Kamis, 21 Januari 2016

Kembali ke Rumah-Mu


Assalamu'alaikum wr. wb.


               Seperti dulu, ketika aku sering kali menangis di kamar, di teras depan rumah, di jalan, di angkot, di mall. Saat-saat yang menyedihkan itu. Kala itu sewaktu aku masih menjadi karyawan baru di sebuah perusahaan export import di daerah Cawang, Jakarta Timur. Maklumlah, sebagai karyawan baru tentu belum tahu banyak hal, terlebih urusan pekerjaan, masih banyak yang harus dipelajari. Jadi, sering sekali melakukan kesalahan dan mendapat omel. Bahkan ada di suatu minggu aku merasa selalu salah, hingga bisa kurasakan nada bicara managerku yang selalu keras dan ketus, dan hal itu hanya berlaku bagiku. 

                Berawal dari situ aku mulai memiliki hobi baru, yaitu menangis. Suatu hari aku bersama temanku hendak pergike mal, berhubung sudah masuk waktu dzuhur maka kami memutuskan untuk sholat dulu di sebuah masjid yang letaknya cukup dekat dengan kantor. Awalnya ragu karena masjid itu tampak bukan seperti masjid pada umumnya yang tampil terbuka, masjid ini begitu elegan dan bernuansa tertutup. Tapi setelah si satpam masjid mempersilahkan kami, akhirnya kami masuk. Di situ, sejak saat itu, aku katakana bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama, masjid itu bernama Abu Bakar As-Sidiq berlokasi di Jl Otista Raya, Cawang, Jakarta Timur. Setelah itu aku sering sekali mampir untuk sholat maghrib di situ selepas pulang dari kantor dan setelah itu mengikuti kajian ba’da maghrib. Bahkan semenjak aku kos di sekitar situ, aku selalu sholat tarawih dimasjid itu selama bulan Ramadhan, meski tempatnya cukup jauh dari kos dibanding masjid yang lain. 

                Mungkin tidak ada yang special di masjid itu, tapi memang bagus dari segi kebersihan, privasi untuk perempuan, Karena antara laki-laki dan perempuan memiliki tempat masuk yang berbeda, kamar mandi yang bersih dan tertutup, kemudian pintunya langsung mengarah pada shaf belakang yang sudah dibatasi dengan shaf laki-laki. Mukena yang disediakan pun tertata rapi dan bersih. karpetnya yang empuk berwarna merah serta fasilitas AC yang membuatku betah berlama-lama meski belum mandi. Dan yang paling penting adalah imamnya yang berkualitas dari segi bacaan dan hafalan. Bahkan saat tarawih imamnya didatangkan langsung dari Madinah.
                Terlebih tempat itu sudah menjadi tempatku yang paling nyaman untuk menyendua dengan Sang Maha Pencipta. Dimana aku menumpahkan segala doa dan air mata. Di situ pula aku menemukan chemistery yang tidak setiap waktu bisa kudapatkan dengan mudah. Di situ pula aku membangun ikatan dengan Rabb semesta alam. 

                Di sini, di kota baru yang kutinggali kurang lebih selama 6 bulan, aku kembali menemukan tempat favoritku. Setelah sekian lama aku bertanya, kapan aku bisa membangun chemistry seperti dulu lagi, saat aku merasa begitu dekat dengan Alloh. Hingga pada saatnya aku terbentur oleh sebuah problematika, Alloh selalu memberi petunjuk, memberi obat, dan menuntun langkahku kemana aku harus kembali. Mungkin ini cara Alloh menjawab pertanyaanku. Sungguh rugi bagi orang yang tidak mau mendekat kepada Rabbnya, padahal itulah satu hubungan yang tidak akan merugikan, yang tidak akan menyakitkan. Namun hanya sedikit sekali yang merasakan kenyamanan itu. 

                Di situ di masjid Nurul ‘Asri Yogyakarta akan menjadi tempatku untuk banyak merenung dan membangun chemistry. Jika kamu mengunjungi masjid itu maka seketika kamu akan jatuh cinta. Desainnya yang elegan, bersih, mewah dan sangat nyaman. Pintu masuknya dari arah samping. Bagian utama digunakan sebagai tempat sholat, dilingkupi dengan kaca transparan dan bagian belakang adalah terasnya dengan posisi yang lebih tinggi. Yang paling aku suka adalah sebelah terasnya ada taman kecil,air terjun dan kolam ikan. Oh so beautiful. Ini ceritaku, mana ceritamu?

0 komentar:

Posting Komentar