Senin, 27 Januari 2014

Surat Untuk Malaikat Kecilku



Dear Calon Anakku Tercinta
Assalamu’alaikum wr.wb.
                Wahai calon anakku yang dirahmati Alloh, apa kabar engkau di sana? aku selalu merindukan kehadiranmu di sini nak! Semoga engkau selalu bahagia di sana, aku selalu mendoakan, tak lupa juga sampaikan salam rindu pada Robb seluruh alam yang telah menciptakan kita, serta sholawat kepada nabi junjungan kita, Muhammad SAW.
                Terkadang saat ku terdiam di tengan malam yang gelap, aku bertanya sedang apakah engkau di sana? Dalam anganku kau sedang terbang dengan gembiranya di taman-taman surga yang begitu indah, sama seperti dulu aku juga melakukannya. Nikmatilah saat-saat itu, karena ketika Alloh mempertemukan kita suatu hari nanti, maka kau akan lupa dengan apa yang sedang kau rasakan sekarang. Kau tak dapat mengingat segala nikmat yang Alloh berikan untukmu saat ini. Sepertiku, aku pun lupa, kapan tepatnya aku terbang dan bersenang-senang di taman surga sana.
                Tahukah engkau nikmat apa yang selalu ku syukuri hingga saat ini? Yaitu nikmat iman. Dengan segala keterbatasanku, aku masih bisa merasakannya di tengan-tengan dunia—yang orang katakan—amat kejam. Aku berharap saat hari itu tiba, hari kelahiranmu, engkau pun masih bisa merasakan nikmat itu.
                Baiklah, biarkan aku menyampaikan untaian kata melalui sepucuk surat ini, meskipun kau tak tahu bahwa aku adalah calon ibumu di masa yang akan datang. Tahukah kau, bahwa hidup, mati, jodoh, rizki, dan takdir telah digariskan oleh Alloh 50 ribu tahun sebelum engkau dilahirkan. Jika menurut perhitungan manusia, maka jalan hidupmu telah tergores oleh tinta yang sudah mengering serta terbingkai rapi di lauhul mahfuz, maka di sana pun telah tertulis jelas bahwa aku adalah wanita yang akan melahirkan dan menjadi ibumu di dunia ini. Aku berharap engkau takkan memungkiri takdir itu, meski kau lahir dari rahim seorang wanita biasa, wanita yang tak punya banyak keistimewaan, tapi tetaplah bersyukur, karena apa? Karena aku adalah wanita yang akan merawatmu dengan tanganku sendiri dan membekalimu dengan ilmu agar kau tak tersesat dalam mengarungi ‘dunia lepas’ ini. Karena aku adalah wanita yang akan mendidikmu dengan sebaik-baiknya didikan, agar engkau tumbuh menjadi insan yang beriman dan berakhlak mulia, aamiin.
                Wahai calon anakku tercinta, tersenyumlah engaku saat ini bersama kekasihmu. Karena tak lama lagi engkau akan berpisah dengan-Nya dan saat itu pula kau dipertemukan denganku. Saat itu tiba maka izinkan aku membelaimu dengan penuh kasih, dengan penuh cinta seperti saat Alloh membelaimu di surga.
                Baiklah akan kuberi tahu dari sekarang, tugas apa saja yang akan manusia emban ketika ia lahir ke dunia ini, agar kau tak bingung saat hari itu tiba. Pertama adalah menjadi abdi Alloh, maka kau harus patuh terhadap segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kedua, menjadi kholifah atau pemimpin. Maka mulailah dari memimpin dirimu sendiri, kemudian setelah kau mampu menguasai dirimu sendiri, barulah menguasai orang lain, atau bahasa lainnya jadilah pemimpin bagi mereka, pemimpin besar yang arif dan bijaksana.
                Tak banyak yang dapat kusampaikan dalam selembar surat yang semu ini, karena kasih sayang seorang ibu untuk anaknya tak dapat tergores sempurna hanya di atas selembar kertas. Selamat datang di dunia kita, ku selalu merindukanmu.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Jumat, 24 Januari 2014

Peran Seorang Ibu



Assalamu’alaikum wr wb
Bismillahirrahmanirrahiim
            Di sore hari penuh pesona. Rintik hujan masih mengiringi panggilan sang pemikat syurga, semoga antum sudah melaksanakan sholat. Sembari menyisihkan waktu aku mau sedikit berbagi cerita.
            Sempet ketawa geli juga pas suatu hari ibuku cerita tentang enam anak yang kepergok nyolong ikan di kolam tengah sawah milik tetangga sebelah. Opps!! Tapi sempet miris juga, soalnya keenam anak itu umurnya masih di bawah 10 tahun. Terus lagi kata ibuku beberapa hari yang lalu memergoki anak-anak itu nyuri buah kedondong milik tetangga depan rumah. Mungkin emang sepele karena yang dicuri Cuma kedondong ataupun ikan, tapi sadar gak sih kalau perbuatan seperti itu gak pantes dilakuin anak sekecil mereka?
            Kenapa aku sempet ketawa geli di saat aku sendiri juga merasa miris. Karena setiap kali mereka ketahuan pasti bakal lari dan nyari seribu jurus buat kabur, itu artinya mereka masih punya rasa takut, meskipun baru sebatas terhadap manusia.  Hal itu akan sangat berdampak pada proses pembentukan karakter mereka sendiri. Wong kecilnya saja sudah suka nyuri, gimana gedenya? Na’udzubillahimindzalik.
            Terus lagi, pernah suatu sore sesudah sholat magrib ibuku pulang langsung komplain gara-gara anak-anak itu sempat membuat gaduh dan membuyarkan kekhusyu’an jamaah yang lagi menunaikan sholat magrib. Pake adegan berantem lah, nangis lah, pecicilan lah, tapi cerdiknya mereka ya itu, pake seribu jurus buat kabur begitu sholat selesai. Sampai pernah suatu hari tetangga yang bener-bener udah ngrasa dongkol benget ngejar tuh anak sampe depan rumah pak RT yang jaraknya cukup jauh. Fiuh, bisa kebayang gak sih? Padahal udah bolak-balik ibu-ibu, bapak-bapak ngomongin anak-anak itu, mulai dengan cara pelan sampe katakanlah ngebentak, tapi sama sekali gak mempan, bahkan mereka cenderung melawan. Ibuku sampe bingung harus bagaimana cara menghadapi mereka. Dan mirisnya lagi sebagian orang tua mereka hanya memaklumi.
            Ketika ibu aku cerita demikian, aku dengan entengnya menjawab, harusnya dididiknya dari kecil, ibuku menjawab lagi, kalo mereka juga anak kecil, mereka belum cukup gede. Oops!! Kalah satu skor :D. Hech, aku coba berfikir sejenak. Bukankah seharusnya seorang anak dididik dari mulai anak itu masih berada di dalam kandungan. Orang tua juga harus introspeksi diri, karena selamanya tindakan seorang anak bukan semata-mata karena kesalahan anak itu sendiri (ini bukan modus loh).
            Istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu bukan hanya sekedar opini belaka, tapi sebuah aksioma. Ketika seorang anak masih berada dalam kandungan, sebenarnya ia mampu menangkap dan memahami reaksi dari lingkungan di sekitarnya, terutama apa yang dirasakan oleh si ibu. Jadi segala sesuatu, pikiran, tindakan yang ibu lakukan akan sangat mempengaruhi kepribadian anak. Itu mengapa ibu hamil dianjurkan untuk selalu berpikir positif.
            Jika sebuah teori mengatakan bahwa seorang bayi yang masih berada di dalam kandungan akan memiliki budi pekerti yang halus jika rutin diperdengarkan musik klasik. Namun jika menurutku musik klasik itu diganti dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an insya Alloh akan menjadi anak yang sholeh/sholehah dan cerdas. Aamiin.
            Lalu jika kita mengaitkan dengan fenomena di atas, bisa ditarik kesimpulan. Bisa jadi karena orang tua, bisa jadi karena lingkungan, namun jika ditinjau dari segi lingkungan, bisa di katakana bahwa Pengampiran (saya berbicara lingkungan sendiri) merupakan sebuah desa yang terkenal santri-santrinya yang ‘alim atau orang yang taat beribadah (meskipun arti sebenarnya adalah orang yang berilmu) menurutku cukup baik (meskipun sekarang sudah jarang santri-santrinya).
            Dari pemaparan di atas bukan berarti aku nuduh itu adalah kesalahan orang tua 100% tapi bisa jadi karena pengaruh lingkungan yang lebih luas, seperti contohnya tontonan harian mereka juga sangat berpengaruh.
            Kembali lagi ke persoalan bayi dalam kandungan (maaf kalo tulisannya agak gaje :D). ketika aku memaparkan kebiasaan para ibu yang masih gak ngerti juga perihal pantangan yang digembor-gemborkan orang jaman dulu. Mungkin mereka menganggap itu hanya sebuah teori kuno yang udah gak klop buat di pasang di jaman modern kayak sekarang ini. Itu kan kata mereka orang jaman dulu, kita kan laen, kita kan orang jaman sekarang, jadi beda dong! Mungkin begitu salah satunya cara mereka berdalih.
            Ketika aku mengajukan beberapa pertanyaan. Apa yang sering ibu lakukan saat hamil? Apa yang mereka dengar? Apa yang mereka tonton? Dan apa yang mereka pikirkan dan rasakan? Dari situ ibuku setuju denganku. Akibat dari dekadensi yang berimbas pada peradaban generasi selanjutnya.
            So, bagi para ibu, selalu ingat! Peradaban dunia di masa yang akan datang ada di tangan kalian. Dari tangan kalian pula seorang anak akan tumbuh, menjadi sosok seperti apakah mereka, itu sangat di pengaruhi peran seorang ibu. Mendidik mereka sejak dalam kandungan, kemudian melindungi, menaungi, mengasihi, dari mulai sejak dalam kandungan, kemudian saat anak itu lahir ke dunia dari mulai balita hingga dewasa, peran seorang ibu tak akan pernah bisa lepas.
            Sebagai seorang perempuan (calon ibu) aku pun berharap akan lahir seorang anak dari rahimku, seorang anak yang soleh, berbudi pekerti luhur, cerdas dan tentunya bisa menjadi kholifah di muka bumi ini. Serta satu hal yang kucita-citakan adalah memiliki seorang anak yang mencintai Alloh dan Rasulnya, mampu bersahabat baik dengan Al-Qur’an. Hafidz dan hafidzah. Mohon di Aamiin-I J
            Untuk ibuku tercinta, terimakasih telah menjadi ibu yang terbaik bagiku, menjadi orang yang paling berharga bagiku, menjadi orang yang paling mengerti denganku. Karena jasa-jasanya aku ada di dunia ini, aku mampu tumbuh menjadi seorang gadis. Terimakasih untuk setiap doa yang dipanjatkan untukkku. Terimaksih telah mendidikku dengan sangat baik, meskipun aku belum sepenuhnya bisa menjadi sosok yang diharapkan ibuku. Maafkan aku karena masih terlalu sering membuat ibu khawatir, tapi percayalah bahwa apa yang kulakukan adalah demi kebaikan dan berjuang di jalan Alloh. Serta tak lupa juga terimakasih telah berbagi ‘cantik’ denganku J juga terimakasih karena telah menyayangiku lebih dari yang lain (bukannya pilih kasih loh). Ibuku adalah figure yang baik, dari beliau aku belajar banyak hal. Semoga Alloh selalu melindungi, mengasihi, menyayangi, dan merahmati ibuku tercinta. Aamiin.
            Jika banyak sekali terdapat kesalahan pada tulisan di atas, mohon dimaklumi, karena aku hanyalah seorang gadis berusia 17 tahun, seorang gadis yang baru tumbuh dan baru mulai untuk belajar. Seorang gadis yang belum pernah merasakan menjadi seorang ibu, namun bisa merasakan betapa berharga atas kehadirannya.
            Sampai jumpa di kemudian hari J
Wassalamu’alaikum wr wb
           

Rabu, 22 Januari 2014

Sebuah Kata Hati



Separuh Malam
 By : Futyta

Bahkan aku masih seperti dulu
Tak sedetik pun menutup kelopak mataku
Terkapar hati yang merindu
Dikala kau tepis wajah penuh sarat
Angin melambai mengikis hati
Aku masih termangu menunggu
Di mana kesadaranmu
Kesederhanaan senyum sirna termakan ego
Sapa setepis hanya melapis
Jenggah sudah detakan jarum mengikis waktu
Tak elakkan
Jemariku mulai membeku
Tubuhku telah kaku
Dan hatiku sudah tersapu
Memang insan tercipta untuk berusaha
Usahaku kini telah mencapai pucuk
Namun yang kutemui
Hanya sebuah ketiadaan
Kegelapan menerpa setiap sudut kerinduan
Lihatlah
Bulan sabit menangis parau
Gugusan bintang terkapar sakit
Dan semburat pekat membungkus langit
Jiwaku kacau
Didihan air mata mulai melahar
Hingga waktu menggerogoti separuh malam
Birumu tak juga berkelibat
Bahkan hingga fajar merobek sepertiga malam
Sungguh penantianku sia-sia
Kasih 

Created By
Siti Futikhaturohmah & Sagita Maharani 

 Sebuah memory di bulan Januari, ketika malam itu sedesir angin yang membeku menjadi selimut hangat di penantianku.