Sabtu, 23 Desember 2017

Dakwah itu Panjaaaang Jalannya



Dulu, aku pernah punya seorang sahabat. Yah dulu kita adalah dua orang yang sama-sama hidup di perantauan dengan terpincang-pincang mencoba berdiri di tengah kota megapolitan. Aku masih sangat ingat ketika aku bersama kaka Puput, kaka Kris, dan Kaka Vranco pergi makan siang di rumah makan belakang kantor. Kami selalu lewat depan kantor penjualan tiket pesawat yang letaknya di samping kantor kami. Dan setiap kali kami lewat aku selalu melihatnya sedang sholat dzuhur dari dinding kaca depan kantor. Yah di ruangan yang hanya sekitar 3x4 meter, ia dengan pesona anggunnya. Perempuan berambut sebahu dengan kemeja dan blezer hitam sekaligus ber-rok selutut itu tampak menarik, tegas dan cerdas. 

Pada suatu hari ketika aku memutuskan untuk pindah dan mencari kos sendiri, kaka Puput mengajakku untuk satu kos bersamanya dan juga bersama gadis itu, ya namanya Dewi, aku memangilnya tetah Dewi. Kami bertiga akhirnya tinggal dalam satu kamar yang cukup luas. Teteh Dewi tampak lebih simple dengan pakaian rumah dan tanpa make up cetar seperti basanya di kantor. Tidak butuh waktu lama untuk kami saling mengenal dan menjadi sahabat.

Kau boleh men-judge dia perempuan ala-ala kantoran pada umumnya yang hanya mengejar dunia, tapi sungguh kau akan terkejut ketika melihat ia segera bangkit mengambil air wudhu ketika adzan berkumandang, entah apapun pekerjaan yang sedang ia lakukan. Ia yang selalu membaca Al-Qur’an setelah selesai sholat dan ia juga yang selalu bersimpuh di sepertiga malam terakhir dengan penuh linangan air mata. Ia yang selalu berangkat lebih awal dari aku dan ka puput karena jadwal kerjanya dari jam 8.

Kau tahu, ternyata dia adalah sahabat yang Alloh kirim untuk menemaniku berjuang. Di saat semua orang berusaha menjatuhkan impianku, tapi ada sesosok yang menemaniku untuk terus berjalan, menerjang ketidakmungkinan dan tanpa takut untuk berharap, sesulit apapun keadaan yang sedang kita jalani; berada di bawah tekanan bos perusahaan. Mimpinya simple kawan, ia hanya ingin bekerja di sebuah perusahaan penerbangan dengan seleksi masuk yang sangat ketat. Sedangkan aku hanya ingin melanjutkan sekolahku di sebuah Universitas ternama di Jogja. Kami sama-sama memiliki keterbatasan dan finansial yang minim, tapi kau tahu? Dia selalu bekerja keras dan melakukan apapun dengan sebaik mungkin.

Hingga di bulan ramadhan itu, ternyata ia mendahuluiku. Setelah perjalanan panjang bersama yang kita lewati, ia berhasil menggapai mimpinya, ia berhasil di terima di perusahaan penerbangan impiannya. Yang lebih memebuatku salut adalah ketika ia begitu berani mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya, meskipun bosnya mencegahnya habis-habisan. Ia dengan penuh keberanian menerjang hambatan itu. Mimpinya lebih berharga dan ancaman bosnya sama sekali tak menggoyahkan tekad kuatnya.

Suatu ketika dia pernah berbicara padaku bahwa ia berazzam akan berjilbab ketika mimpinya berhasil dicapai. Dan kau tahu dia benar-benar menepati janjinya. Kini tak ada lagi rok mini, hanya ada keanggunan dari sesosok yang sholihah, cerdas, dan berpendirian kuat.

Dulu, aku sempat menangis ketika aku tahu bahwa sebuah Universitas di jogja menerimaku sebagai mahasiswanya. Karena saat itu aku benar-benar harus meinggalkan sahabatku yang lain, kaka Puput, setelah kepindahan teh Dewi. Kau tahu rasanya seperti harus memutus tali pertemuan dengan seseorang yang telah menemaniku berjuang mati-matian menggapai mimpi. Tapi kau tahu, setelah kepindahanku kaka Puput mengirim pesan kepadaku bahwa ia juga telah berjilbab. Aku tidak hanya menangis, tapi juga sesenggukan. Aku merasa semakin bersalah dan ingin rasanya aku kembali.
Dulu di perusahaan export-import itu hanya aku yang memakai jilbab. Di awal bosku sudah mengingatkanku untuk tidak berjilbab tapi aku tetap kekeuh mempertahankan prinsipku. Dengan lobi-lobian sekian kali sampai aku mengancam tidak akan bekerja jika tidak diizinkan memakai jilbab. Akhirnya bosku mengalah dan memaklumi. Kau tahu berat rasanya untuk menaklukan bosku itu. Aku tak bisa membayangkan bagaiman kaka Puput melobi bos kami untuk kemudian ia berjilbab. Tapi sungguh aku bahagia dan sangat bahagia.

Kawan, memang begitulah jalan dakwah. Apa yang kita usahakan saat itu belum tentu dapat kita petik hasilnya saat itu juga. Mungkin nanti saat kita sudah tak berada di sana, atau bahkan ketika kita tidak lagi ada di dunia ini. Bahkan aku tak pernah menasihati mereka untuk berjilbab, namun cukup kutunjukkan bagaimana perempuan itu wajib untuk berjilbab. Dengan tindakan dan aksi yang nyata cukup untuk menggerakan hati mereka.

Sahabat, jangan pernah menyerah walau usahamu tidak pernah dihargai orang, meski apa yang kau lakukan terasa sia-sia. Karena suatu saat nanti semua akan membuahkan hasil. Semua akan dinilai oleh yang memberi hidup. cukup sederhana kawan. Cukup lakukan apa yang seharusnya kau lakukan, jangan takut dan jangan dengarkan mereka yang sedang berusaha menjatuhkanmu.  

Senin, 11 Desember 2017

Factors for differences in language use between men and women



Since centuries ago gender-related issues have always been linked to language. It can not be denied that gender differences are very influential in terms of language, while language is the basis of communication. Every day men interact with each other, and in general communication, they do use language. The striking difference between the two is that first, women tend to be more polite in spoken words, while men tend to be rude. Second, women talk to the standard language while men do not. Third, women prefer light topics in conversations such as about fashion, cooking, and things close to their lives whereas men prefer tough topics such as politics, education, and statehood.

Then what are the factors that cause different language use for both? Is that physically or socially? Based on the results of research, men using the left brain to think, while women use both parts of the brain to think, but it does not show the effectiveness in the use of language. There are factors outside the physical that affect the differences in language use between men and women. I would classify that factor into three parts.

First, the difference in psychology. Women have a more subtle feeling than men. They are more sensitive, while men are more logical. Therefore women speak more politely than men, and men speak more harshly than women.

Second, the difference in social status. In the social life, men superior to women. Even in every respect. In the public spaces, men as leaders while women more occupy the second position such as a secretary. Women prefer to share problems and men prefer to provide solutions. That's what causes women to be motivated to reach an equivalent level. One way is to use language. Women are more careful in grammar matters. They are more careful and thinks about the consequences of what they say, whereas men tend to be flexible in using language. In addition, men spend more time in school so that their chances of filling in the larger public space. Therefore men are closer to heavy topics such as politics and government, while women are more preoccupied with their own affairs, so he prefers topics about beauty, fashion, and more.

Third, the difference in cultural background. Lakoff (1975) believes that language differences between men and women are a symptom of cultural problems. It turns out that cultural issues also affect language differences between men and women. Therefore the style of men when performing a different conversation with women, as well as vice versa.

The above three factors are factors that greatly affect the language differences between men and women. Although both are different but not necessarily united and disagreeable in every respect. The two are complementary to each other. By knowing the causal factors, they can understand each other.

Minggu, 03 Desember 2017

Kamu Hebat, Ayo Jadi Lebih Hebat

Assalamu'alaikum wr wb

Selamat pagi cantik? bukankah ini juga pagi yang sangat cantik. It's monday right? apakah hari senin memang menjadi hari yang berat bagi kebanyakan orang, dimana orang harus kembali menjalani rutinitas sehari-har; pergi ke sekolah, bekerja dan lain sebagainya. tapi tidak bagiku cantik. aku punya pagi yang sangat indah.

Well aku bangun kesiangan hari ini, tapi aku tetap bersyukur. jam 4 pagi adekku membangunkanku. aku sadar bahwa aku telah mematian alarm jam 3 ku, tapi sudahlah mungkin aku juga harus mengoreksi diri, semalam aku begadang untuk hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Aku memulai hariku dengan sholat subuh berjama'ah kemudian dilanjutkan membaca Al-Ma'tsurat dan hadits Arba'in meski jujur aku tak begitu sadarkan diri, tapi memang sudah rutinitas setiap pagi. kemudian aku membaca Al-Qur'an dua lembar saja. aku mengecek handphoneku dan temanku mengajakku jogging. fix tertidurlah aku around 7 menit, kemudian aku bersiap-siap keluar. dengan kepala yang amat pening dan kaki yang masih sakit aku berjaln perlahan menyusuri jalanan sampai bertemu temanku. mungkin kau pikir gila, dalam keadaan setengah demam dan kaki yang luka masih mau menyusuri jalanan pagi, mengapa tidak memilih untuk tidur saja? toh aku memulai kuliahku jam 11 siang. jawabannya satu; aku mencari berkahnya pagi.

Kau tahu berjalan atau berlari kecil setelah subuh itu membuat badan fresh. jika kamu memilih untuk tidur saja di rumah, mungkin kau merasa nyaman tapi harimu akan terasa suram, sedangkan jika kau memilih untuk keluar dan menghirup udara segar, harimu akan lebih cerah. ya seperti biasanya aku melewati taman bunga, sungai, jalanan dan tempat yang kusukai.

Satu jam itu masih kurang bagiku, udara segar yang kuhirup rasanya belum habis tapi aku harus melanjutkan aktivitasku. ya, aku pulang dan sarapan. aku memang anak kos, tapi aku tak pernah lupa sarapan. inget ya guys, sarapan pagi itu bukan pertanda bahwa kamu lemah dan ga strong, tapi itu cara untuk kamu membuat diri kamu strong dan bekal beraktivitas seharian. jadi jangan bangga kalo ga sarapan, merasa sok kuat, tapi sering guling-guling kalo magnya kumat. inget itu ya.

After that aku prepare for everything dan sholat dhuha. Jam 8 aku memutuskan untuk pergi ke Plaza dan meminimalisir membaca buku sambil tiduran di kasur, hehe. itu mnyenangkan guys, sebagai bentuk rasa syukur kita sama Alloh telah diberi pagi yang indah dan melakukan berjuta kebaikan di dalamnya.

Someone said kalo kunci kebahagiaan adalah olahraga. aku sudah membuktikannya. aku hanya berlari kecil setiap pagi, itu sudah membuatku bahgaia, entah mengapa. aku melihat pohon, bunga,embun, terasa sejuk rasanya.

Semoga menjadi prolog yang indah untuk blog yang indah ya.....

Mungkin kau pernah berpikir bahwa dirimu itu sangat lemah, tak berguna, atau tidak lebih hebat orang lain. right kebanyakan orang merasakan itu. itu tandanya kamu tidak meraasa bersyukur, padahal banyak orang yang ingin menjadi seperti kamu, right?

kau tahu bahwa aku adalah orang yang sangat pemalu. aku tak punya otak yang cukup cerdas, ataupun prestasi yang cemerlang, hanya saja ibuku selalu menasihatiku untuk menjadi orang yang pemberani. kau tahu saat kau berani bersuara dan bertindak orang akan respek denganmu, jangan takut untuk melakukan kesalahan, karena akan ada orang lain yang membenarkan.

Coba kamu lihat ke dalam dirimu, kamu cantik. kamu itu unik dan tidak ada  satupun orang yang seperti kamu. kau tahu selagi kamu masih mau belajar untuk menjadi seperti apa yang kamu inginkan, kamu pasti bisa.

kau tahu, bahwa kesuksesanmu di masa depan sangat ditentukan oleh aktivitas-aktivitas kecilmu hari ini. maka jangan terlau fokus dengan apa yang belum kamu capai, tapi fokuslah pada apa yang sedang kamu laukan saat ini, karena itu yang terpenting dan yang nyata di hadaapanmu.menyelesaikan aktivitasmu yang sekarang dengan sebaik mungkin adalah kunci untuk kamu mempersiapkan masa depanmu yang gemilang.

Heiiii ayolah semangat, pertolongan Alloh itu dekat, jika kamu mau untuk mendekatiNya. jangan taku dan jangan pernah merasa renda, kamu hebat, ayo jadi lebih hebat.

pesanan kopimu sudah datang, selamat menikmati pagi yang sempurna


Yesty Elfuty
Wassalamu'alaikum wr wb

Kamis, 20 April 2017

Kamukah Sosok Kartini Masa Depan?



(Perempuan wajib baca)

By : Siti Futikhaturohmah (Divisi Perempuan dep. Kebijakan Publik KAMMI Komisariat UNY)


Bicara mengenai kartini artinya bicara tentang peremuan. R.A kartini biasa kita kenal sebagai sosok pelopor bagi kaum perempuan. Bahkan setiap tanggal 21 April seluruh kaum perempuan di Indonesia memperingati hari kelahiran pahlawan kaumnya. Namun ironinya dari kalangan kita banyak yang belum mengenal siapa itu Kartini dan gagasan apa  yang dibawa olehnya. Maka dari itu sejenak kita luangkan waktu untuk membaca sekelumit tulisan pendek ini agar kita lebih mengenal siapa itu Kartini dan gagasan apa yang dibawa olehnya. Selayaknya perempuan yang hidup di era reformasi, yang katanya perempuan cerdas, berpendidikan, sudah semestinya kita tahu landasan kita menjadikan R.A kartini sebagai pahlawan kaum perempuan yang memperjuangkan hak-hak kaumnya.

Sejarah yang digelapkan

Pernah mendengar buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang berisikan surat-surat R.A Kartini untuk sahabatnya di Belanda? Jika kita hendak menguak kebenaran pemilihan judul buku tersebut, maka kita bisa menilik bagaimana proses R.A. Kartini dalam perjuangannya belajar Al-Qur’an. Beliau adalah penggagas pertama Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa. Beliau sewaktu kecil pernah belajar Al-Qur’an namun beliau justru dimarahi saat bertanya arti dari ayat-ayat yang beliau hafal.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, R.A. Kartini menulis;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

Apakah kemudian kita berpikir bahwa Kartini memiliki pemikiran yang liberal setelah kita membaca surat beliau untuk sahabatnya? Tidak! Justru saya menarik kesimpulan bahwa Kartini adalah sosok wanita yang cerdas. Rasa keingintahuannya akan suatu ilmu memang terbukti ketika beliau menemui Kyai Sholeh Darat untuk mengajarinya memahami isi Al-Qur’an. Kartini merasa sangat takjub ketika pertama kalinya tahu makna surat Al-Fatihah dan ia merasa heran mengapa para ulama melarang Al-Qur’an untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa padahal Al-Qur’an adalah petunjuk dan pedoman bagi kehidupan manusia, terlebih saat itu tidak ada orang yang memahami Bahasa Arab. Al-Qur’an dianggap terlalu suci untuk diketahui maknanya.

Kita tahu bahwa Kartini bukannya tidak mau belajar Al-Qur’an saat itu, namun lebih dari pada menyayangkan kesia-siaan mempelajari suatu ilmu yang ia tidak mengerti maksudnya. Ia menginginkan agar Al-Qur’an bisa lebih dimengerti oleh kaum saat itu.

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”.

Sekarang kita tahu dari mana asal muasal judul buku yang ditulis oleh R.A. Kartini. hal ini terinspirasi dari salah satu surat di dalam Al-Qur’an yang telah diterjemhkan oleh Kyai Sholeh
Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya” (Q.S. al-Baqoroh: 257).

Jadi buku yang ditulis oleh R.A. Kartini semata-mata bukan hanya cerita tentang surat menyurat yang ia lakukan kepada sahabatnya di Belanda, namun lebih dari itu mengandung nilai yang sangat bermakna.

Gagasan R.A. Kartini

Menjelang hari peringatan kelahiran R.A Kartini sering kali kita menjumpai event-event lomba untuk menyemarakkan hari tersebut. Seperti kita jumpai lomba memasak, memakai kebaya, menghias tumpeng dan lain sebagainya. Namun perlu kita ketahui, sebenarnya apa sih gagasan Kartini? Apa sih ide-ide yang ingin direalisasikan untuk perempuan Indonesia di masa yang akan datang?

R.A Kartini sangat bersemangat memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan, cita-citanya sebagai seorang guru dan kepeduliannya terhadap rakyat disekitarnya. Namun gagasan utamanya terkait semua itu adalah perempuan sebagai pendidik anak-anaknya.

Kartini selalu memiliki cita-ciita agar perempuan mendapatkan pendidikan layaknya laki-laki, memiliki wawasan yang luas dan mampu berkarya. Apakah semua itu dalam rangka menandingi laki-laki? Bukan! Tentu saja bukan. Akan tetapi lebih mengarah pada pentingnya perempuan memiliki wawasan yang luas karena ia adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Ia memiliki tugas yang amat mulia, yaitu mendidik calon generasi penerus bangsa. Ketika kita berbicara masalah penerus bangsa, maka kita berbicara tentang suatu peradaban. Bayangkan, seorang perempuan adalah tonggak peradaban. Bisa kita bayangkan bagaimana membangun suatu peradaban jika wanitanya buta akan ilmu, berwawasan sempit dan rendah dalam moral dan akhlak.

Salah satu tulisan kartini yang memperkuat gagasan beliau
‘Ternyata dari masa ke masa kemajuan perempuan itu merupakan faktor penting dalam usaha memajukan bangsa.Kecerdasan pikiran penduduk Bumiputra tidak akan maju secara pesat bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu. Perempuan sebagai pendukung peradaban’

Jadi boleh saja wanita berkarir di luar rumah, akan tetapi kembali pada tugas utamanya sebagai seorang pendidik bagi anak-anaknya. Ia boleh saja berkarya di luar akan tetapi tanggung jawabnya di dalam sudah terpenuhi.



Kesimpulannya, seorang perempuan atau ibu tidaklah cukup hanya memberi makan, memberi sandang, kemudian menyekolahkan anak-anaknya, tetapi juga mendidik akhlak, menegakkan tauhid serta menanamkan budi pekerti. Kita meyakini bahwa Kartini akan sangat bahagia jika gagasannya sampai pada pemikiran kaum perempuan saat ini.

Lalu ketika kita mengadakan event-event lomba seperti di atas apakah sudah match dengan ide-ide yang digagas oleh Kartini, apakah sudah relevan dengan gagasan-gagasan yang diperjuangkan oleh Kartini, sekali lagi mari kita pikirkan.

Karena Kartini Menulis

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa pejuang perempuan yang mendapat hari peringatan hanya R.A. Kartini, padahal pejuang perempuan yang lain juga banyak seperti contohnya Dewi sartika. Ada lagi sosok pahlawan perempuan yang bergerilya ke hutan-hutan seperti Cut Nyak Dien tapi namanya tidak seterkenal R.A. Kartini. Why? Jawabannya karena Kartini menulis.

Buku karya R.A Kartini yang sempat kita bahas di atas merupakan suatu manuskrip peninggalan Kartini yang masih bisa kita nikmati sampai sekarang, masih bisa kita ambil manfaatnya meskipun penulisnya sudah tiada. Itu mengapa perjungan dan semangat R.A. Kartini masih bisa kita rasakan hingga saat ini.

Siapakah Pahlawan Perempuan Pertama di Dunia?

Jika kaum wanita di Indonesia mengenal pahlawan perempuannya adalah R.A. Kartini, lalu sebagai seorang muslimah adakah pahlawan pejuang perempuan yang lebih dulu dari R.A Kartini?

Asma Binti Yazid

Beliua adalah sosok perempuang yang dijuluki sebagai ‘Jubir’nya kaum perempuan saat itu. Bisa kita tengok dari kisah-kisahnya yang luar biasa. Kita bisa mempelajari betapa gigihnya ia mendatangi Rasululloh untuk menanyakan suatu hukum, bahkan yang terkait dengan urusan-urusan perempuan tanpa rasa malu. Ia berpikir bahwa mengetahui suatu hukum adalah kewajiban dan hal yang sangat urgen. Selain itu juga ada salah satu kisah menarik. ketika Baginda sedang bersama dengan beberapa orang sahabat,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku.  Sesungguhnya Allah Taala mengutusmu bagi seluruh lelaki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu.  Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami.  Kami menjadi penjaga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat memenuhi syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan solat jumaat, menghantar jenazah dan berjihad.  Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengarkan pertanyaan tersebut, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang Deen yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”.  Para sahabat menjawab,“Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!.”Kemudian Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kembalilah wahai Asma` dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahawa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keredhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang disuruhnya (selagi tidak melanggar syara’), itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki”. Maka kembalilah Asma` sambil bertahlil dan bertakbir kerana gembira dengan apa disabdakan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di situ seorang Asma berjuang untuk hak-hak kaum perempuan. Di era sekarang perempuan sangat mudah mengakses pendidikan, perempuan juga bebas menyampaikan gagasan dan pendapat, bahkan turut berkontribusi dalam mengisi ruang-ruang publik. Perempuan orasi? Why not? Selagi ia tetap berpegang teguh pada prinsip menjaga izzah, everything will be ok.

Nah guys, kita bisa belajar banyak ssekali dari pejuang tokoh perempuan terdahulu. Akan lebih bagus jika kita turut mewujudkan gagasan-gagasan cemerlang bagi kaum perempuan. Perempuan Indonesia adalah perempuan hebat, namun semua itu tidak akan ada artinya tanya kontribusi nyata di masyarakat. Perempuan Indonsia adalah sosok hebat yang akan melahirkan calon generasi penerus bangsa. Jayakan Indonesia!