Senin, 06 April 2015

Ooo Ternyata Begini!!


Assalamu’alaikum wr wb

Sahabat, si peri pemilik pena berwarna pink ini kembali menyambut setelah sekian lama tak menyapa. Kalau dihitung-hitung sudah 1 bulan ya? Entah apalah yang membuatku begitu jarang menyiapkan sebuah hidangan di rumahku ini. Tapi di hari senin ini peri pink mau berbagi cerita tentang aktivitas saat ini.

Me, seorang perempuan penggemar warna pink saat ini bekerja di sebuah perusahaan jasa export import barang di shenzhen-china :D oops salah, itu mah destinationnya, originnya mah dari jakarta aja, kalau eksport tapi ya.... sebuah dunia baru yang sangat jauh dari kata sastra, ketika setiap hari harus berurusan dengan berbagai dokumen dan invoice sudah menyita banyak waktuku dari menulis. Tapi Futi janji deh bakal lebih sering bikin coretan.
Dari awal direkturku udah bilang kalo belajar itu ga mudah, tapi kalau serius pasti bisa deh. Awal masuk kerja masih ga ngerti sebenernya kerjaanku apaan sih, katanya work team, tapi apa hubungannya dengan teman-teman yang lebih sering menerima telepon dari customer dan mengetik email, sedangkan aku hanya menghitung uang berbentuk rupiah dan dollar.
“kerja itu ga mudah de” begitu kata ustadzhaku di bbm. Kena omel? Sering! Bikin tagihan salah? Pun sering :D

“Futy kerjainnya pelan-pelan aja, yang penting bener” kata ka Vranco saat jam makan siang bersama, saya tahu kalo cowo china itu sedang menghiburku.

“kalo Futy ngga ngerti tanya aja ke ka Puput” kata ka Putri teman perempuan satu-satunya di kantor.
“pembelajaran atau keterlaluan?” celetuk ka kristian saat jam kerja usai.

“kalo awalnya emang ga ngerti, tapi nanti lama-lama juga paham kok” kata ka sepri yang sok dewasa.
Begitu banyak warna ya dear? :D tapi saya bahagia dan bersyukur memiliki teman yang baik seperti mereka, karena teman sangat pengaruh dengan kinerja kita, yes?

Apapun lah profesinya pasti selalu ada resiko, ketika saat itu pula saya mencoba membuka sebuah obrolan dengan supir angkot di Pasar Rebo.

“Bang, susah senengnya jadi supir angkot gimana sih?”

“Ya senengnya kalo lagi banyak rejeki Neng, susahnya kalo lagi sepi, abis itu juga resikonya gede, bawa nyawa orang, bawa mobil orang pula, iya kan?”

Aku hanya mengangguk mengerti. Tapi pernah juga aku membaca sebuah buku tentang mencintai pekerjaan sendiri. Kalo kita ini memang harus mencintai pekerjaan sendiri, kalau tidak maka akan ada banyak orang yang siap menggantikan posisi kita. Bekerjalah dengan hati, niatkan ibadah maka hasil keringan kita tak hanya berbuah materi tapi juga menambah timbangan amal kita diakhirat, Aamiin.

Dari sini pula aku belajar banyak hal yang dulu tak kudapatkan saat di bangku sekolah. Salah satunya teliti! Soalnya dalam dunia kerja itu ga pernah pandang bulu, mau kita bisa ngga bisa pokoknya harus bisa, suka ga suka pokoknya harus bisa, kerjaan beres. Kalo ngetik sampe titik koma spasi pun harus diperhatikan, soalnya kalo salah customer suka ga mau nerima invoicenya. Kalo dulu waktu sekolah, salah dikit dimaklumin lah ya....atau kalo guru yang killerpun paling juga Cuma dapet nilai jelek, tapi kalo di dunia kerja, pasti dapet teguran deh. Dan lagi satu hal yang sewaktu sekolah dulu sering diabaikan. Kalo guru bilang, siapa yang mau tanya? Pasti semua diem :D. Nyesel kalo udah gini, kesempatan yang ada dibuang, padahal kalo di dunia kerja harus bawel dan banyak tanya, apapun itu. So, yang lagi sekolah harus bener-bener memanfaatkan kesempatan yang ada ya, jangan sepelekan kesalahan sekecil apapun, karena kesalahan kecil akan membuat kita lalai dan menimbulkan kesalahan besar, padahal kalo di dunia kerja dituntut untuk perfect segala sesuatunya. Itu juga motivasiku di masa yang akan datang.

Itu sekedar gambaran pekerjaan di kantor, sekarang peri mau mengajak kalian menilik situasi diluar. Kalian yang tinggal di luar jakarta pernah ga sih ngebayangin gimana rasanya tinggal di kota sempit yang banyak penduduk ini? Bahkan jalanan yang udah segitu lebarnya ga cukup untuk dilaluli ribuan kendaraan, bahkan ada yang dengan egoisnya dijalan sesempit itu menggunakan mobil pribadi yang hanya ditumpangi si ‘sopir’ saja terutama di jalan raya bogor.

Terkadang penat saat menghabiskan waktu hingga satu jam setengan diangkutan umum, dan mungkin bagi sebagian orang menjumpai pengamen yang menambah kebisingan semakin membuat kepala ingin meledak, tapi.... bagi saya pribadi kehadiran pengamen jalanan di tengah kemacetan menjadi hiburan tersendiri dan juga sebagai cerminan cara kita untuk bersyukur. Kebanyakan mereka membawa gitar atau bahkan sekedar bertepuk-tepuk tangan sambil melantunkan lagu. Tapi suatu hari saya jumpai pengamen yang lain dari yang lain. kali ini dia membawa sebuah biola, sebuah nada mellow pun mengalun dari gesekan alat musiknya. Hingga tak kusadari air mataku jatuh. Entah apalah yang sedang kupikirkan, tapi berdosa rasanya kalau aku tak menyisihkan uangku sedangkan aku ikut menikmati permainan biolanya. Sayang, bakat sebagus itu hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang bermuka masam penuh peluh yang sedang kelelahan dengan perkerjaan sehari.

Oh dear, tapi hidup itu pilihan, bahagia itu ada di hati bukan tempat di sekitar kita, kemanapun kaupergi tak akan kau temui kebahagiaan itu selain dalam hatimu. Saat aku memiliki dunia yang begitu meriah dan penuh cahaya lampion di malam hari, melewati jalanan ramai itu, gedung bertingkat, mal besar, namun aku merasa sendiri. Hatiku masih tertinggal di sebuah kota yang selalu mengingatkanku pada kalian, sahabat pelangi seperti ‘sebiru hati ini’