Bismillahirrahmaanirraahiim,,,
Minggu, 24 Mei 2015
Kutuliskan tentang kisah hidupku, seorang peri pink dari desa yang
memilik sejuta mimpi. Sedari kucil, aku dilahirkan dari keluarga sederhana di
suatu desa yang cukup plosok. Dari kedua orang tua petani dan berpenghasilan
dari menanam padi. Aku adalah anak bungsu dari 7 bersaudara. Dari kecil aku
menyadari bahwa aku anak yang paling disayang karena saudaraku yang lain
umurnya jauh diatasku. Aku seperti anak tunggal yang tak memiliki saudara
karena yang lain sudah memiliki kehidupan masing-masing, tapi hal itulah yang
membuatku tidak terbiasa dengan yang namanya kompetisi. aku tak memiliki
saingan dalam hal berebut makanan, membersihkan rumah atau melakukan hal lain.
semua untukku, hanya untukku. Itulah mengapa aku tumbuh menjadi gadis yang
lelet dalam melakukan berbagai hal.
kedua selain lelet aku juga mudah bingungan, otakku tak bisa bekerja
dengan cepat, tidak bisa menangkap sinyal dengan cepat dan lamabat dalam
merespon, itu hal yang tak kuketahui penyebabnya. berbeda jauh dengan ibuku,
sosok wanita yang tegar, mandiri, pemberani, cerdas, dan cekatan. Aku lebih
mirip dengan ayahku, lambat, bingungan dan sedikit pemalas, tapi aku tak
terlalu bodoh.
Hari demi hari dilalui begitu cepat. kini usiaku memasuki 17 tahun,
aku lulus SMA dengan nilai yang pas-pasan. Selanjutnya petualangan baru
dimulai.
Hari itu aku mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi bersama di Jogja,
berangkat dengan bekal pas-pasan dari ibuku. satu hal yang membuatku sedih
ketika itu adalah ayahku sama sekali tidak memberi ridho untukku melanjutkan
sekolah, alasannya karena tidak mampu dalam hal biaya, padahal aku sudah
mengikuti program bidikmisi untuk mendapatkan beasiswa full. Setelah satu bulan
menunggu ternyata hasilnya tidak lolos. Menyadari persaingan yang begitu ketat,
persiapan yang belum mantap, mengingat aku crossing Jurusan dan juga tidak
adanya ridho dari orangtuaku. Hingga satu titik itu aku merasakan sebuah
kesedihan yang tiada taranya. alasan kedua, orang tuaku tak memberi restu
karena keduanya hendak menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah. Pasti akan
memerlukan biaya yang sangat besar.
Tahu benar saat itu, aku mulai mendapat pelajaran tentang hidup. Walau
sesedih apapun aku, namun aku tetap ikut merasakan kebahagiaan saat kedua
orangtuaku berangkat haji. Aku menyadari bahwa mereka juga memiliki mimpi, ke
tanah suci mungkin hanya satu kali seumur hidup bagi mereka, sedangkan aku
belajar arti berkoran. ketika aku harus menunda sekolahku dan membiarkan
orangtuaku pergi tanpa beban. Biar aku yang tetap tinggal menjaga rumah.
Untuk mengisi kegiatan aku mengikuti kursus bahasa inggris dan
komputer. Setelah orangtuaku pulang dan belajarku selesai, aku berangkat ke
jakarta, karena kedua orangtuaku menghendaki agar aku mencari pekerjaan.
Dan di sinilah aku sekarang, sebulan lamanya di jakarta aku baru
menemukan pekerjaan. ya, sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan export
import barang yang baru berdiri dan masih dalam proses merintis. dengan gaji
training sebersar 1,5 juta selama 4 bulan. Awalnya aku tinggal di rumah saudara
perempuanku yang sudah berkeluarga, tapi karena tidak enak menumang terlalu
lama akhirnya aku memutuskan untuk kost. beberapa orang meragukan kalu dengan
gaji segitu aku bisa kost termasuk orang tuaku, tapi aku membuktikan pada
semuanya bahwa aku mampu.
Dari kecil aku memang termasuk orang yang hemat dan suka menabung,
hingg sekarangpun aku masih seperti itu. Gaji yang sebenarnya tidak sampai 1,5
juta itu aku gunakan untuk kost 250 ribu sebulan. Satu kamar kost dihuni 3
orang, jadi bisa lebih murah. Kemudian sisanya untuk berbagai keperluan. Untuk
makan aku dan teman-teman selalu memasak nasi, kemudian aku membeli sayur di
warteg seharga 4 rb dapat dua bungkus untuk makan siang dan makan malam, pagi
aku mulai melatih diriku untuk tidak sarapan. Sisanya yang hampir 1 juta aku
tabung. Bukankah amazing?
Mimpiku, satu hal yang tak pernah lekang oleh waktu, walau keinginan
itu terpendam 1 tahun lamanya tapi keinginan belajar di bangku kuliah selalu
menjadi doaku di setiap sujud. Baru setelah aku di sini aku sering mengontek
ibuku, bicara dari hati ke hati tentang keinginanku, aku buktikan kepada beliau
bahwa aku sungguh-sungguh, lama kelamaan ibuku mulai mengerti dan minimal
memberi doa dan restu. Dalam hati aku berazzam bahwa aku akan kuliah dengan
uangku sendiri, tahu aku bagaimana keadaan orangtuaku di kampung. Aku tak ingin
membebani mereka. Inilah alasanku bekerja, aku ingin banyak menabung untuk
biaya nanti. Program bidikmisi juga aku ikuti tahun ini. aku tatap bekerja
mati-matian. Selain bekerja di kantor aku juga berjualan pulsa dan jualan
online, hidup sehemat mungkin, namun tetap sehat.
Dari sini aku belajar tentang hidup yang sesungguhnya. Aku tahu bahwa
hidup ini tak semudah yang kita bayangkan, apalagi jika kita memiliki mimpi
yang harus dikejar. Perlahan aku berubah. Aku banyak mengingat ibuku, sikapnya
yang tangkas cerdas dan cekatan mulai kuterapkan dalam diriku. Waktu ini
terlalu singkat, sebentar lagi aku SBMPTN, artinya harus belajar lebih giat,
bisa membagi waktu dan juga memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan.
Satu hal yang tak ingin kuulangi. Dulu aku sempat tak lulus SBMPTN,
aku tak ingin tahun ini terulang lagi. Alternatif kedua aku searching universitas
swasta yang bagus. Kutemukan universitas gunadarma di depok. Tempatnya dekat
dengan rumah kakakku. Kebetulan kakak kelasku ada yang kuliah di situ.
Hari tu tanggal 23 Mei 2015 aku goes to UG, bertmu dengan kakak
kelasku. Aku diterangkan banyak hal dan juga ditemani langsung bertanya masalah
penerimaan dan pendaftaran mahasiswa baru. Dari situ aku tahu bahwa biaya untuk
semester 1 hampir 10 juta. deg!! aku langsung terdiam saat itu, lemes rasanya,
dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Kalo dihitung-hitung kerjaku
beberapa bulan kedepan hanya bisa dapat 4 juta, belum untuk biaya makan.
Semakin kalut aku. Oh situasi ini sungguh sangat berat bagiku, namun aku tahu,
iya aku miskin, tapi Alloh Maha Kaya, ibuku bilang, cobalah pasrah lillahi
ta'ala, ibu turut bantu berdoa, semoga diberi jalan yang terbaik, dimudahkan.
to be continue...
Rabu, 25 Januari 2017
Entah itu sengaja atau kebetulan, kutemukan dokumen ini. Dokumen yang
pernah kutulis hampir dua tahun yang lalu, dan setelah itu masih menunggu
jawaban mistis dari teka-teki sebelumnya. 2 tahun itu bukan waktu yang lama,
bukan juga waktu yang sebentar. Kemudian aku bertanya, Tuhan apa dulu aku
semenderita itu? Jika berkaca pada hidupku yang sekarang bahkan aku bingung
harus menulis apa? Aku sudah lupa bagaimana rasanya dulu sewaktu di negeri
rantau. Aku lupa bagaimana hari-hari yang kujalani, aku lupa bagaimana
perjuanganku dalam waktu singkat itu. Hanya saja aku tak akan pernah lupa pada
latar belakangku. Di sana? Kau bilang di sana? Di sana di mana? Tidakkah aku
sekarang berada di tempat yang sama. Tidak, sejarah itu benar-benar berubah,
bahkan aku sudah tidak ingat dengan diriku. Iya memoriku terbatas dan aku lupa.
Hanya saja hati ini tidak akan pernah berbohong. Hati ini dulu yang merasakan,
yang ikut menangis bersama asa yang hampir runtuh kemudian Alloh membangunnya
kembali hingga tegak seperti saat ini.
Iya, dulu bagaimana aku memulai hidupku dengan menumpang, yang
sewaktu-waktu kadang terusir, aku yang selalu kena omel managerku, aku yang
pernah menumpahkan galon di kantor, aku yang selalu dibully teman sekantorku, aku
yang selalu menunggu angkot ketika hari sudah petang, aku yang menangis
mendengar alunan biola pengamen jalanan, aku yang mencurahkan perasaan dengan
seorang sopir angkot, aku yang kemudian tinggal di sebuah kos-kosan kumuh, aku
yang selalu merasa kelaparan saat jam makan siang, aku bekerja hampir 24 jam
untuk mengumpulkan uang, aku yang pernah dilamar orang tak di kenal di halte
busway, aku yang dulunya selalu membantu kakakku masak setiap pagi dan mencuci
piring sepulang dari kantor. Aku juga yang selalu menghabiskan hari liburku
untuk belajar. Aku yang selalu mencari link perguruan tinggi. Iya itulah aku. Aku
yang selalu menangis tapi belaga sok kuat.
Baiklah, mungkin sudah saatnya aku melanjutkan cerita yang sempat
tertunda. Iya hari-hari menjelang SBMPTN, ketika aku sudah tinggal di kos
sendiri bersama dua orang temanku. Satu-satunya ikhtiar yang bisa kulakukan
hanyalah belajar dan terus berdoa. Sungguh miris saat itu bahkan aku tak pernah
memiliki waktu luang. Seharian bekerja disambi berjualan, kemudian juga belajar
dan menghabiskan sepertiga malamku untuk bersimpuh. Selalu seperti itu setiap
hari.
Selain itu aku juga sering menelepon ibuku untuk berkali-kali meminta
ridho untuk melanjutkan studi, aku berjanji bahwa aku yang akan mencari jalan
itu sendiri entah bagaimana caranya, yang terpenting bagiku adalah orang tuaku
ridho saja. Aku pasti menangis setiap kali menelepon ibuku, ada rasa haru. Aku selalu
membayangkan bagaimana mereka hidup, apakah mereka baik-baik saja, apakah
mereka makan cukup, apakah mereka memanfaatka sisa umur mereka untuk kebaikan? Selalu
aku mengkhawatirkan mereka. Bahkan aku tak pernah neko-neko. Aku selalu menahan
keinginan-keinginan kecilku untu membeli barang-barang yang aku inginkan. Prinsipku
adalah ketika tanpa barang itu aku masih bisa hidup maka aku tak perlu
membelinya. Ada rasa ingin memberi untuk mereka. Maka kusisihkan gajiku yang
hanya sedikit itu untuk mereka, bukan untuk apa-apa, aku hanya sedang merayu
mereka dan membuktikan bahwa aku sudah bisa hidup mandiri.
Namun ada satu hal yang mengganjal, lantas bagaimana caraku
menyampaikan keinginanku pada atasanku bahwa aku ingin melanjutkan studi di
tempat yang jauh, dan itu artinya aku harus melepas pekerjaanku. Namun tekadku
bulat. Tujuanku bekerja mencari uang adalah untuk kuliah, jika pada akhirnya
kerja itu justru menghambat impianku maka sia-sia saja usahaku selama ini.
Akhirnya pada hari itu aku memberanikan diri menghadap Ibu Sumi. Aku utarakan
semua niatku, sambil menunjukkan kartu SBMPTNku. Jelas beliau menanyaiku banyak
hal. Aku hanya meminta waktu satu hari saja untuk tidak bekerja karena ingin
mengikuti ujian SBMPTN, namun beliau menyuruhku menghadap Pak Romi. Semakin bisa
dibayangkan betapa lemahnya aku saat itu. Ketakutanku pada Pak Romi, bahkan aku
sudah tidak bisa mengingatnya. Namun dengan segala keberanian yang kukumpulkan
akhirnya aku menghadap Pak Romi dan mengutarakan semuanya. Sudah bisa ditebak. Hari
itu pak Romi hanya bilang akan mempertimbangkan saja dan menyimpan kartu
SBMPTNku. Tibalah hari senin. Aku dipanggil dan kami berdua bicara secara
pribadi. Bagaimana takutnya aku. Beliau kekeuh untuk tidak memberiku izin,
karena sesuai peraturan. Aku hanya boleh meminta cuti jika aku sudah bekerja
selama satu tahun. Iya kami sempat berdebat, beliau mengancamku untuk dikenai
SP 1. Kau bisa membayangkan bagimana aku ingin sangat menangis. Pertama, jika
aku ikut SBMPTN belum tentu aku lolos, kedua mencari pekerjaan di Jakarta
bukanlah sesuatu yang mudah. Ketiga, orang tuaku lebih ridho saat aku bekerja
ketimbang aku melanjutkan studi. Sampai-sampai aku mengirim pesan ke kakakku,
meminta pertimbangan apakah sebaiknya aku keluar dari pekerjaan saja. Hanya saja
di situ aku merasa terombang-ambing. Jika aku tidak bekerja maka apa yang akan
aku lakukan? Hidup menggelandang di Jakarta? Sungguh sangat miris. Satu yang
menjadi kekuatanku adalah aku percaya pada mimpi-mimpiku dan aku percaya akan
kekuasaan Alloh. Aku percaya dan aku yakin.
Tibalah hari selasa saat aku
harus mngikuti SBMPTN. Setelah sebelumnya aku sempat menangis karena tahu
lokasi ujian yang cukup jauh, di Tangerang yang bahkan aku belum pernah ke
sana. Dengan berbaik hati, kakakku mengantarku survei hari minggunya. Dengan berbekal
2 potong roti dan sekotak susu, aku berangkat menyusuri jalanan subuh cawang-kramat
jati-pasar rebo-lebak bulus hingga akhirnya aku sampai di Jl. Ir Juanda No 95. Iya
di tempat itu, di UIN Jakarta. Ada rasa bahagia yang tidak bisa digambarkan
oleh apapun. Rasa bahagia menginjakkan kaki di kampus. Di sana pula aku menemui
beberapa orang yang senasib denganku. Teteh Putri namanya. Kita sempat menjadi
sahabat saat itu, bahkan kita sempat makan bersama di bawah gerimis kota Tangerang.
Iya waktu itu gerimis, hujan, aku tidak tahu kenapa, padahal sebelumnya tidak
pernah hujan, bahkan hanya hari itu saja. Aku menganggap ini adalah suatu
berkah. Tak kusia-siakan, aku berdoa dengan sungguh-sungguh sepanjang hari itu.
Bahagia yang bahkan aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Dari Teteh
Putri juga aku belajar banyak hal, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup. Hari
itu ditutup dengan syukur tiada hentinya. Walau ini belum apa-apa, tapi sungguh
kebahagiaan sehari itu cukup bagiku.
Hari-hari selanjutnya aku menjalani hidupku seperti biasa. Kerja di
kantor. Ibu Sumi telah memberiku kesempatan hari itu dan bersedia memback-up
pekerjaanku. Konsekwensi ketidakhadiranku adalah potongan uang makan, tapi bagiku
tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengorbananku selama ini.
Tibalah bulan suci Ramadhan. Ramadhanku untuk yang pertama kalinya di
negeri rantau. Ada rasa rindu, ingin pulang, ingin bertemu orang tua, ingin
berbuka bersama atau sekedar sahur bersama. Hal itu sangat terasa saat aku jauh
dari mereka. Terkadang aku tak sempat sahur, tak sempat mencari makan dan
berbuka puasa seadanya. Syukur jika magrib aku sudah pulang dari kantor. Aku hanya
berusaha mengokohkan hatiku. Di sini aku sedang berjuang, maka tidak ada alasan
untuk manja. Tidak ada alasan untuk mengeluh. Sekalipun aku merasa sangat
lelah. Aku merasa berada di titik paling strong waktu itu. Ketika aku selalu
berjalan kaki menuju masjid favoriteku, masjid Abu Bakar Ash-Sidiq. Aku selalu
berpikir sembari berjalan, apakah iya hidupku akan seperti ini selanjutnya,
terus seperti ini, dihantui rasa takut dan diselimuti kesedihan demi kesedihan.
Aku akui saat itu di mana aku menjadi orang paling cengeng, tapi sekaligus
orang paling kuat. Apalagi segala keluhan itu hanya kucurahkan pada Yang Maha
Mendengar.
Hingga akhirnya, Alloh menjawab segala doa-doaku. Ketika itu, hari
kamis sore di bulan Ramadhan. Akupun masih sibuk mencocokkan saldo dengan
managerku. Aku tak berani membuka pengumuman di kantor, hingga menjelang magrib
aku baru selesai, aku langsung menuju masjid favoriteku sembari membeli kue
kecil untuk berbuka. Bahkan sampai sholat tarawih selesai aku belum bisa
membuka hasil pengumuman. Di perjalanan pulang aku berpikir bahwa sudah saatnya
aku menyerah pada takdir. Aku harus mulai ridho dan ikhlas dengan ketentuan
Alloh menempatkanku di tempat ini. Seburuk dan semenyedihkan apapun, inilah
hidupku yang hanya dibayangi angan-angan. Aku harus terima, aku harus mengakui
bahwa tempat ini bukanlah sebuah pulau dimana aku terdampar, tapi di sini
adalah tempat tujuanku. Akupun menangis, hingga mata ini lelah, dan tak ada air
mata yang tumpah. Tapi setibanya di kos, aku meminta teteh Putri temanku yang
jauh di sana untuk membuka hasil pengumumanku. Dan saat itu teteh bilang “Selamat
ya kamu di terima di UNY”. Kamu bisa bayangkan bagaimana persaanku saat itu. Antara
haru, sedih, bahagia. Dan kupandangi wajah teman sekamarku, ka Puput yang
sedang terlelap. Ada raasa sedih, sungguh ketika aku membayangkan akan
meninggalkan dia sendirian. Teman yang mengjariku banyak hal.
Dengan terbata-bata aku mengatakan hal itu pada ibuku melalui telepon.
Air mata yang bercucuran deras. Orang mengatakan itu adalah malam yang lebih
baik dari seribu bulan. Entah itu berarti bagiku atau tidak. Tapi sungguh aku
merasakannya. Malam yang kucari-cari momennya semenjak aku masih SD, dan saat
itu aku merasa benar-benar menemukannya. Puncak dari seluruh proses panjang
yang kulalui. Iya malam itu adalah akumulasi dari malam-malam sebelumnya.
Hampir semalaman aku tak memejamkan mata. Aku hanya bersyukur dan
terus bersyukur. Akan ada hari dimana aktivitasku menjadi berbeda. Aku sadar
bahwa keajaiban itu memiliki formulasi. Keajaiban itu bisa diusahakan. Keajaiban
adalah nama lain dari kerja keras. Keajaiban adalah akumulasi dari proses panjang
yang telah kita lalui. Jadi sejak saat itu aku telah menemukan formulasi dari
keajaiban itu sendiri. Karena memag sungguh ajaib, peluangku tentulah sangat
kecil tapi Alloh benar-benar memberiku kesempatan. Aku membayangkan bagaimana
nantinya aku memiliki teman liqo lagi, aku menjadi seorang aktivis sekaligus
mahasiswa, indah kawan, jujur sangat indah.
Kurasakan lebaran tahun itu adalah lebaran terindah, saat berkumpul
bersama keluarga setelah sekian lama pisah, masyaalloh bahkan aku tidak bisa
menggambarkan bagaimana rasanya. Dan Ketika saudara-saudaraku menanyakan kenapa
aku tidak langsungsung ke Jogja, kenapa aku masih harus bolak-balik Jakarta,
aku hanya mengatakan bahwa aku harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku,
setidaknya aku menyelesaikan tugasku terlebih dahulu. Iya bosku memintaku
mencarikan penggantiku dan juga mengajarinya selama aku belum masuk kuliah. Masih
ada kekecewaan-kekecewaan selanjutnya, namun tidak sebanding dengan karunia
yang telah Alloh berikan. Ketika aku membawa sepupuku untuk menggantikanku,
mengajarinya, manager yang tidak cocok dengan si dia, sepupuku di berhentikan,
mencari pengganti lain, bolak balik Jakarta-Jogja, bahkan waktu satu minggu
terakhir aku lebih memilih bekerja ketimbang pulang. Sedih, beneran sedih,
hanya saja ini perjuangan bro.
Itu alasan mengapa aku selalu ingin mengunjungi Jakarta lagi dan lagi.
Di sana aku punya keluarga, sahabat, kenangan, dan juga pelajaran yang
mendewasakan. Di sana arti hidup yang sebenarnya. Meski aku pun tak selamanya
menderita, aku bahagia kok di sana. Saat ka Puput mengajakku ke Mall PGC, saat
memiliki kenalan di Gunadarma, saat bermain ke ancol, taman mini, kota tua,
masjid istiqlal, saat kita trek-trekan malam itu dengan teman-teman sekantorku
di jalanan kota Jakarta, semua mix jadi satu, dan itulah aku, itulah diriku. Mereka
tak akan pernah tahu masa laluku, saat aku selalu tertawa sekarang, saat aku
bisa jalan-jalan kemana aku mau, saat aku bisa memakai make-up, saat aku bisa
membeli barang-barang yang aku inginkan. Terlebih saat aku menjadi keras dan
berani bicara di hadapan publik. Disana, disanalah proses itu berlangsung. Ketika
aku berjanji pada diriku untuk selalu bahagia, jangan bersedih lagi, jangan menangis
lagi, karunia Alloh itu amatlah besar.
Aku selalu mengunjungi kota itu, agar aku ingat, betapa diriku yang
sebenarnya sangat kokoh, sangat kuat, sangat mandiri. Kesenangan saat ini,
jangan sampai melalaikan, jangan sampai membuatku terlena, dan lupa dengan
impian yang hendak ku tuju.
Inilah aku, pelajaran hidup paling berharga yang pernah kumiliki,
meski aku harus duduk bersama adik-adik tingkatku, tapi aku bahagia pernah
bekerja di perusahaan export import. Aku sangat bahagia, aku merasa menjadi
orang yang tahu banyak tentang bisnis itu. Iya aku yang kala itu sempat hampir
menangis ketika hendak meninggalkan invoice-invoice yang sudah kugarap selama
berbulan-bulan.
