Dear Calon Anakku Tercinta
Assalamu’alaikum wr.wb.
Wahai
calon anakku yang dirahmati Alloh, apa kabar engkau di sana? aku selalu
merindukan kehadiranmu di sini nak! Semoga engkau selalu bahagia di sana, aku
selalu mendoakan, tak lupa juga sampaikan salam rindu pada Robb seluruh alam
yang telah menciptakan kita, serta sholawat kepada nabi junjungan kita,
Muhammad SAW.
Terkadang
saat ku terdiam di tengan malam yang gelap, aku bertanya sedang apakah engkau
di sana? Dalam anganku kau sedang terbang dengan gembiranya di taman-taman
surga yang begitu indah, sama seperti dulu aku juga melakukannya. Nikmatilah
saat-saat itu, karena ketika Alloh mempertemukan kita suatu hari nanti, maka
kau akan lupa dengan apa yang sedang kau rasakan sekarang. Kau tak dapat mengingat
segala nikmat yang Alloh berikan untukmu saat ini. Sepertiku, aku pun lupa,
kapan tepatnya aku terbang dan bersenang-senang di taman surga sana.
Tahukah
engkau nikmat apa yang selalu ku syukuri hingga saat ini? Yaitu nikmat iman.
Dengan segala keterbatasanku, aku masih bisa merasakannya di tengan-tengan
dunia—yang orang katakan—amat kejam. Aku berharap saat hari itu tiba, hari
kelahiranmu, engkau pun masih bisa merasakan nikmat itu.
Baiklah,
biarkan aku menyampaikan untaian kata melalui sepucuk surat ini, meskipun kau
tak tahu bahwa aku adalah calon ibumu di masa yang akan datang. Tahukah kau,
bahwa hidup, mati, jodoh, rizki, dan takdir telah digariskan oleh Alloh 50
ribu tahun sebelum engkau dilahirkan. Jika menurut perhitungan manusia, maka jalan
hidupmu telah tergores oleh tinta yang sudah mengering serta terbingkai rapi di
lauhul mahfuz, maka di sana pun telah tertulis jelas bahwa aku adalah wanita
yang akan melahirkan dan menjadi ibumu di dunia ini. Aku berharap engkau takkan
memungkiri takdir itu, meski kau lahir dari rahim seorang wanita biasa, wanita
yang tak punya banyak keistimewaan, tapi tetaplah bersyukur, karena apa? Karena
aku adalah wanita yang akan merawatmu dengan tanganku sendiri dan membekalimu
dengan ilmu agar kau tak tersesat dalam mengarungi ‘dunia lepas’ ini. Karena
aku adalah wanita yang akan mendidikmu dengan sebaik-baiknya didikan, agar engkau
tumbuh menjadi insan yang beriman dan berakhlak mulia, aamiin.
Wahai
calon anakku tercinta, tersenyumlah engaku saat ini bersama kekasihmu. Karena
tak lama lagi engkau akan berpisah dengan-Nya dan saat itu pula kau
dipertemukan denganku. Saat itu tiba maka izinkan aku membelaimu dengan penuh
kasih, dengan penuh cinta seperti saat Alloh membelaimu di surga.
Baiklah
akan kuberi tahu dari sekarang, tugas apa saja yang akan manusia emban ketika
ia lahir ke dunia ini, agar kau tak bingung saat hari itu tiba. Pertama adalah
menjadi abdi Alloh, maka kau harus patuh terhadap segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya. Kedua, menjadi kholifah atau pemimpin. Maka mulailah
dari memimpin dirimu sendiri, kemudian setelah kau mampu menguasai dirimu
sendiri, barulah menguasai orang lain, atau bahasa lainnya jadilah pemimpin bagi
mereka, pemimpin besar yang arif dan bijaksana.
Tak
banyak yang dapat kusampaikan dalam selembar surat yang semu ini, karena kasih
sayang seorang ibu untuk anaknya tak dapat tergores sempurna hanya di atas
selembar kertas. Selamat datang di dunia kita, ku selalu merindukanmu.
Wassalamu’alaikum wr.wb.