Bismillahirrahmaanirrahiim...
Bukankah ini pagi
Yang katanya menawarkan aroma semangat baru
dan embun yang masih bergelantungan diujung dedaunan
tik tok
"yaampun udah jam segini!!" teriak sebuah suara dari luar pintu kamarku
mungkin ingin tertawa. begitulah pagi, ia sangat singkat dan menawan.
kamu akan kehilangan momennya jika sibuk meringkuk di atas kasur dan tidak menau tentang matahari yang baru saja naik.
saya masih terngiang kejadian semalam, dan berakhir dengan pesan terakhir pagi ini. sebelum terlelap saya mendapat balasan chat dari seorang teman yang baru saja menjadi ketua kelompok di KKN. setelah basa basi ngalor ngidul, kenapa e dia jadi ketua? emang cowoknya pada kemana?
setelah beberapa menit, tiba-tiba dia mengatakan ada pertanyaan yang mmebuatnya tidak begitu nyaman. pagi harinya ia mengirim link blog xxx yang isinya tentang kajian seputar perempuan dan pemimpin. beberapa menit kemudian saya menarik nafas, ya saya paham apa yang membuatnya tidak nyaman.
nah, selanjutnya kita akan berbicara tentang perempuan dan pemimpin. kasus diatas hanya sekedar contoh kecil dengan skala yang sempit. tapi kita akan membahas seputar pemimpin dalam ranah dan kontek yang lebih general.
soal wanita menjadi pemimpin, memang maasih terdapat banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama (saya tidak akan mengkaji pendapatnya), tentu hal ini memiliki alasan tersendiri mengapa sebagian pro jika perempuan dijadikan pemimpin, dan mengapa sebagian yang lain kontra. hal ini didasarkan pada sumber di dalam Al Qur'an dan Hadits yang menjelaskan bahwa laki-laki ditetapkan sebagai pemimpin perempuan
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisaa’: 34)
selain itu juga hadits dibawah ini menjelaskan bahwa
“Diriwayatkan dari Abu Bakrah, katanya: Tatkala sampai berita
kepada Rasulullah bahwa orang-orang Persia mengangkat raja puteri
Kaisar, Beliau bersabda: Tidak akan pernah beruntung keadaan suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada seorang perempuan.” (HR. Bukhari, Turmudzi dan An-Nasa’i).
“Dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak wanita.” (QS. Ali Imran: 36)
tentu dalam sebuah ayat atau hadits memmiliki pemaknaan yang berbeda-beda. rujukan di atas cukup untuk ditarik kesimpulan bahwa perempuan tidak boleh dijadikan pemimpin atas laki-laki?
llau bagaimana dengan seorang Aisyah istri Rasululloh yang mana ia adalah seorang perawi hadits dan banyak dimintai rujukan?
atau ratu Balqis yang kekuasannya dalam memimpin kerajaannya hampir menyaingi kerajaan nabi Sulaiman?
bagaimana dengan figur-figur perempuan muslim terdahulu yang juga memimpin?
Ratu Balqis? ia memimpin jauh sebelum mengenal islam, setelah menikah dengan nabi Sulaiman otomatis yang menjadi pemimpin adalah Nabi Sulaiman.
benar, Rasululloh juga mengajak para perempuan untuk berperang, akan tetapi tugasnya adalah memberikan pengobatan terhadap pasukan perang yang mengalami luka. Ratu Balqis?
lalu bagaimana jika ada perempuan cerdas, berkapasitas, pandai berstrategi harus tersingkir oleh laki-laki yang memiliki kapasitas dibawahnya?
ada banyak perempuan cerdas, berkapasitas di dunia ini, bahkan ia jauh lebih hebat ketika memipin. bahkan secara kinerja. akan tetapi kita juga tidak boleh melupkan sifat mendasar perempuan yaitu rasa ingin dipuji, mudah baper, mudah futur! mengapa mudah futur? hal ini juga berkaitan dengan kondisi psikologi perempuan.
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita) (QS An-Nisaa’:34).
kembali ke ayat di atas. Alloh telah menjanjikan bahwa laki-laki dilebihkan atas perempuan. salah satu hal yang paling saya rasakan adalah momen menjelang tamu bulanan. bagimana hormon naik, baperan, gampang tersinggung, sedih yang tidak tahu penyebabnya, terlebih membangkitkan ghiroh beribadah pra dan pasca bulanan.
terus gimana dong?
percayalah bahwa perempuan cerdan dan berkapasitas itu tidak akan sia-sia hidup di atas muka bumi ini. mereka juga diperlukan, bahkan sangat diperlukan. kaarena ia memiliki porsinya sendiri, tapi saya rasa tidak harus menjadi pemimpin yang menduduki jabatan puncak. ia akan menjadi parter yang baik bagi seorang laki-laki yang menjadi pemimpin. salah satunya dengan karakter perempuan yang memiliki kelebihan secara verbal, ia bisa menjadi remainder yang handal bagi kaum laki-laki.
meskipun, dulu saya juga pernah protes sama ibu saya, mengapa perempuan ga boleh jadi presiden? kan kita sama-sama manusia. banyak kok perempuan yang lebih keren dari laki-laki. ibu saya tidak pernah menjelaskan mengapa, tapi pada akhirnya saya paham bahwa ada sifat-sifat perempuan yang tidak appropriate atau mendukung kinerja-kinerja seorang pemimpin.
terus pendapat saya tentang wanita yang menjadi pemimpin?
kalo memang benar-benar tidak ada laki-laki yang bisa dijadikan pemimpin, maka perempuan harus maju. meskipun itu sulit, bahwan untuk mengambil keputusan saat kondisi futur itu sangat sulit, padahal para jundi sudah mendesak, lalu bagimana pandai-pandainya saya menstabilkan emosi terlebih dahulu.
kalo ditanya, kamu lebih suka jadi presiden atau istri presiden?
saya dengan lantang akan berkata, "istri presiden"
saya suka menjadi dominan, tapi bukan dengan cara berdiri di garda terdepan, melainkan dengan berdiri kokoh di belakang seorang laki-laki.
kenapa? seorang pemimpin yang hebat tidak akan pernah lepas dari peran perempuan-perempuan hebat di belakangnya. (sambil tersenyum angkuh)
*tulisan di atas just personal opinion, tidak ada kajian khusus, jadi jangan dijadikan rujukan, nnati sesat!
Rabu, 23 Mei 2018
Langganan:
Postingan (Atom)