Assalamu’alaikum wr
wb
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Kutulis baik demi
bait kata ini teruntuk hati yang selalu merindukanku dalam diam. Yang selalu
menyimpan rasa sayang di balik kenakalan. Yang menumapahkan air mata
dihadapanku sedang selalu menyamarkannya dengan tawa di hadapan orang lain.
Teruntuk lisan yang sering kali menanyakan kepulanganku, merindukan saat-saat
kita liqo bersama.
Wahai kau calon
bidadari surga, wanita solehah yang pernah kukenal. Saat kasih-Nya berkehendak
kita tak bertemu lagi di dunia ini, namun selalu kualirkan doa di sela-sela air
mata yang mengalir membuncah deras di pipiku agar kita bisa bertemu di tempat
terindah yang belum pernah kita kunjungi bersama. Aku tak hanya menumpahkan
derai air mata ini namun juga meruntuhkan segala penyesalan karena tak bisa
mengantarmu ke tempat peristirahatan yang terakhir.
Dear, Metria Dias
Anggraeni betapa ku tahu beratnya kehidupan yang kau jalani selama ini. Betapa
aku tahu bawha kau mempunyai mimpi yang sama denganku. Kita banyak merencanakan
akan mengurus SBMPTN bersama, kuliah di Jogja bersama, kita bisa liqo bersama.
Tapi kita hanya manusia yang hanya bisa berencana dan Alloh yang menentukan.
Dear, kita tahu
bahwa angin selalu bergerak membawa udara yang kita hirup dari satu tempat ke
tempat yang lain. Dan saat kita dalam satu tempat yang sama lebih memungkinkan
untuk kita menghirup udara yang sama, namun saat kita dipisahkan oleh jarak pun
tidak menutup kemungkinan kita menghirup udara yang sama, bukankah karena kita
memiliki mimpi yang sama yang akan mempertemukan kita suatu saat nanti? Betapa
kita tahu bahwa hidup ini begitu dinamis di mana segala sesuatunya selalu
berubah seperti aku yang merasa sangat asing di tempat ini, namun selalu
familiar denganmu yang jauh di sana.
Kamu selalu duduk
di samping aku untuk memintaku bercerita tentang wanita-wanita hebat di zaman
Rasululloh. Dan betapa aku tahu bahwa kamu sangat ingin seperti mereka. Kamu
bilang kamu ingin berjilbab yang syar’i, karena terlihat lebih teduh dan
anggun. Saat itu masih kuingat pertama kalinya kau memakai jilbab dengan begitu
anggun dan memintaku mengambil gambarmu dengan kamera ponselku. Oh dear, kalau
kau tahu betapa aku sangat bahagia saat itu dan aku berharap kau seterusnya
seperti itu.
Saat aku hendak
pergi kamu adalah orang yang paling menentangku dengan keputusanku dengan
caramu sendiri, kau juga yang saat itu terus memotivasiku untuk fokus pada
ujian yang akan kita tempuh nanti, dan kau juga yang selalu menanyakan
kepulanganku, menanyakan kapan kita bisa belajar dan liqo bersama. Kamu yang
merindukanku padahal kau tak pernah mengatakannya padaku. Betapa tidak derasnya
air mataku saat aku tahu bahwa kau merindukanku dan menginginkan agar aku
pulang. Betapa tidak remuknya perasaanku saat aku tak bisa memenuhi keinginanmu
padaku yang terakhir kalinya. Dear, kau tahu betapa kerasnya hidup ini hingga
kita lebih banyak menangis ketimbang tertawa, lebih sering berpisah dari pada
bersama, tapi yakinlah sahabat bahwa semua ini adalah bagian dari ikhtiarku
untuk menggapai mimpi” yang selalu kita dendangkan bersama.
Saat itu aku sudah
menyadari tentang ikatan kita, saat aku hendak pergi kau memintaku untuk datang
ke rumahmu, tapi karena keterbatasan waktuku hingga kau yang datang ke rumahku.
Tak kusangka kau memberiku hadiah sebuah jilbab, padahal aku sendiri tidak
pernah memberimu hadiah apa-apa. Aku tak pernah menyangka bahwa pertemuan itu
adalah yang terakhir kalinya bagi kita.
Kata terakhir kita
saat hari jumat sebelum hari ahad kepergianmu, aku mengirimmu salam, dan kau
pun membalas salamku, sayang aku membacanya saat siang sesuadah malam
kepergianmu. Saat aku tanyakan bagaimana kabarmu aku baru menyadari bahwa
pesanku tak akan kau balas lagi. Aku hanya berharap kau mendengar suara hatiku
dan kau mau membalas pesanku, kau sendiri.
Satu hal yang
menjadi alasanku untuk kembali menyalakan semangatku yang hampir redup, aku
berjanji kawan akan belajar keras untuk mewujudkan mimpi yang pernah kita
tuliskan bersama.
Satu kata terakhir,
semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan kita bisa bertemu suatu
saat nanti dalam keadaan bahagia. Kau adalah wanita hebat, aku kan selalu
mengukir namamu dalam hatiku sebagai motivasiku dalam menggapai mimpi.
Metria, 1 maret
2015
Wassalamu’alaikum
wr wb
