Senin, 02 Maret 2015

Surat Terakhir Untuk Sahabatku

Assalamu’alaikum wr wb
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Kutulis baik demi bait kata ini teruntuk hati yang selalu merindukanku dalam diam. Yang selalu menyimpan rasa sayang di balik kenakalan. Yang menumapahkan air mata dihadapanku sedang selalu menyamarkannya dengan tawa di hadapan orang lain. Teruntuk lisan yang sering kali menanyakan kepulanganku, merindukan saat-saat kita liqo bersama.
Wahai kau calon bidadari surga, wanita solehah yang pernah kukenal. Saat kasih-Nya berkehendak kita tak bertemu lagi di dunia ini, namun selalu kualirkan doa di sela-sela air mata yang mengalir membuncah deras di pipiku agar kita bisa bertemu di tempat terindah yang belum pernah kita kunjungi bersama. Aku tak hanya menumpahkan derai air mata ini namun juga meruntuhkan segala penyesalan karena tak bisa mengantarmu ke tempat peristirahatan yang terakhir.
Dear, Metria Dias Anggraeni betapa ku tahu beratnya kehidupan yang kau jalani selama ini. Betapa aku tahu bawha kau mempunyai mimpi yang sama denganku. Kita banyak merencanakan akan mengurus SBMPTN bersama, kuliah di Jogja bersama, kita bisa liqo bersama. Tapi kita hanya manusia yang hanya bisa berencana dan Alloh yang menentukan.
Dear, kita tahu bahwa angin selalu bergerak membawa udara yang kita hirup dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan saat kita dalam satu tempat yang sama lebih memungkinkan untuk kita menghirup udara yang sama, namun saat kita dipisahkan oleh jarak pun tidak menutup kemungkinan kita menghirup udara yang sama, bukankah karena kita memiliki mimpi yang sama yang akan mempertemukan kita suatu saat nanti? Betapa kita tahu bahwa hidup ini begitu dinamis di mana segala sesuatunya selalu berubah seperti aku yang merasa sangat asing di tempat ini, namun selalu familiar denganmu yang jauh di sana.
Kamu selalu duduk di samping aku untuk memintaku bercerita tentang wanita-wanita hebat di zaman Rasululloh. Dan betapa aku tahu bahwa kamu sangat ingin seperti mereka. Kamu bilang kamu ingin berjilbab yang syar’i, karena terlihat lebih teduh dan anggun. Saat itu masih kuingat pertama kalinya kau memakai jilbab dengan begitu anggun dan memintaku mengambil gambarmu dengan kamera ponselku. Oh dear, kalau kau tahu betapa aku sangat bahagia saat itu dan aku berharap kau seterusnya seperti itu.
Saat aku hendak pergi kamu adalah orang yang paling menentangku dengan keputusanku dengan caramu sendiri, kau juga yang saat itu terus memotivasiku untuk fokus pada ujian yang akan kita tempuh nanti, dan kau juga yang selalu menanyakan kepulanganku, menanyakan kapan kita bisa belajar dan liqo bersama. Kamu yang merindukanku padahal kau tak pernah mengatakannya padaku. Betapa tidak derasnya air mataku saat aku tahu bahwa kau merindukanku dan menginginkan agar aku pulang. Betapa tidak remuknya perasaanku saat aku tak bisa memenuhi keinginanmu padaku yang terakhir kalinya. Dear, kau tahu betapa kerasnya hidup ini hingga kita lebih banyak menangis ketimbang tertawa, lebih sering berpisah dari pada bersama, tapi yakinlah sahabat bahwa semua ini adalah bagian dari ikhtiarku untuk menggapai mimpi” yang selalu kita dendangkan bersama.
Saat itu aku sudah menyadari tentang ikatan kita, saat aku hendak pergi kau memintaku untuk datang ke rumahmu, tapi karena keterbatasan waktuku hingga kau yang datang ke rumahku. Tak kusangka kau memberiku hadiah sebuah jilbab, padahal aku sendiri tidak pernah memberimu hadiah apa-apa. Aku tak pernah menyangka bahwa pertemuan itu adalah yang terakhir kalinya bagi kita.
Kata terakhir kita saat hari jumat sebelum hari ahad kepergianmu, aku mengirimmu salam, dan kau pun membalas salamku, sayang aku membacanya saat siang sesuadah malam kepergianmu. Saat aku tanyakan bagaimana kabarmu aku baru menyadari bahwa pesanku tak akan kau balas lagi. Aku hanya berharap kau mendengar suara hatiku dan kau mau membalas pesanku, kau sendiri.
Satu hal yang menjadi alasanku untuk kembali menyalakan semangatku yang hampir redup, aku berjanji kawan akan belajar keras untuk mewujudkan mimpi yang pernah kita tuliskan bersama.
Satu kata terakhir, semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan kita bisa bertemu suatu saat nanti dalam keadaan bahagia. Kau adalah wanita hebat, aku kan selalu mengukir namamu dalam hatiku sebagai motivasiku dalam menggapai mimpi.
Metria, 1 maret 2015

Wassalamu’alaikum wr wb