Assalamu’alaikum wr wb
Senin, 21 januari 2015 ketika sosok aku baru
merambah kota metropolitan ini beberapa hari, di kota yang terkenal dengan
kemacetannya Cijantung, Jaktim. Si peri pemilik pena berwarna pink ini sengaja
hijrah setelah lulus belajar bahasa inggris,meninggalkan orang tua, kampung
halaman dan jejak-jejak mimpi yang telah diukir di sana selama 18 tahun.
Aku, si peri pemilik pena berwarna pink ingin
menjalani hidup yang lain, hijrah ke kota ini semata-mata ingin sesuatu yang
baru, menjemput rizki Alloh kemudian melanjutkan studi. Beruntung aku memiliki
banyak saudara di sini. Dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Selagi
belajar mengenal kota ini aku selalu menyibukkan diriku dengan hal-hal yang
positif. Kakak perempuanku adalah seorang ibu rumah tangga yang juga aktif
mengikuti kajian di majlis taklim. Sudah dua kali ini aku turut serta
menghadiri majlis taklim bersama ibu-ibu yang insyaalloh sholihah.
Agenda pagi hari ini mengunjungi panti jompo
di kompleks Pondok Indah Jaksel. Dari rumah berangkat jam 9,menyusuri jalanan
yang macet dan berdebu. Di kanan kiri jalan aku melihat bangunan yang
bertingkat hingga puluhan lantai, mereka itu gedung-gedung pencakar langit
hasil karya arsitek-arsitek jenius. Bangunan yang berbentuk kubus dengan
dinding-dinding kaca yang transparan membuat setiap orang bisa menjelajahkan
pandangannya menembus ruang. Jalanan yang berliku dan naik turun menjadi ciri
khas tersendiri yang membuat takjub.
Pukul 09.45 kami tiba di tempat tujuan,kemudian
langsung di sambut oleh anak-anak PKL yang mengenakan seragam pramuka. Mereka
membawakan makanan yang kami bawa dengan sigap. Mereka, penghuni panti jompo
yang kebanyakan sudah lanjut usia dan tak bisa melakukan banyak aktivitas
layaknya kita yang masih muda dan memiliki tenaga kuat. Mereka sudah duduk rapi
di masjid dan siap mendengarkan kajian. Saya beserta ibu-ibu taklim menyalami
nenek-nenek satu persatu. Acarapun di mulai, dibuka dengan bacaan umul kitab
dan dilanjutkan dengan mengkaji al-quran. Aku, seorang yang baru pertama kali
datang ke tempat ibu langsung diberi tugas membaca al-quran. Mencelos dada ini
menyadari betapa jauhnya bacaanku dari kata fasih. Namun dengan niat yang tulus
karena Alloh aku membacanya dengan khusyuk dan kemudian di kaji oleh Bu Ustadz.
Bu ustadz, kali ini aku ingin sedikit membahas
tentang bu ustadz. Beliau seorang wanita luar biasa. Usianya sudah hampir 80
tahunan, tapi beliau orang yang cerdas dan semanagat mengkaji ilmu. Dari tahun
80an beliau sudah rajin mengunjungi panti tersebut setiap bulannya. Beliau
seorang yang sudah sepuh namun masih memiliki pendengaran dan penglihatan yang
jelas. Sahabat tahu apa rahasianya? Al-Qur’an. Ya selagi mudah hingga usianya
yang sedah senja beliau selalu menjadikan al-quran sebagai sahabatnya yang
selalu beliau baca dan lantunkan berkali-kali. Selain itu beliau juga mampu
berbahasa arab dan inggris dengan baik, subhanalloh sahabat, bisakah kita yang
perempuan menjadi seperti beliau yang hingga usia senjanya masih berbagi ilmu
dengan sesama? Semoga begitu sahabat,maka dari itu jangan sampai kita menuntut
ilmu ketika di usia muda dan meninggalkannya saat kita sudah sibuk dengan
pekerjaan kita masing-masing. Teruslah menuntut ilmu hingga ke liang lahat.
Oke, peri pink lanjut ke acara yes....
kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada seorang kakek-kakek yang
bertanya tentang kematian, caranya bertanya sungguh seperti anak usia 5 tahun
yang masih begitu polos. Memang benar, ketika usia kita sudah lanjut maka kita
akan dikembalikan ke keadaan saat kita masih kanak-kanak. Pertanyaan itu pun di
jawab oleh bu ustadz dengan baik. Begitu selanjutnya hingga acara yang terakhir
yaitu membagikan kue kecil kepada nenek-nenek dan kakek-kakek. Aku turut
membagikan kue ke kakek-kakek, mereka menerimanya dengan penuh kegembiraan dan
kesyukuran diiringi dengan ucapan terimakasih dan syukur kepada Alloh. Saat
itulah entah mengapa air mataku begitu ingin menetes menahan rasa haru. Bahkan
hingga aku menuliskan kata-kata ini aku masih meneteskan air mataku. Dua tetes
mereka jatuh ke lantai tepat di depan laptop keponakanku. Membuat penglihatanku
buram menyisakan isakan ringan.
Wajah-wajah mereka masih kuingat dengan jelas.
Beginikah rasanya berbagi dengan sesama, dengan mereka yang membutuhkan. Ada
rasa haru yang mendalam. Jika kita sering mengeluh dengan kekurangan kita,
keterbatasan kita, kekurangan kita dalam mencari rizki, kegagalan kita dalam
menggapai cita-cita cobalah tengok mereka agar kita bisa merasakan betapa
beruntungnya kita yang masih diberi kekuatan dan tempat tinggal yang nyaman.
Kebanyakan kita cenderung malas untuk menghadiri tempat semacam itu, mungkin
karena perasaan jijik atau sebagainya, tapi bagiku ini adalah pengalaman yang
sangat berharga yang akan selalu kujadikan pelajaran.
Memandang wajah-wajah mereka yang penuh dengan
ketulusan membuatku teringat dengan kedua orangtuaku di kampung yang juga sudah
sepuh.mengingatkanku pada sosok mereka yang telah berjuang untuk aku. Tangan
keriput mereka,kulit hitam mereka menjadi bukti betapa keras mereka
memperjuankanku untuk menjadi insan yang berguna untuk sesama. Oh dear,
seharusnya sekarng sudah waktunya mereka duduk manis menikmati masa tua mereka
dengan bercengkrama pada Dzat yang Maha Memberi Hidup. Itulah dear salah satu
alasanku untuk berhijrah dan menjemput rizki Alloh secara pribadi, kemudian
melanjutkan studi dan mewujudkan mimpi-mimpiku, menjadikan diriku sebagai great
woman untuk sekitarku.
Oh dear, betapa melankolisnya diriku masih tak
bisa membendung air mata ini untuk tidak meluap. Oops keponakanku memergokiku
di kamar saat aku sedang duduk bersila sambil menekan keyboard laptop dan
berlinang air mata. Dear sampai di sini dulu peri pink berbagi cerita dengan
kalian. Mungkin setelah ini peri pink akan sibuk menghapus air mata dengan
menghabiskan berlembar-lembar tisu. Semoga di kesempatan berikutnya peri pink
masih bisa menggorekan pena peri dengan cerita-cerita baru yang menjadi saksi
jejak langkahku, yang menjadi saksi bahwa seorang peri pink yang bernama Futy
pernah hidup di dunia ini dan ada di tengah-tengah mereka yang begitu aku
cintai. Sampai jumpa sahabat, see you at the next time.