Minggu, 01 Februari 2015

Berbagi Itu Indah


Assalamu’alaikum wr wb

Senin, 21 januari 2015 ketika sosok aku baru merambah kota metropolitan ini beberapa hari, di kota yang terkenal dengan kemacetannya Cijantung, Jaktim. Si peri pemilik pena berwarna pink ini sengaja hijrah setelah lulus belajar bahasa inggris,meninggalkan orang tua, kampung halaman dan jejak-jejak mimpi yang telah diukir di sana selama 18 tahun.

Aku, si peri pemilik pena berwarna pink ingin menjalani hidup yang lain, hijrah ke kota ini semata-mata ingin sesuatu yang baru, menjemput rizki Alloh kemudian melanjutkan studi. Beruntung aku memiliki banyak saudara di sini. Dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Selagi belajar mengenal kota ini aku selalu menyibukkan diriku dengan hal-hal yang positif. Kakak perempuanku adalah seorang ibu rumah tangga yang juga aktif mengikuti kajian di majlis taklim. Sudah dua kali ini aku turut serta menghadiri majlis taklim bersama ibu-ibu yang insyaalloh sholihah. 

Agenda pagi hari ini mengunjungi panti jompo di kompleks Pondok Indah Jaksel. Dari rumah berangkat jam 9,menyusuri jalanan yang macet dan berdebu. Di kanan kiri jalan aku melihat bangunan yang bertingkat hingga puluhan lantai, mereka itu gedung-gedung pencakar langit hasil karya arsitek-arsitek jenius. Bangunan yang berbentuk kubus dengan dinding-dinding kaca yang transparan membuat setiap orang bisa menjelajahkan pandangannya menembus ruang. Jalanan yang berliku dan naik turun menjadi ciri khas tersendiri yang membuat takjub.

Pukul 09.45 kami tiba di tempat tujuan,kemudian langsung di sambut oleh anak-anak PKL yang mengenakan seragam pramuka. Mereka membawakan makanan yang kami bawa dengan sigap. Mereka, penghuni panti jompo yang kebanyakan sudah lanjut usia dan tak bisa melakukan banyak aktivitas layaknya kita yang masih muda dan memiliki tenaga kuat. Mereka sudah duduk rapi di masjid dan siap mendengarkan kajian. Saya beserta ibu-ibu taklim menyalami nenek-nenek satu persatu. Acarapun di mulai, dibuka dengan bacaan umul kitab dan dilanjutkan dengan mengkaji al-quran. Aku, seorang yang baru pertama kali datang ke tempat ibu langsung diberi tugas membaca al-quran. Mencelos dada ini menyadari betapa jauhnya bacaanku dari kata fasih. Namun dengan niat yang tulus karena Alloh aku membacanya dengan khusyuk dan kemudian di kaji oleh Bu Ustadz. 

Bu ustadz, kali ini aku ingin sedikit membahas tentang bu ustadz. Beliau seorang wanita luar biasa. Usianya sudah hampir 80 tahunan, tapi beliau orang yang cerdas dan semanagat mengkaji ilmu. Dari tahun 80an beliau sudah rajin mengunjungi panti tersebut setiap bulannya. Beliau seorang yang sudah sepuh namun masih memiliki pendengaran dan penglihatan yang jelas. Sahabat tahu apa rahasianya? Al-Qur’an. Ya selagi mudah hingga usianya yang sedah senja beliau selalu menjadikan al-quran sebagai sahabatnya yang selalu beliau baca dan lantunkan berkali-kali. Selain itu beliau juga mampu berbahasa arab dan inggris dengan baik, subhanalloh sahabat, bisakah kita yang perempuan menjadi seperti beliau yang hingga usia senjanya masih berbagi ilmu dengan sesama? Semoga begitu sahabat,maka dari itu jangan sampai kita menuntut ilmu ketika di usia muda dan meninggalkannya saat kita sudah sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing. Teruslah menuntut ilmu hingga ke liang lahat.

Oke, peri pink lanjut ke acara yes.... kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada seorang kakek-kakek yang bertanya tentang kematian, caranya bertanya sungguh seperti anak usia 5 tahun yang masih begitu polos. Memang benar, ketika usia kita sudah lanjut maka kita akan dikembalikan ke keadaan saat kita masih kanak-kanak. Pertanyaan itu pun di jawab oleh bu ustadz dengan baik. Begitu selanjutnya hingga acara yang terakhir yaitu membagikan kue kecil kepada nenek-nenek dan kakek-kakek. Aku turut membagikan kue ke kakek-kakek, mereka menerimanya dengan penuh kegembiraan dan kesyukuran diiringi dengan ucapan terimakasih dan syukur kepada Alloh. Saat itulah entah mengapa air mataku begitu ingin menetes menahan rasa haru. Bahkan hingga aku menuliskan kata-kata ini aku masih meneteskan air mataku. Dua tetes mereka jatuh ke lantai tepat di depan laptop keponakanku. Membuat penglihatanku buram menyisakan isakan ringan.

Wajah-wajah mereka masih kuingat dengan jelas. Beginikah rasanya berbagi dengan sesama, dengan mereka yang membutuhkan. Ada rasa haru yang mendalam. Jika kita sering mengeluh dengan kekurangan kita, keterbatasan kita, kekurangan kita dalam mencari rizki, kegagalan kita dalam menggapai cita-cita cobalah tengok mereka agar kita bisa merasakan betapa beruntungnya kita yang masih diberi kekuatan dan tempat tinggal yang nyaman. Kebanyakan kita cenderung malas untuk menghadiri tempat semacam itu, mungkin karena perasaan jijik atau sebagainya, tapi bagiku ini adalah pengalaman yang sangat berharga yang akan selalu kujadikan pelajaran. 

Memandang wajah-wajah mereka yang penuh dengan ketulusan membuatku teringat dengan kedua orangtuaku di kampung yang juga sudah sepuh.mengingatkanku pada sosok mereka yang telah berjuang untuk aku. Tangan keriput mereka,kulit hitam mereka menjadi bukti betapa keras mereka memperjuankanku untuk menjadi insan yang berguna untuk sesama. Oh dear, seharusnya sekarng sudah waktunya mereka duduk manis menikmati masa tua mereka dengan bercengkrama pada Dzat yang Maha Memberi Hidup. Itulah dear salah satu alasanku untuk berhijrah dan menjemput rizki Alloh secara pribadi, kemudian melanjutkan studi dan mewujudkan mimpi-mimpiku, menjadikan diriku sebagai great woman untuk sekitarku.

Oh dear, betapa melankolisnya diriku masih tak bisa membendung air mata ini untuk tidak meluap. Oops keponakanku memergokiku di kamar saat aku sedang duduk bersila sambil menekan keyboard laptop dan berlinang air mata. Dear sampai di sini dulu peri pink berbagi cerita dengan kalian. Mungkin setelah ini peri pink akan sibuk menghapus air mata dengan menghabiskan berlembar-lembar tisu. Semoga di kesempatan berikutnya peri pink masih bisa menggorekan pena peri dengan cerita-cerita baru yang menjadi saksi jejak langkahku, yang menjadi saksi bahwa seorang peri pink yang bernama Futy pernah hidup di dunia ini dan ada di tengah-tengah mereka yang begitu aku cintai. Sampai jumpa sahabat, see you at the next time.

Wassalamu’alaikum wr wb

0 komentar:

Posting Komentar