Rabu, 25 Januari 2017

Aku, Mimpiku, dan Jakarta



Bismillahirrahmaanirraahiim,,,

Minggu, 24 Mei 2015
Kutuliskan tentang kisah hidupku, seorang peri pink dari desa yang memilik sejuta mimpi. Sedari kucil, aku dilahirkan dari keluarga sederhana di suatu desa yang cukup plosok. Dari kedua orang tua petani dan berpenghasilan dari menanam padi. Aku adalah anak bungsu dari 7 bersaudara. Dari kecil aku menyadari bahwa aku anak yang paling disayang karena saudaraku yang lain umurnya jauh diatasku. Aku seperti anak tunggal yang tak memiliki saudara karena yang lain sudah memiliki kehidupan masing-masing, tapi hal itulah yang membuatku tidak terbiasa dengan yang namanya kompetisi. aku tak memiliki saingan dalam hal berebut makanan, membersihkan rumah atau melakukan hal lain. semua untukku, hanya untukku. Itulah mengapa aku tumbuh menjadi gadis yang lelet dalam melakukan berbagai hal.
kedua selain lelet aku juga mudah bingungan, otakku tak bisa bekerja dengan cepat, tidak bisa menangkap sinyal dengan cepat dan lamabat dalam merespon, itu hal yang tak kuketahui penyebabnya. berbeda jauh dengan ibuku, sosok wanita yang tegar, mandiri, pemberani, cerdas, dan cekatan. Aku lebih mirip dengan ayahku, lambat, bingungan dan sedikit pemalas, tapi aku tak terlalu bodoh.
Hari demi hari dilalui begitu cepat. kini usiaku memasuki 17 tahun, aku lulus SMA dengan nilai yang pas-pasan. Selanjutnya petualangan baru dimulai.
Hari itu aku mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi bersama di Jogja, berangkat dengan bekal pas-pasan dari ibuku. satu hal yang membuatku sedih ketika itu adalah ayahku sama sekali tidak memberi ridho untukku melanjutkan sekolah, alasannya karena tidak mampu dalam hal biaya, padahal aku sudah mengikuti program bidikmisi untuk mendapatkan beasiswa full. Setelah satu bulan menunggu ternyata hasilnya tidak lolos. Menyadari persaingan yang begitu ketat, persiapan yang belum mantap, mengingat aku crossing Jurusan dan juga tidak adanya ridho dari orangtuaku. Hingga satu titik itu aku merasakan sebuah kesedihan yang tiada taranya. alasan kedua, orang tuaku tak memberi restu karena keduanya hendak menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah. Pasti akan memerlukan biaya yang sangat besar.
Tahu benar saat itu, aku mulai mendapat pelajaran tentang hidup. Walau sesedih apapun aku, namun aku tetap ikut merasakan kebahagiaan saat kedua orangtuaku berangkat haji. Aku menyadari bahwa mereka juga memiliki mimpi, ke tanah suci mungkin hanya satu kali seumur hidup bagi mereka, sedangkan aku belajar arti berkoran. ketika aku harus menunda sekolahku dan membiarkan orangtuaku pergi tanpa beban. Biar aku yang tetap tinggal menjaga rumah.
Untuk mengisi kegiatan aku mengikuti kursus bahasa inggris dan komputer. Setelah orangtuaku pulang dan belajarku selesai, aku berangkat ke jakarta, karena kedua orangtuaku menghendaki agar aku mencari pekerjaan.
Dan di sinilah aku sekarang, sebulan lamanya di jakarta aku baru menemukan pekerjaan. ya, sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan export import barang yang baru berdiri dan masih dalam proses merintis. dengan gaji training sebersar 1,5 juta selama 4 bulan. Awalnya aku tinggal di rumah saudara perempuanku yang sudah berkeluarga, tapi karena tidak enak menumang terlalu lama akhirnya aku memutuskan untuk kost. beberapa orang meragukan kalu dengan gaji segitu aku bisa kost termasuk orang tuaku, tapi aku membuktikan pada semuanya bahwa aku mampu.
Dari kecil aku memang termasuk orang yang hemat dan suka menabung, hingg sekarangpun aku masih seperti itu. Gaji yang sebenarnya tidak sampai 1,5 juta itu aku gunakan untuk kost 250 ribu sebulan. Satu kamar kost dihuni 3 orang, jadi bisa lebih murah. Kemudian sisanya untuk berbagai keperluan. Untuk makan aku dan teman-teman selalu memasak nasi, kemudian aku membeli sayur di warteg seharga 4 rb dapat dua bungkus untuk makan siang dan makan malam, pagi aku mulai melatih diriku untuk tidak sarapan. Sisanya yang hampir 1 juta aku tabung. Bukankah amazing?
Mimpiku, satu hal yang tak pernah lekang oleh waktu, walau keinginan itu terpendam 1 tahun lamanya tapi keinginan belajar di bangku kuliah selalu menjadi doaku di setiap sujud. Baru setelah aku di sini aku sering mengontek ibuku, bicara dari hati ke hati tentang keinginanku, aku buktikan kepada beliau bahwa aku sungguh-sungguh, lama kelamaan ibuku mulai mengerti dan minimal memberi doa dan restu. Dalam hati aku berazzam bahwa aku akan kuliah dengan uangku sendiri, tahu aku bagaimana keadaan orangtuaku di kampung. Aku tak ingin membebani mereka. Inilah alasanku bekerja, aku ingin banyak menabung untuk biaya nanti. Program bidikmisi juga aku ikuti tahun ini. aku tatap bekerja mati-matian. Selain bekerja di kantor aku juga berjualan pulsa dan jualan online, hidup sehemat mungkin, namun tetap sehat.
Dari sini aku belajar tentang hidup yang sesungguhnya. Aku tahu bahwa hidup ini tak semudah yang kita bayangkan, apalagi jika kita memiliki mimpi yang harus dikejar. Perlahan aku berubah. Aku banyak mengingat ibuku, sikapnya yang tangkas cerdas dan cekatan mulai kuterapkan dalam diriku. Waktu ini terlalu singkat, sebentar lagi aku SBMPTN, artinya harus belajar lebih giat, bisa membagi waktu dan juga memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan.
Satu hal yang tak ingin kuulangi. Dulu aku sempat tak lulus SBMPTN, aku tak ingin tahun ini terulang lagi. Alternatif kedua aku searching universitas swasta yang bagus. Kutemukan universitas gunadarma di depok. Tempatnya dekat dengan rumah kakakku. Kebetulan kakak kelasku ada yang kuliah di situ.
Hari tu tanggal 23 Mei 2015 aku goes to UG, bertmu dengan kakak kelasku. Aku diterangkan banyak hal dan juga ditemani langsung bertanya masalah penerimaan dan pendaftaran mahasiswa baru. Dari situ aku tahu bahwa biaya untuk semester 1 hampir 10 juta. deg!! aku langsung terdiam saat itu, lemes rasanya, dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Kalo dihitung-hitung kerjaku beberapa bulan kedepan hanya bisa dapat 4 juta, belum untuk biaya makan. Semakin kalut aku. Oh situasi ini sungguh sangat berat bagiku, namun aku tahu, iya aku miskin, tapi Alloh Maha Kaya, ibuku bilang, cobalah pasrah lillahi ta'ala, ibu turut bantu berdoa, semoga diberi jalan yang terbaik, dimudahkan.
to be continue...
Rabu, 25 Januari 2017
Entah itu sengaja atau kebetulan, kutemukan dokumen ini. Dokumen yang pernah kutulis hampir dua tahun yang lalu, dan setelah itu masih menunggu jawaban mistis dari teka-teki sebelumnya. 2 tahun itu bukan waktu yang lama, bukan juga waktu yang sebentar. Kemudian aku bertanya, Tuhan apa dulu aku semenderita itu? Jika berkaca pada hidupku yang sekarang bahkan aku bingung harus menulis apa? Aku sudah lupa bagaimana rasanya dulu sewaktu di negeri rantau. Aku lupa bagaimana hari-hari yang kujalani, aku lupa bagaimana perjuanganku dalam waktu singkat itu. Hanya saja aku tak akan pernah lupa pada latar belakangku. Di sana? Kau bilang di sana? Di sana di mana? Tidakkah aku sekarang berada di tempat yang sama. Tidak, sejarah itu benar-benar berubah, bahkan aku sudah tidak ingat dengan diriku. Iya memoriku terbatas dan aku lupa. Hanya saja hati ini tidak akan pernah berbohong. Hati ini dulu yang merasakan, yang ikut menangis bersama asa yang hampir runtuh kemudian Alloh membangunnya kembali hingga tegak seperti saat ini.
Iya, dulu bagaimana aku memulai hidupku dengan menumpang, yang sewaktu-waktu kadang terusir, aku yang selalu kena omel managerku, aku yang pernah menumpahkan galon di kantor, aku yang selalu dibully teman sekantorku, aku yang selalu menunggu angkot ketika hari sudah petang, aku yang menangis mendengar alunan biola pengamen jalanan, aku yang mencurahkan perasaan dengan seorang sopir angkot, aku yang kemudian tinggal di sebuah kos-kosan kumuh, aku yang selalu merasa kelaparan saat jam makan siang, aku bekerja hampir 24 jam untuk mengumpulkan uang, aku yang pernah dilamar orang tak di kenal di halte busway, aku yang dulunya selalu membantu kakakku masak setiap pagi dan mencuci piring sepulang dari kantor. Aku juga yang selalu menghabiskan hari liburku untuk belajar. Aku yang selalu mencari link perguruan tinggi. Iya itulah aku. Aku yang selalu menangis tapi belaga sok kuat.

Baiklah, mungkin sudah saatnya aku melanjutkan cerita yang sempat tertunda. Iya hari-hari menjelang SBMPTN, ketika aku sudah tinggal di kos sendiri bersama dua orang temanku. Satu-satunya ikhtiar yang bisa kulakukan hanyalah belajar dan terus berdoa. Sungguh miris saat itu bahkan aku tak pernah memiliki waktu luang. Seharian bekerja disambi berjualan, kemudian juga belajar dan menghabiskan sepertiga malamku untuk bersimpuh. Selalu seperti itu setiap hari.
Selain itu aku juga sering menelepon ibuku untuk berkali-kali meminta ridho untuk melanjutkan studi, aku berjanji bahwa aku yang akan mencari jalan itu sendiri entah bagaimana caranya, yang terpenting bagiku adalah orang tuaku ridho saja. Aku pasti menangis setiap kali menelepon ibuku, ada rasa haru. Aku selalu membayangkan bagaimana mereka hidup, apakah mereka baik-baik saja, apakah mereka makan cukup, apakah mereka memanfaatka sisa umur mereka untuk kebaikan? Selalu aku mengkhawatirkan mereka. Bahkan aku tak pernah neko-neko. Aku selalu menahan keinginan-keinginan kecilku untu membeli barang-barang yang aku inginkan. Prinsipku adalah ketika tanpa barang itu aku masih bisa hidup maka aku tak perlu membelinya. Ada rasa ingin memberi untuk mereka. Maka kusisihkan gajiku yang hanya sedikit itu untuk mereka, bukan untuk apa-apa, aku hanya sedang merayu mereka dan membuktikan bahwa aku sudah bisa hidup mandiri.
Namun ada satu hal yang mengganjal, lantas bagaimana caraku menyampaikan keinginanku pada atasanku bahwa aku ingin melanjutkan studi di tempat yang jauh, dan itu artinya aku harus melepas pekerjaanku. Namun tekadku bulat. Tujuanku bekerja mencari uang adalah untuk kuliah, jika pada akhirnya kerja itu justru menghambat impianku maka sia-sia saja usahaku selama ini.
Akhirnya pada hari itu aku memberanikan diri menghadap Ibu Sumi. Aku utarakan semua niatku, sambil menunjukkan kartu SBMPTNku. Jelas beliau menanyaiku banyak hal. Aku hanya meminta waktu satu hari saja untuk tidak bekerja karena ingin mengikuti ujian SBMPTN, namun beliau menyuruhku menghadap Pak Romi. Semakin bisa dibayangkan betapa lemahnya aku saat itu. Ketakutanku pada Pak Romi, bahkan aku sudah tidak bisa mengingatnya. Namun dengan segala keberanian yang kukumpulkan akhirnya aku menghadap Pak Romi dan mengutarakan semuanya. Sudah bisa ditebak. Hari itu pak Romi hanya bilang akan mempertimbangkan saja dan menyimpan kartu SBMPTNku. Tibalah hari senin. Aku dipanggil dan kami berdua bicara secara pribadi. Bagaimana takutnya aku. Beliau kekeuh untuk tidak memberiku izin, karena sesuai peraturan. Aku hanya boleh meminta cuti jika aku sudah bekerja selama satu tahun. Iya kami sempat berdebat, beliau mengancamku untuk dikenai SP 1. Kau bisa membayangkan bagimana aku ingin sangat menangis. Pertama, jika aku ikut SBMPTN belum tentu aku lolos, kedua mencari pekerjaan di Jakarta bukanlah sesuatu yang mudah. Ketiga, orang tuaku lebih ridho saat aku bekerja ketimbang aku melanjutkan studi. Sampai-sampai aku mengirim pesan ke kakakku, meminta pertimbangan apakah sebaiknya aku keluar dari pekerjaan saja. Hanya saja di situ aku merasa terombang-ambing. Jika aku tidak bekerja maka apa yang akan aku lakukan? Hidup menggelandang di Jakarta? Sungguh sangat miris. Satu yang menjadi kekuatanku adalah aku percaya pada mimpi-mimpiku dan aku percaya akan kekuasaan Alloh. Aku percaya dan aku yakin.
Tibalah hari selasa saat  aku harus mngikuti SBMPTN. Setelah sebelumnya aku sempat menangis karena tahu lokasi ujian yang cukup jauh, di Tangerang yang bahkan aku belum pernah ke sana. Dengan berbaik hati, kakakku mengantarku survei hari minggunya. Dengan berbekal 2 potong roti dan sekotak susu, aku berangkat menyusuri jalanan subuh cawang-kramat jati-pasar rebo-lebak bulus hingga akhirnya aku sampai di Jl. Ir Juanda No 95. Iya di tempat itu, di UIN Jakarta. Ada rasa bahagia yang tidak bisa digambarkan oleh apapun. Rasa bahagia menginjakkan kaki di kampus. Di sana pula aku menemui beberapa orang yang senasib denganku. Teteh Putri namanya. Kita sempat menjadi sahabat saat itu, bahkan kita sempat makan bersama di bawah gerimis kota Tangerang. Iya waktu itu gerimis, hujan, aku tidak tahu kenapa, padahal sebelumnya tidak pernah hujan, bahkan hanya hari itu saja. Aku menganggap ini adalah suatu berkah. Tak kusia-siakan, aku berdoa dengan sungguh-sungguh sepanjang hari itu. Bahagia yang bahkan aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Dari Teteh Putri juga aku belajar banyak hal, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup. Hari itu ditutup dengan syukur tiada hentinya. Walau ini belum apa-apa, tapi sungguh kebahagiaan sehari itu cukup bagiku.
Hari-hari selanjutnya aku menjalani hidupku seperti biasa. Kerja di kantor. Ibu Sumi telah memberiku kesempatan hari itu dan bersedia memback-up pekerjaanku. Konsekwensi ketidakhadiranku adalah potongan uang makan, tapi bagiku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengorbananku selama ini.
Tibalah bulan suci Ramadhan. Ramadhanku untuk yang pertama kalinya di negeri rantau. Ada rasa rindu, ingin pulang, ingin bertemu orang tua, ingin berbuka bersama atau sekedar sahur bersama. Hal itu sangat terasa saat aku jauh dari mereka. Terkadang aku tak sempat sahur, tak sempat mencari makan dan berbuka puasa seadanya. Syukur jika magrib aku sudah pulang dari kantor. Aku hanya berusaha mengokohkan hatiku. Di sini aku sedang berjuang, maka tidak ada alasan untuk manja. Tidak ada alasan untuk mengeluh. Sekalipun aku merasa sangat lelah. Aku merasa berada di titik paling strong waktu itu. Ketika aku selalu berjalan kaki menuju masjid favoriteku, masjid Abu Bakar Ash-Sidiq. Aku selalu berpikir sembari berjalan, apakah iya hidupku akan seperti ini selanjutnya, terus seperti ini, dihantui rasa takut dan diselimuti kesedihan demi kesedihan. Aku akui saat itu di mana aku menjadi orang paling cengeng, tapi sekaligus orang paling kuat. Apalagi segala keluhan itu hanya kucurahkan pada Yang Maha Mendengar.
Hingga akhirnya, Alloh menjawab segala doa-doaku. Ketika itu, hari kamis sore di bulan Ramadhan. Akupun masih sibuk mencocokkan saldo dengan managerku. Aku tak berani membuka pengumuman di kantor, hingga menjelang magrib aku baru selesai, aku langsung menuju masjid favoriteku sembari membeli kue kecil untuk berbuka. Bahkan sampai sholat tarawih selesai aku belum bisa membuka hasil pengumuman. Di perjalanan pulang aku berpikir bahwa sudah saatnya aku menyerah pada takdir. Aku harus mulai ridho dan ikhlas dengan ketentuan Alloh menempatkanku di tempat ini. Seburuk dan semenyedihkan apapun, inilah hidupku yang hanya dibayangi angan-angan. Aku harus terima, aku harus mengakui bahwa tempat ini bukanlah sebuah pulau dimana aku terdampar, tapi di sini adalah tempat tujuanku. Akupun menangis, hingga mata ini lelah, dan tak ada air mata yang tumpah. Tapi setibanya di kos, aku meminta teteh Putri temanku yang jauh di sana untuk membuka hasil pengumumanku. Dan saat itu teteh bilang “Selamat ya kamu di terima di UNY”. Kamu bisa bayangkan bagaimana persaanku saat itu. Antara haru, sedih, bahagia. Dan kupandangi wajah teman sekamarku, ka Puput yang sedang terlelap. Ada raasa sedih, sungguh ketika aku membayangkan akan meninggalkan dia sendirian. Teman yang mengjariku banyak hal.
Dengan terbata-bata aku mengatakan hal itu pada ibuku melalui telepon. Air mata yang bercucuran deras. Orang mengatakan itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Entah itu berarti bagiku atau tidak. Tapi sungguh aku merasakannya. Malam yang kucari-cari momennya semenjak aku masih SD, dan saat itu aku merasa benar-benar menemukannya. Puncak dari seluruh proses panjang yang kulalui. Iya malam itu adalah akumulasi dari malam-malam sebelumnya.
Hampir semalaman aku tak memejamkan mata. Aku hanya bersyukur dan terus bersyukur. Akan ada hari dimana aktivitasku menjadi berbeda. Aku sadar bahwa keajaiban itu memiliki formulasi. Keajaiban itu bisa diusahakan. Keajaiban adalah nama lain dari kerja keras. Keajaiban adalah akumulasi dari proses panjang yang telah kita lalui. Jadi sejak saat itu aku telah menemukan formulasi dari keajaiban itu sendiri. Karena memag sungguh ajaib, peluangku tentulah sangat kecil tapi Alloh benar-benar memberiku kesempatan. Aku membayangkan bagaimana nantinya aku memiliki teman liqo lagi, aku menjadi seorang aktivis sekaligus mahasiswa, indah kawan, jujur sangat indah.
Kurasakan lebaran tahun itu adalah lebaran terindah, saat berkumpul bersama keluarga setelah sekian lama pisah, masyaalloh bahkan aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya. Dan Ketika saudara-saudaraku menanyakan kenapa aku tidak langsungsung ke Jogja, kenapa aku masih harus bolak-balik Jakarta, aku hanya mengatakan bahwa aku harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku, setidaknya aku menyelesaikan tugasku terlebih dahulu. Iya bosku memintaku mencarikan penggantiku dan juga mengajarinya selama aku belum masuk kuliah. Masih ada kekecewaan-kekecewaan selanjutnya, namun tidak sebanding dengan karunia yang telah Alloh berikan. Ketika aku membawa sepupuku untuk menggantikanku, mengajarinya, manager yang tidak cocok dengan si dia, sepupuku di berhentikan, mencari pengganti lain, bolak balik Jakarta-Jogja, bahkan waktu satu minggu terakhir aku lebih memilih bekerja ketimbang pulang. Sedih, beneran sedih, hanya saja ini perjuangan bro.
Itu alasan mengapa aku selalu ingin mengunjungi Jakarta lagi dan lagi. Di sana aku punya keluarga, sahabat, kenangan, dan juga pelajaran yang mendewasakan. Di sana arti hidup yang sebenarnya. Meski aku pun tak selamanya menderita, aku bahagia kok di sana. Saat ka Puput mengajakku ke Mall PGC, saat memiliki kenalan di Gunadarma, saat bermain ke ancol, taman mini, kota tua, masjid istiqlal, saat kita trek-trekan malam itu dengan teman-teman sekantorku di jalanan kota Jakarta, semua mix jadi satu, dan itulah aku, itulah diriku. Mereka tak akan pernah tahu masa laluku, saat aku selalu tertawa sekarang, saat aku bisa jalan-jalan kemana aku mau, saat aku bisa memakai make-up, saat aku bisa membeli barang-barang yang aku inginkan. Terlebih saat aku menjadi keras dan berani bicara di hadapan publik. Disana, disanalah proses itu berlangsung. Ketika aku berjanji pada diriku untuk selalu bahagia, jangan bersedih lagi, jangan menangis lagi, karunia Alloh itu amatlah besar.
Aku selalu mengunjungi kota itu, agar aku ingat, betapa diriku yang sebenarnya sangat kokoh, sangat kuat, sangat mandiri. Kesenangan saat ini, jangan sampai melalaikan, jangan sampai membuatku terlena, dan lupa dengan impian yang hendak ku tuju.
Inilah aku, pelajaran hidup paling berharga yang pernah kumiliki, meski aku harus duduk bersama adik-adik tingkatku, tapi aku bahagia pernah bekerja di perusahaan export import. Aku sangat bahagia, aku merasa menjadi orang yang tahu banyak tentang bisnis itu. Iya aku yang kala itu sempat hampir menangis ketika hendak meninggalkan invoice-invoice yang sudah kugarap selama berbulan-bulan.