Minggu, 17 April 2016

Membusuk Saja!!!



Bismillahirrahmaanirrahiim,,
 
Bahkan, aku tak pernah menyangka bahwa tempatku sekarang di sini. Posisiku sebagai seorang Mahasiswa di sebuah Universitas di Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu kutemukan begitu banyak keajaiban yang menghiasi perjalanan hidupku. Bahkan dari hal yang dirasa sangat pahitpun kemudian menuntunku kepada hal yang sama sekali tidak kupikirkan dulu. Aku hanya menganggap itu adalah sesuatu yang remeh. Sesuatu yang kujadikan sebagai pelarian setelah sesuatu yang amat ku inginkan tidak tercapai. Tapi bahkan sekarang aku menyadari bahwa ketidaksengajaan itu membawaku ke arah yang lebih baik. Di situ aku  banyak mengetahui hal-hal baru, semangat kawan-kawan. Mereka adalah orang-orang yang bersahabat sangat erat dengan yang namanya prestasi. Bahkan di situ aku merasa seolah-olah aku harus mencari sebenarnya hal apa yang bisa aku lakukan. Aku dipaksa untuk mengenali diriku sendiri.


Siang ini aku mengikuti agenda Top Excellent Training. Karena beberapa kendala membuatku datang terlambat. Yang seharusnya agenda sudah dimulai sedari kemarin, namun aku baru sampai semalam. Perjalanan yang cukup jauh serta rute yang harus kutemukan sendiri bersama teman-teman satu rombongan yang menyusul membuatku sampai di tempat tujuan hingga larut malam. Ada penyesalan saat mendengar dari teman-teman bahwa mereka telah mendapat materi-materi luar biasa dari awal. Dan aku hanya bisa mengikuti sisanya. Hingga siangnya, di materi yang terakhir, kujumpai seorang pemateri yang sangat-sangat menggugah dan membuatku tercenganag.


Dari semua itu aku menarik kesimpulan dari semua materi yang telah disampaikan bahwa kita sebagai seorang manusia tentunya memiliki potensi dan kepakarannya masing-masing. Tinggal bagaimana kita mengasahnya bahkan berusaha untuk menemukannya. Kemudian setelah kita menemukan potensi kita, maka selanjutnya kita pupuk secara intensif. Temui orang-orang hebat yang kemungkinan akan mendukung potensi kita. Setelah itu jangan lupa masukan ramuan cinta ke dalamnya agar apa yang bisa kita lakukan bukan hanya hal biasa yang kebanyakan orang memilikinya, namun juga bermanfaat bagi orang lain.


Bergerak kuncinya, jangan pernah takut untuk memulai. Biarkan saja orang mau berkata apa dengan apa yang kita lakukan, yakin saja bahwa apa yang kita lakukan akan membawa pengaruh besar bagi hidup kita. Jangan mau hanya menjadi orang biasa, sekolah, kuliah, kerja, berkeluarga, memiliki anak,  kemudian siklus itu terulang. Untuk apa ? hanya sebuah kesia-siaan seorang Mahasiswa yang datng jauh-jauh dari tanah kelahirannya kemari hanya untuk menuntut ilmu. Di luar sana banyak orang-orang seperti itu. Ibarat buih, keberadaannya hanya sebatas ada saja. Tapi ciptakanlah perjalanan hidup yang berbeda, perjalanan yang penuh dengan intrik dan perjuangan. Itu yang akan membuat kita berbeda dari yang lain. Ciptakan berbagai kisah yang akan kita banggakan di hadapan anak cucu kita agar mereka bisa belajar apa yang namanya berjuang itu dari kita.
Luar biasa bukan? Memang prosesnya melelahkan, banyak hal yang harus dikorbankan, harus mau bergerak dan bergerak, kalau tidak, membusuk saja di sana, tak ada gunanya. Itu kata-kata yang terus menerus diulang-ulang hingga meresap ke lubuk hati yang paling dalam, membusuk saja.
Ingat saja satu hal bahwa semua itu juga bagian cara untuk kita mencapai Ridho Alloh. Apa yang telah Alloh titipkan bagi kita, kita gunakan untuk berkarya, untuk berdakwah, bermanfaat bagi sesama. Bahkan itu lebih baik. 




Lebih baik tubuh ini hancur dalam bergerak, ketimbang tidak brmanfaat sama sekali (Tomy Syafarsyah, Ex Ketua BEM Rema UNY)

Kamis, 14 April 2016

Serpihan Hidup yang Baru Ditemukan






Bismillahirrahmaanirrahiim,,

Terkadang aku bertanya-tanya,  mengapa dalam satu minggu ada 7 hari. Saat kemarin baru saja melalui hari minggu, dan esok sudah akan melalui hari minggu lagi, apa yang salah? Kenangan yang terlalu cepat diulang. Ketika aku masih ingin tinggal di suatu tempat, namun waktu bergulir begitu cepat. 

Kebersamaan bersama orang-orang yang kita sayang, sahabat, keluarga, terasa begitu cepat berlalu. Intinya satu hal, saat kita belum bisa mensyukuri apa yang kita rasakan sekarang, kita hanya akan mengingat-ingat masa lalu yang terasa begitu indah, padahal saat itu juga kita tidak mensyukuri dan merasakan masa lalu kita itu indah. Namun begitu, segala sesuatu yang telah berlalu, yang telah hilang dari genggaman kita akan terasa sangat berharga ketimbang saat ia hadir bersama menemani kita, mewarnai hari-hari kita, menjadi kesibukan kita. 

Seperti sesuatu yang kusebut dengan menulis, satu hal yang selalu aku rindukan, tapi enggan kujumpai karena terlalu banyak alasan. Kadang aku berfikir, bertanya, mengapa Alloh berlaku kejam padaku, menempatkanku di tempat yang sama sekali tak pernah ku bayangkan, tempat yang keras dan menuntut kesempurnaan. Namun hal itu sama sekali tak memberiku solusi, aku hanya mencoba berhuznudzon dengan mengambil hikmahnya. Mungkin ini cara Alloh mendidikku, ini cara Alloh membuatku menjadi dewasa, mempertemukanku dengan orang-orang hebat, mengenalkanku arti perjuangan saat aku ingin mencpapai sesuatu. Meski pada Akhirnya apa yang aku tuju juga merupakan perjuangan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Aku hanya berfikir bahwa Alloh tidak akan memberiku cobaan diluar batas kemampuanku. Alloh tahu aku mampu, maka Alloh memberi cobaan yang begitu dahsyat ini.


Dulu aku pernah punya seorang teman kantor yang begitu baik dan innocent. Saat dia ada di sampingku aku merasa tak ada yang istimewa, padahal kita yang ngekos bersama, tinggal bersama, makan bersama, dalam satu kantor yang sama, kita jalan-jalan bersama. Rasanya waktu selama 24 jam kita lalui bersama, tapi tak ada yang istimewa, aku hanya menganggap ini takdir biasa. Hingga pada saatnya ketika aku baru berhijrah, aku merasakan satu hal yang namanya kesedihan, karena kita akan berpisah. Aku meninggalkannya seorang diri, di saat dia mulai akan memperbaiki diri. Aku tahu dia butuh aku, aku tahu dia butuh dukungan dan support dari aku. Menghadapinya sendiri akan jauh lebih sulit. Saat ia mulai mengenakan jilbabnya, aku tahu bukan perkara yang mudah untuk di bawa ke perusahaan. Harusnya aku ada di sana, tapi aku harus di sini. Bahkan pertemuan di kemudian hari yang hanya 1 jam itupun terasa sangat berharga. Kita melakukan hal-hal konyol yang dulu belum sempat kita lakukan bersama. Berfoto di atas jembatan penyebrangan.





Ada lagi satu kisah. Dulu aku pernah mencari sebuah informasi mengenai perguruan tinggi di kawasan Jakarta yang menyediakan beasiswa. Satu ketika aku googling dan menemukan satu postingan terkait info beasiswa, dia, seperti dugaanku pasti mahasiswa juga, ternyata benar. Banyak orang yang menanggapi postingan itu dan menanyakan banyak hal, begitupun aku. Sampai ia memberi alamat emailnya untuk konsultasi lebih lanjut. Di situ aku mulai menggali banyak hal dan bertukar informasi. Karena keterbatasan bekomunikasi melalui email akhirnya kita berbagi nomor telepon dan pin BB. Mulai saat itu aku sering mengajaknya diskusi, tentang banyak hal dan aku merasa dia orang yang tepat untuk diajak diskusi. Hingga akhirnya aku tidak lolos seleksi beasiswa di kampusnya, hingga saat akhirnya aku pindah ke Jogja untuk menempuh kuliah S1 ku, kita masih saling berkomunikasi meski hanya sebatas aku mengirim pesan “Kakak” lalu dia menjawab “iya?” setelah itu ya sudah tidak ada perbincangan apapun.

Hingga suatu hari Alloh mengizinkanku untuk kembali ke kota kenangan, kota yang penuh dengan perjuangan itu dalam satu moment. Alloh mempertemukanku dengan sosok dia, teman, atau sahabat yang dulunya kita hanya mengenal dari media social kemudian sampai kita benar-benar bertemu dan bercerita banyak hal, berbagi pengalaman satu sama lain, yang kita menjadi sahabat di dunia nyata.
Kupikir itu satu hal yang konyol. Aku sering mendengar tentang orang-orang yang memiliki sahabat baru yang mereka kenal dari media social, sempat aku berfikir itu hal yang konyol tapi bahkan aku mengalaminya. Kupikir bukan hal yang buruk, asal kita mengenal betul identitas orang yang kita kenal melalui media social. 

Banyak hal menarik yang kulalui, begitu banyak, hingga aku merasa malu, hingga aku tidak tahu bagaimana caranya aku harus bersyukur atas semua nikmat yang Alloh berikan itu.