(Perempuan wajib baca)
By : Siti Futikhaturohmah (Divisi Perempuan dep. Kebijakan Publik KAMMI
Komisariat UNY)
Bicara mengenai kartini artinya bicara tentang peremuan. R.A kartini biasa
kita kenal sebagai sosok pelopor bagi kaum perempuan. Bahkan setiap tanggal 21
April seluruh kaum perempuan di Indonesia memperingati hari kelahiran pahlawan
kaumnya. Namun ironinya dari kalangan kita banyak yang belum mengenal siapa itu
Kartini dan gagasan apa yang dibawa
olehnya. Maka dari itu sejenak kita luangkan waktu untuk membaca sekelumit
tulisan pendek ini agar kita lebih mengenal siapa itu Kartini dan gagasan apa
yang dibawa olehnya. Selayaknya perempuan yang hidup di era reformasi, yang
katanya perempuan cerdas, berpendidikan, sudah semestinya kita tahu landasan
kita menjadikan R.A kartini sebagai pahlawan kaum perempuan yang memperjuangkan
hak-hak kaumnya.
Sejarah yang digelapkan
Pernah mendengar buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang
berisikan surat-surat R.A Kartini untuk sahabatnya di Belanda? Jika kita hendak
menguak kebenaran pemilihan judul buku tersebut, maka kita bisa menilik
bagaimana proses R.A. Kartini dalam perjuangannya belajar Al-Qur’an. Beliau
adalah penggagas pertama Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa. Beliau
sewaktu kecil pernah belajar Al-Qur’an namun beliau justru dimarahi saat bertanya
arti dari ayat-ayat yang beliau hafal.
Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal
6 November 1899, R.A. Kartini menulis;
Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan
apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain.
Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat
mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?
Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke
dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang
yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami
apa yang dibaca.
Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi
tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal
Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.
Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa
asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?
Apakah
kemudian kita berpikir bahwa Kartini memiliki pemikiran yang liberal setelah kita
membaca surat beliau untuk sahabatnya? Tidak! Justru saya menarik kesimpulan
bahwa Kartini adalah sosok wanita yang cerdas. Rasa keingintahuannya akan suatu
ilmu memang terbukti ketika beliau menemui Kyai Sholeh Darat untuk mengajarinya
memahami isi Al-Qur’an. Kartini merasa sangat takjub ketika pertama kalinya
tahu makna surat Al-Fatihah dan ia merasa heran mengapa para ulama melarang
Al-Qur’an untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa padahal Al-Qur’an adalah
petunjuk dan pedoman bagi kehidupan manusia, terlebih saat itu tidak ada orang
yang memahami Bahasa Arab. Al-Qur’an dianggap terlalu suci untuk diketahui
maknanya.
Kita tahu
bahwa Kartini bukannya tidak mau belajar Al-Qur’an saat itu, namun lebih dari
pada menyayangkan kesia-siaan mempelajari suatu ilmu yang ia tidak mengerti
maksudnya. Ia menginginkan agar Al-Qur’an bisa lebih dimengerti oleh kaum saat
itu.
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya
tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi
terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah
menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”.
Sekarang
kita tahu dari mana asal muasal judul buku yang ditulis oleh R.A. Kartini. hal
ini terinspirasi dari salah satu surat di dalam Al-Qur’an yang telah
diterjemhkan oleh Kyai Sholeh
“Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya” (Q.S.
al-Baqoroh: 257).
Jadi
buku yang ditulis oleh R.A. Kartini semata-mata bukan hanya cerita tentang
surat menyurat yang ia lakukan kepada sahabatnya di Belanda, namun lebih dari
itu mengandung nilai yang sangat bermakna.
Gagasan R.A. Kartini
Menjelang
hari peringatan kelahiran R.A Kartini sering kali kita menjumpai event-event
lomba untuk menyemarakkan hari tersebut. Seperti kita jumpai lomba memasak,
memakai kebaya, menghias tumpeng dan lain sebagainya. Namun perlu kita ketahui,
sebenarnya apa sih gagasan Kartini? Apa sih ide-ide yang ingin direalisasikan
untuk perempuan Indonesia di masa yang akan datang?
R.A
Kartini sangat bersemangat memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan, cita-citanya
sebagai seorang guru dan kepeduliannya terhadap rakyat disekitarnya. Namun gagasan
utamanya terkait semua itu adalah perempuan sebagai pendidik anak-anaknya.
Kartini
selalu memiliki cita-ciita agar perempuan mendapatkan pendidikan layaknya
laki-laki, memiliki wawasan yang luas dan mampu berkarya. Apakah semua itu
dalam rangka menandingi laki-laki? Bukan! Tentu saja bukan. Akan tetapi lebih
mengarah pada pentingnya perempuan memiliki wawasan yang luas karena ia adalah
guru pertama bagi anak-anaknya. Ia memiliki tugas yang amat mulia, yaitu
mendidik calon generasi penerus bangsa. Ketika kita berbicara masalah penerus
bangsa, maka kita berbicara tentang suatu peradaban. Bayangkan, seorang
perempuan adalah tonggak peradaban. Bisa kita bayangkan bagaimana membangun
suatu peradaban jika wanitanya buta akan ilmu, berwawasan sempit dan rendah
dalam moral dan akhlak.
Salah
satu tulisan kartini yang memperkuat gagasan beliau
‘Ternyata
dari masa ke masa kemajuan perempuan itu merupakan faktor penting dalam usaha
memajukan bangsa.Kecerdasan pikiran penduduk Bumiputra tidak akan maju secara
pesat bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu. Perempuan sebagai pendukung
peradaban’
Jadi
boleh saja wanita berkarir di luar rumah, akan tetapi kembali pada tugas
utamanya sebagai seorang pendidik bagi anak-anaknya. Ia boleh saja berkarya di
luar akan tetapi tanggung jawabnya di dalam sudah terpenuhi.
Kesimpulannya,
seorang perempuan atau ibu tidaklah cukup hanya memberi makan, memberi sandang,
kemudian menyekolahkan anak-anaknya, tetapi juga mendidik akhlak, menegakkan
tauhid serta menanamkan budi pekerti. Kita meyakini bahwa Kartini akan sangat
bahagia jika gagasannya sampai pada pemikiran kaum perempuan saat ini.
Lalu
ketika kita mengadakan event-event lomba seperti di atas apakah sudah match
dengan ide-ide yang digagas oleh Kartini, apakah sudah relevan dengan
gagasan-gagasan yang diperjuangkan oleh Kartini, sekali lagi mari kita
pikirkan.
Karena Kartini Menulis
Mungkin
kalian bertanya-tanya mengapa pejuang perempuan yang mendapat hari peringatan
hanya R.A. Kartini, padahal pejuang perempuan yang lain juga banyak seperti
contohnya Dewi sartika. Ada lagi sosok pahlawan perempuan yang bergerilya ke
hutan-hutan seperti Cut Nyak Dien tapi namanya tidak seterkenal R.A. Kartini. Why?
Jawabannya karena Kartini menulis.
Buku
karya R.A Kartini yang sempat kita bahas di atas merupakan suatu manuskrip
peninggalan Kartini yang masih bisa kita nikmati sampai sekarang, masih bisa
kita ambil manfaatnya meskipun penulisnya sudah tiada. Itu mengapa perjungan dan
semangat R.A. Kartini masih bisa kita rasakan hingga saat ini.
Siapakah Pahlawan Perempuan
Pertama di Dunia?
Jika
kaum wanita di Indonesia mengenal pahlawan perempuannya adalah R.A. Kartini,
lalu sebagai seorang muslimah adakah pahlawan pejuang perempuan yang lebih dulu
dari R.A Kartini?
Asma
Binti Yazid
Beliua
adalah sosok perempuang yang dijuluki sebagai ‘Jubir’nya kaum perempuan saat
itu. Bisa kita tengok dari kisah-kisahnya yang luar biasa. Kita bisa mempelajari
betapa gigihnya ia mendatangi Rasululloh untuk menanyakan suatu hukum, bahkan
yang terkait dengan urusan-urusan perempuan tanpa rasa malu. Ia berpikir bahwa
mengetahui suatu hukum adalah kewajiban dan hal yang sangat urgen. Selain itu
juga ada salah satu kisah menarik. ketika Baginda sedang bersama dengan
beberapa orang sahabat,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Taala mengutusmu bagi seluruh lelaki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penjaga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat memenuhi syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan solat jumaat, menghantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”
Mendengarkan pertanyaan tersebut, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang Deen yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”. Para sahabat menjawab,“Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!.”Kemudian Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kembalilah wahai Asma` dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahawa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keredhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang disuruhnya (selagi tidak melanggar syara’), itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki”. Maka kembalilah Asma` sambil bertahlil dan bertakbir kerana gembira dengan apa disabdakan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Taala mengutusmu bagi seluruh lelaki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penjaga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat memenuhi syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan solat jumaat, menghantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”
Mendengarkan pertanyaan tersebut, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang Deen yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”. Para sahabat menjawab,“Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!.”Kemudian Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kembalilah wahai Asma` dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahawa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keredhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang disuruhnya (selagi tidak melanggar syara’), itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki”. Maka kembalilah Asma` sambil bertahlil dan bertakbir kerana gembira dengan apa disabdakan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di
situ seorang Asma berjuang untuk hak-hak kaum perempuan. Di era sekarang
perempuan sangat mudah mengakses pendidikan, perempuan juga bebas menyampaikan
gagasan dan pendapat, bahkan turut berkontribusi dalam mengisi ruang-ruang
publik. Perempuan orasi? Why not? Selagi ia tetap berpegang teguh pada prinsip
menjaga izzah, everything will be ok.
Nah
guys, kita bisa belajar banyak ssekali dari pejuang tokoh perempuan terdahulu. Akan
lebih bagus jika kita turut mewujudkan gagasan-gagasan cemerlang bagi kaum
perempuan. Perempuan Indonesia adalah perempuan hebat, namun semua itu tidak
akan ada artinya tanya kontribusi nyata di masyarakat. Perempuan Indonsia
adalah sosok hebat yang akan melahirkan calon generasi penerus bangsa. Jayakan Indonesia!
0 komentar:
Posting Komentar