Sabtu, 23 Januari 2016

Cuplikan Mozaik 2015



Aku bukan seorang motivator, tapi setidaknya aku punya mimpi dan punya cita-cita. Dengan situasi yang sedang kuhadapi, maka aku memotivasi diriku sendiri agar aku menjadi wanita yang kuat dan ptimis dalam menggapai mimpi

Dan inilah potongan-potongan mozaik hidupku yang sempat kutulis di tahun 2015, semoga juga bisa memotivasi siapapun yang membaca postingan ini.

*      Beranilah bermimpi, karena mimpi adalah harapan, dan harapan yang kan mengantar kita pada kesuksesan –Sepanjang Jalan Raya Bogor—

*      Indahnya berjuang, karena pada saatnya nanti kita kan menuai kemenangan –Sepanjang Jalan Raya Bogor—


*      Sejarah tak mencatat pecundang bahkan, walaupun bumi melahirkannya (Asma Nadia dalam novel Assalamu’alaikum Beijing) – Cijanting, Jakarta Timur—

*      Seperti tembikar, ketika ia diinginkan menjadi sesuatu yang kokoh dan kuat oleh si Seniman, maka dia akan melewati tempaan yang kuat dan dahsyat, bahkan dipanaskan dalam suhu ribuan derajat hingga akhirnya terciptalah sebuah tembikar yang kuat dan kokoh. Namun, jika tembikar itu masih belum sesuai keinginan sang Seniman, maka ia akan dihancurkan kembali dan melalui proses ekstrem seperti sebelumnya hingga ia menjadi tembikar yang benar-benar kokoh dan kuat, seperti juga aku, wanita yang memiliki sejuta mimpi dan suka berjuang – Kantor perusahaan jasa export & import cawang, Jakarta Timur—


*      Kata lilik Arum : “Alloh itu sesuai persangkaan hamba-Nya. Maka yakinlah, kita miskin, tapi Alloh Maha Kaya. Yakin deh, futy pasti bisa sekolah lagi kok – Cijantung, Jakarta Timur—

*      Malam itu Fuad bilang sesuatu saat aku terlelap di hadapan sebuah buku tebal yang menopang mimpi-mimpiku : “Lilik kecapean, sampe ga bisa belajar” iya, aku memang lelah, tapi mimpiku yang membuat air mataku membeku –Cijantung, Jakarta Timur—
26 Maret 2015

*      ‘Cinta’ adalah satu kata yang sering terlupa dan tenggelam dalam ambisiku mengejar mimpi. Di saat hari-hariku penuh dengan air mata, kesedihan, rasa takut, lelah, bosan, aku lupa bahwa aku punya satu kebahagiaan yang tak dapat diukur dengan waktu. Yaitu mengenal kamu, bertemu denganmu, dan menjadi orang yang mengisi ruang hatimu –Cijantung, Jakarta Timur—
27 Maret 2015

*      Belajar dari kesalahan sebelumnya, bukannya keterlaluan. Di sini aku belajar arti teliti dan banyak bertanya, suatu pelajaran yang tak terlalu aku salami saat duduk di bangku sekolah –Cijantung, Jakarta Timur—
27 Maret 2015

*      Hari kemarin aku terlalu banyak melakukan kesalahan, hingga dalam mimpiku aku melakukan kesalahan. Tuhan, ini pembelajaran bagiku agar aku menjadi manusia yang lebih baik. Alloh memberiku ujian karena Alloh tahu bahwa aku kuat dan bisa melewati semuanya dengan baik. Bagaimana caraku melupakan semua ini, satu memory saja untuk menimpang memory pahit ini –Cijantung, Jakarta Timur—
28 Maret 2015

*      Aku tak benar-benar tahu kehidupan apa yang sedang aku jalani. Seperti sebuah mimpi yang datang saat sunrise menyapa dan kemudian aku kembali di kehidupan ‘nyataku’ saat bunga tidur di malam gelapku. Hidupku sebatas bayangan dalam tidur malam –Cijantung, Jakarta Timur—

*      Sebuah memory mengusik gendang telinga yang hamper 2 tahun asing darinya
3              3              3              5              1              3              5              5              4              3              2
Mi           Mi           Mi           Sol          Do          Mi           Sol          Sol          Fa           Mi           Re
Bahwa aku pernah belajar satu music dalam memory SMA
28 Maret 2015

*      Terlalu jauh jarak yang terbentang diantara kita, hingga tak kurasakan lagi rindu seperti dulu
30 Maret 2015

Dan satu hal yang sebenarnya paling ingin aku sampaikan bahwa, aku menemukan Allohku di sana, aku menemukan chemistrynya di sana, betapa indahnya saat kita selalu meningat dan dekat dengan Alloh. Semua rasa sedih, takut, khawatir, semuanya akan hilang dengan bermunajat kepadaNya

Kamis, 21 Januari 2016

Kembali ke Rumah-Mu


Assalamu'alaikum wr. wb.


               Seperti dulu, ketika aku sering kali menangis di kamar, di teras depan rumah, di jalan, di angkot, di mall. Saat-saat yang menyedihkan itu. Kala itu sewaktu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah perusahaan export import di daerah Cawang, Jakarta Timur. Maklumlah, sebagai karyawan baru tentu belum tahu banyak hal, terlebih urusan pekerjaan, masih banyak yang harus dipelajari. Jadi, sering sekali melakukan kesalahan dan mendapat omel. Bahkan ada di suatu minggu aku merasa selalu salah, hingga bisa kurasakan nada bicara managerku yang selalu keras dan ketus, dan hal itu hanya berlaku bagiku. 

                Berawal dari situ aku mulai memiliki hobi baru, yaitu menangis. Suatu hari aku bersama temanku hendak pergike mal, berhubung sudah masuk waktu dzuhur maka kami memutuskan untuk sholat dulu di sebuah masjid yang letaknya cukup dekat dengan kantor. Awalnya ragu karena masjid itu tampak bukan seperti masjid pada umumnya yang tampil terbuka, masjid ini begitu elegan dan bernuansa tertutup. Tapi setelah si satpam masjid mempersilahkan kami, akhirnya kami masuk. Di situ, sejak saat itu, aku katakana bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama, masjid itu bernama Abu Bakar As-Sidiq berlokasi di Jl Otista Raya, Cawang, Jakarta Timur. Setelah itu aku sering sekali mampir untuk sholat maghrib di situ selepas pulang dari kantor dan setelah itu mengikuti kajian ba’da maghrib. Bahkan semenjak aku kos di sekitar situ, aku selalu sholat tarawih dimasjid itu selama bulan Ramadhan, meski tempatnya cukup jauh dari kos dibanding masjid yang lain. 

                Mungkin tidak ada yang special di masjid itu, tapi memang bagus dari segi kebersihan, privasi untuk perempuan, Karena antara laki-laki dan perempuan memiliki tempat masuk yang berbeda, kamar mandi yang bersih dan tertutup, kemudian pintunya langsung mengarah pada shaf belakang yang sudah dibatasi dengan shaf laki-laki. Mukena yang disediakan pun tertata rapi dan bersih. karpetnya yang empuk berwarna merah serta fasilitas AC yang membuatku betah berlama-lama meski belum mandi. Dan yang paling penting adalah imamnya yang berkualitas dari segi bacaan dan hafalan. Bahkan saat tarawih imamnya didatangkan langsung dari Madinah.
                Terlebih tempat itu sudah menjadi tempatku yang paling nyaman untuk menyendua dengan Sang Maha Pencipta. Dimana aku menumpahkan segala doa dan air mata. Di situ pula aku menemukan chemistery yang tidak setiap waktu bisa kudapatkan dengan mudah. Di situ pula aku membangun ikatan dengan Rabb semesta alam. 

                Di sini, di kota baru yang kutinggali kurang lebih selama 6 bulan, aku kembali menemukan tempat favoritku. Setelah sekian lama aku bertanya, kapan aku bisa membangun chemistry seperti dulu lagi, saat aku merasa begitu dekat dengan Alloh. Hingga pada saatnya aku terbentur oleh sebuah problematika, Alloh selalu memberi petunjuk, memberi obat, dan menuntun langkahku kemana aku harus kembali. Mungkin ini cara Alloh menjawab pertanyaanku. Sungguh rugi bagi orang yang tidak mau mendekat kepada Rabbnya, padahal itulah satu hubungan yang tidak akan merugikan, yang tidak akan menyakitkan. Namun hanya sedikit sekali yang merasakan kenyamanan itu. 

                Di situ di masjid Nurul ‘Asri Yogyakarta akan menjadi tempatku untuk banyak merenung dan membangun chemistry. Jika kamu mengunjungi masjid itu maka seketika kamu akan jatuh cinta. Desainnya yang elegan, bersih, mewah dan sangat nyaman. Pintu masuknya dari arah samping. Bagian utama digunakan sebagai tempat sholat, dilingkupi dengan kaca transparan dan bagian belakang adalah terasnya dengan posisi yang lebih tinggi. Yang paling aku suka adalah sebelah terasnya ada taman kecil,air terjun dan kolam ikan. Oh so beautiful. Ini ceritaku, mana ceritamu?