Di saat semua orang berusaha menjatuhkan impianku, tapi ada sesosok yang menemaniku untuk terus berjalan, menerjang ketidakmungkinan dan tanpa takut untuk berharap, sesulit apapun keadaan yang sedang kita jalani; berada di bawah tekanan bos perusahaan. Mimpinya simple kawan, ia hanya ingin bekerja di sebuah perusahaan penerbangan dengan seleksi masuk yang sangat ketat. Sedangkan aku hanya ingin melanjutkan sekolahku di sebuah Universitas ternama di Jogja. Kami sama-sama memiliki keterbatasan dan finansial yang minim, tapi kau tahu? Dia selalu bekerja keras dan melakukan apapun dengan sebaik mungkin.

Hingga di bulan ramadhan itu, ternyata ia mendahuluiku. Setelah perjalanan panjang bersama yang kita lewati, ia berhasil menggapai mimpinya, ia berhasil di terima di perusahaan penerbangan impiannya. Yang lebih memebuatku salut adalah ketika ia begitu berani mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya, meskipun bosnya mencegahnya habis-habisan. Ia dengan penuh keberanian menerjang hambatan itu. Mimpinya lebih berharga dan ancaman bosnya sama sekali tak menggoyahkan tekad kuatnya.

Suatu ketika dia pernah berbicara padaku bahwa ia berazzam akan berjilbab ketika mimpinya berhasil dicapai. Dan kau tahu dia benar-benar menepati janjinya. Kini tak ada lagi rok mini, hanya ada keanggunan dari sesosok yang sholihah, cerdas, dan berpendirian kuat.

Dulu, aku sempat menangis ketika aku tahu bahwa sebuah Universitas di jogja menerimaku sebagai mahasiswanya. Karena saat itu aku benar-benar harus meinggalkan sahabatku yang lain, kaka Puput, setelah kepindahan teh Dewi. Kau tahu rasanya seperti harus memutus tali pertemuan dengan seseorang yang telah menemaniku berjuang mati-matian menggapai mimpi. Tapi kau tahu, setelah kepindahanku kaka Puput mengirim pesan kepadaku bahwa ia juga telah berjilbab. Aku tidak hanya menangis, tapi juga sesenggukan. Aku merasa semakin bersalah dan ingin rasanya aku kembali.
Dulu di perusahaan export-import itu hanya aku yang memakai jilbab. Di awal bosku sudah mengingatkanku untuk tidak berjilbab tapi aku tetap kekeuh mempertahankan prinsipku. Dengan lobi-lobian sekian kali sampai aku mengancam tidak akan bekerja jika tidak diizinkan memakai jilbab. Akhirnya bosku mengalah dan memaklumi. Kau tahu berat rasanya untuk menaklukan bosku itu. Aku tak bisa membayangkan bagaiman kaka Puput melobi bos kami untuk kemudian ia berjilbab. Tapi sungguh aku bahagia dan sangat bahagia.

Kawan, memang begitulah jalan dakwah. Apa yang kita usahakan saat itu belum tentu dapat kita petik hasilnya saat itu juga. Mungkin nanti saat kita sudah tak berada di sana, atau bahkan ketika kita tidak lagi ada di dunia ini. Bahkan aku tak pernah menasihati mereka untuk berjilbab, namun cukup kutunjukkan bagaimana perempuan itu wajib untuk berjilbab. Dengan tindakan dan aksi yang nyata cukup untuk menggerakan hati mereka.

Sahabat, jangan pernah menyerah walau usahamu tidak pernah dihargai orang, meski apa yang kau lakukan terasa sia-sia. Karena suatu saat nanti semua akan membuahkan hasil. Semua akan dinilai oleh yang memberi hidup. cukup sederhana kawan. Cukup lakukan apa yang seharusnya kau lakukan, jangan takut dan jangan dengarkan mereka yang sedang berusaha menjatuhkanmu.  

Senin, 11 Desember 2017

Factors for differences in language use between men and women



Since centuries ago gender-related issues have always been linked to language. It can not be denied that gender differences are very influential in terms of language, while language is the basis of communication. Every day men interact with each other, and in general communication, they do use language. The striking difference between the two is that first, women tend to be more polite in spoken words, while men tend to be rude. Second, women talk to the standard language while men do not. Third, women prefer light topics in conversations such as about fashion, cooking, and things close to their lives whereas men prefer tough topics such as politics, education, and statehood.

Then what are the factors that cause different language use for both? Is that physically or socially? Based on the results of research, men using the left brain to think, while women use both parts of the brain to think, but it does not show the effectiveness in the use of language. There are factors outside the physical that affect the differences in language use between men and women. I would classify that factor into three parts.

First, the difference in psychology. Women have a more subtle feeling than men. They are more sensitive, while men are more logical. Therefore women speak more politely than men, and men speak more harshly than women.

Second, the difference in social status. In the social life, men superior to women. Even in every respect. In the public spaces, men as leaders while women more occupy the second position such as a secretary. Women prefer to share problems and men prefer to provide solutions. That's what causes women to be motivated to reach an equivalent level. One way is to use language. Women are more careful in grammar matters. They are more careful and thinks about the consequences of what they say, whereas men tend to be flexible in using language. In addition, men spend more time in school so that their chances of filling in the larger public space. Therefore men are closer to heavy topics such as politics and government, while women are more preoccupied with their own affairs, so he prefers topics about beauty, fashion, and more.

Third, the difference in cultural background. Lakoff (1975) believes that language differences between men and women are a symptom of cultural problems. It turns out that cultural issues also affect language differences between men and women. Therefore the style of men when performing a different conversation with women, as well as vice versa.

The above three factors are factors that greatly affect the language differences between men and women. Although both are different but not necessarily united and disagreeable in every respect. The two are complementary to each other. By knowing the causal factors, they can understand each other.

Minggu, 03 Desember 2017

Kamu Hebat, Ayo Jadi Lebih Hebat

Assalamu'alaikum wr wb

Selamat pagi cantik? bukankah ini juga pagi yang sangat cantik. It's monday right? apakah hari senin memang menjadi hari yang berat bagi kebanyakan orang, dimana orang harus kembali menjalani rutinitas sehari-har; pergi ke sekolah, bekerja dan lain sebagainya. tapi tidak bagiku cantik. aku punya pagi yang sangat indah.

Well aku bangun kesiangan hari ini, tapi aku tetap bersyukur. jam 4 pagi adekku membangunkanku. aku sadar bahwa aku telah mematian alarm jam 3 ku, tapi sudahlah mungkin aku juga harus mengoreksi diri, semalam aku begadang untuk hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Aku memulai hariku dengan sholat subuh berjama'ah kemudian dilanjutkan membaca Al-Ma'tsurat dan hadits Arba'in meski jujur aku tak begitu sadarkan diri, tapi memang sudah rutinitas setiap pagi. kemudian aku membaca Al-Qur'an dua lembar saja. aku mengecek handphoneku dan temanku mengajakku jogging. fix tertidurlah aku around 7 menit, kemudian aku bersiap-siap keluar. dengan kepala yang amat pening dan kaki yang masih sakit aku berjaln perlahan menyusuri jalanan sampai bertemu temanku. mungkin kau pikir gila, dalam keadaan setengah demam dan kaki yang luka masih mau menyusuri jalanan pagi, mengapa tidak memilih untuk tidur saja? toh aku memulai kuliahku jam 11 siang. jawabannya satu; aku mencari berkahnya pagi.

Kau tahu berjalan atau berlari kecil setelah subuh itu membuat badan fresh. jika kamu memilih untuk tidur saja di rumah, mungkin kau merasa nyaman tapi harimu akan terasa suram, sedangkan jika kau memilih untuk keluar dan menghirup udara segar, harimu akan lebih cerah. ya seperti biasanya aku melewati taman bunga, sungai, jalanan dan tempat yang kusukai.

Satu jam itu masih kurang bagiku, udara segar yang kuhirup rasanya belum habis tapi aku harus melanjutkan aktivitasku. ya, aku pulang dan sarapan. aku memang anak kos, tapi aku tak pernah lupa sarapan. inget ya guys, sarapan pagi itu bukan pertanda bahwa kamu lemah dan ga strong, tapi itu cara untuk kamu membuat diri kamu strong dan bekal beraktivitas seharian. jadi jangan bangga kalo ga sarapan, merasa sok kuat, tapi sering guling-guling kalo magnya kumat. inget itu ya.

After that aku prepare for everything dan sholat dhuha. Jam 8 aku memutuskan untuk pergi ke Plaza dan meminimalisir membaca buku sambil tiduran di kasur, hehe. itu mnyenangkan guys, sebagai bentuk rasa syukur kita sama Alloh telah diberi pagi yang indah dan melakukan berjuta kebaikan di dalamnya.

Someone said kalo kunci kebahagiaan adalah olahraga. aku sudah membuktikannya. aku hanya berlari kecil setiap pagi, itu sudah membuatku bahgaia, entah mengapa. aku melihat pohon, bunga,embun, terasa sejuk rasanya.

Semoga menjadi prolog yang indah untuk blog yang indah ya.....

Mungkin kau pernah berpikir bahwa dirimu itu sangat lemah, tak berguna, atau tidak lebih hebat orang lain. right kebanyakan orang merasakan itu. itu tandanya kamu tidak meraasa bersyukur, padahal banyak orang yang ingin menjadi seperti kamu, right?

kau tahu bahwa aku adalah orang yang sangat pemalu. aku tak punya otak yang cukup cerdas, ataupun prestasi yang cemerlang, hanya saja ibuku selalu menasihatiku untuk menjadi orang yang pemberani. kau tahu saat kau berani bersuara dan bertindak orang akan respek denganmu, jangan takut untuk melakukan kesalahan, karena akan ada orang lain yang membenarkan.

Coba kamu lihat ke dalam dirimu, kamu cantik. kamu itu unik dan tidak ada  satupun orang yang seperti kamu. kau tahu selagi kamu masih mau belajar untuk menjadi seperti apa yang kamu inginkan, kamu pasti bisa.

kau tahu, bahwa kesuksesanmu di masa depan sangat ditentukan oleh aktivitas-aktivitas kecilmu hari ini. maka jangan terlau fokus dengan apa yang belum kamu capai, tapi fokuslah pada apa yang sedang kamu laukan saat ini, karena itu yang terpenting dan yang nyata di hadaapanmu.menyelesaikan aktivitasmu yang sekarang dengan sebaik mungkin adalah kunci untuk kamu mempersiapkan masa depanmu yang gemilang.

Heiiii ayolah semangat, pertolongan Alloh itu dekat, jika kamu mau untuk mendekatiNya. jangan taku dan jangan pernah merasa renda, kamu hebat, ayo jadi lebih hebat.

pesanan kopimu sudah datang, selamat menikmati pagi yang sempurna


Yesty Elfuty
Wassalamu'alaikum wr wb