Assalamu'alaikum wr. wb.
Seperti dulu, ketika aku sering kali menangis di kamar, di
teras depan rumah, di jalan, di angkot, di mall. Saat-saat yang menyedihkan
itu. Kala itu sewaktu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah perusahaan
export import di daerah Cawang, Jakarta Timur. Maklumlah, sebagai karyawan baru
tentu belum tahu banyak hal, terlebih urusan pekerjaan, masih banyak yang harus
dipelajari. Jadi, sering sekali melakukan kesalahan dan mendapat omel. Bahkan ada
di suatu minggu aku merasa selalu salah, hingga bisa kurasakan nada bicara managerku
yang selalu keras dan ketus, dan hal itu hanya berlaku bagiku.
Berawal
dari situ aku mulai memiliki hobi baru, yaitu menangis. Suatu hari aku bersama
temanku hendak pergike mal, berhubung sudah masuk waktu dzuhur maka kami
memutuskan untuk sholat dulu di sebuah masjid yang letaknya cukup dekat dengan
kantor. Awalnya ragu karena masjid itu tampak bukan seperti masjid pada umumnya
yang tampil terbuka, masjid ini begitu elegan dan bernuansa tertutup. Tapi setelah
si satpam masjid mempersilahkan kami, akhirnya kami masuk. Di situ, sejak saat
itu, aku katakana bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama, masjid itu
bernama Abu Bakar As-Sidiq berlokasi di Jl Otista Raya, Cawang, Jakarta Timur. Setelah
itu aku sering sekali mampir untuk sholat maghrib di situ selepas pulang dari
kantor dan setelah itu mengikuti kajian ba’da maghrib. Bahkan semenjak aku kos
di sekitar situ, aku selalu sholat tarawih dimasjid itu selama bulan Ramadhan,
meski tempatnya cukup jauh dari kos dibanding masjid yang lain.
Mungkin
tidak ada yang special di masjid itu, tapi memang bagus dari segi kebersihan,
privasi untuk perempuan, Karena antara laki-laki dan perempuan memiliki tempat
masuk yang berbeda, kamar mandi yang bersih dan tertutup, kemudian pintunya
langsung mengarah pada shaf belakang yang sudah dibatasi dengan shaf laki-laki.
Mukena yang disediakan pun tertata rapi dan bersih. karpetnya yang empuk berwarna
merah serta fasilitas AC yang membuatku betah berlama-lama meski belum mandi. Dan
yang paling penting adalah imamnya yang berkualitas dari segi bacaan dan
hafalan. Bahkan saat tarawih imamnya didatangkan langsung dari Madinah.
Terlebih
tempat itu sudah menjadi tempatku yang paling nyaman untuk menyendua dengan
Sang Maha Pencipta. Dimana aku menumpahkan segala doa dan air mata. Di situ
pula aku menemukan chemistery yang tidak setiap waktu bisa kudapatkan dengan
mudah. Di situ pula aku membangun ikatan dengan Rabb semesta alam.
Di sini,
di kota baru yang kutinggali kurang lebih selama 6 bulan, aku kembali menemukan
tempat favoritku. Setelah sekian lama aku bertanya, kapan aku bisa membangun
chemistry seperti dulu lagi, saat aku merasa begitu dekat dengan Alloh. Hingga pada
saatnya aku terbentur oleh sebuah problematika, Alloh selalu memberi petunjuk,
memberi obat, dan menuntun langkahku kemana aku harus kembali. Mungkin ini cara
Alloh menjawab pertanyaanku. Sungguh rugi bagi orang yang tidak mau mendekat
kepada Rabbnya, padahal itulah satu hubungan yang tidak akan merugikan, yang
tidak akan menyakitkan. Namun hanya sedikit sekali yang merasakan kenyamanan
itu.
Di situ
di masjid Nurul ‘Asri Yogyakarta akan menjadi tempatku untuk banyak merenung
dan membangun chemistry. Jika kamu mengunjungi masjid itu maka seketika kamu
akan jatuh cinta. Desainnya yang elegan, bersih, mewah dan sangat nyaman. Pintu
masuknya dari arah samping. Bagian utama digunakan sebagai tempat sholat,
dilingkupi dengan kaca transparan dan bagian belakang adalah terasnya dengan
posisi yang lebih tinggi. Yang paling aku suka adalah sebelah terasnya ada
taman kecil,air terjun dan kolam ikan. Oh so beautiful. Ini ceritaku, mana
ceritamu?