Assalamu’alaikum
wr wb
Bismillahirrahmanirrahiim
Di sore hari penuh pesona. Rintik
hujan masih mengiringi panggilan sang pemikat syurga, semoga antum sudah
melaksanakan sholat. Sembari menyisihkan waktu aku mau sedikit berbagi cerita.
Sempet ketawa geli juga pas suatu
hari ibuku cerita tentang enam anak yang kepergok nyolong ikan di kolam tengah
sawah milik tetangga sebelah. Opps!! Tapi sempet miris juga, soalnya keenam
anak itu umurnya masih di bawah 10 tahun. Terus lagi kata ibuku beberapa hari
yang lalu memergoki anak-anak itu nyuri buah kedondong milik tetangga depan
rumah. Mungkin emang sepele karena yang dicuri Cuma kedondong ataupun ikan,
tapi sadar gak sih kalau perbuatan seperti itu gak pantes dilakuin anak sekecil
mereka?
Kenapa aku sempet ketawa geli di saat
aku sendiri juga merasa miris. Karena setiap kali mereka ketahuan pasti bakal
lari dan nyari seribu jurus buat kabur, itu artinya mereka masih punya rasa
takut, meskipun baru sebatas terhadap manusia. Hal itu akan sangat berdampak pada proses
pembentukan karakter mereka sendiri. Wong
kecilnya saja sudah suka nyuri, gimana gedenya? Na’udzubillahimindzalik.
Terus lagi, pernah suatu sore
sesudah sholat magrib ibuku pulang langsung komplain gara-gara anak-anak itu
sempat membuat gaduh dan membuyarkan kekhusyu’an jamaah yang lagi menunaikan
sholat magrib. Pake adegan berantem lah, nangis lah, pecicilan lah, tapi cerdiknya mereka ya itu, pake seribu jurus buat
kabur begitu sholat selesai. Sampai pernah suatu hari tetangga yang bener-bener
udah ngrasa dongkol benget ngejar tuh anak sampe depan rumah pak RT yang
jaraknya cukup jauh. Fiuh, bisa kebayang gak sih? Padahal udah bolak-balik
ibu-ibu, bapak-bapak ngomongin anak-anak itu, mulai dengan cara pelan sampe
katakanlah ngebentak, tapi sama sekali gak mempan, bahkan mereka cenderung
melawan. Ibuku sampe bingung harus bagaimana cara menghadapi mereka. Dan
mirisnya lagi sebagian orang tua mereka hanya memaklumi.
Ketika ibu aku cerita demikian, aku
dengan entengnya menjawab, harusnya dididiknya dari kecil, ibuku menjawab lagi,
kalo mereka juga anak kecil, mereka belum cukup gede. Oops!! Kalah satu skor :D.
Hech, aku coba berfikir sejenak. Bukankah seharusnya seorang anak dididik dari
mulai anak itu masih berada di dalam kandungan. Orang tua juga harus
introspeksi diri, karena selamanya tindakan seorang anak bukan semata-mata
karena kesalahan anak itu sendiri (ini bukan modus loh).
Istilah buah jatuh tak jauh dari
pohonnya itu bukan hanya sekedar opini belaka, tapi sebuah aksioma. Ketika
seorang anak masih berada dalam kandungan, sebenarnya ia mampu menangkap dan
memahami reaksi dari lingkungan di sekitarnya, terutama apa yang dirasakan oleh
si ibu. Jadi segala sesuatu, pikiran, tindakan yang ibu lakukan akan sangat
mempengaruhi kepribadian anak. Itu mengapa ibu hamil dianjurkan untuk selalu
berpikir positif.
Jika sebuah teori mengatakan bahwa
seorang bayi yang masih berada di dalam kandungan akan memiliki budi pekerti
yang halus jika rutin diperdengarkan musik klasik. Namun jika menurutku musik
klasik itu diganti dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an insya Alloh akan menjadi
anak yang sholeh/sholehah dan cerdas. Aamiin.
Lalu jika kita mengaitkan dengan
fenomena di atas, bisa ditarik kesimpulan. Bisa jadi karena orang tua, bisa
jadi karena lingkungan, namun jika ditinjau dari segi lingkungan, bisa di
katakana bahwa Pengampiran (saya berbicara lingkungan sendiri) merupakan sebuah
desa yang terkenal santri-santrinya yang ‘alim atau orang yang taat beribadah (meskipun
arti sebenarnya adalah orang yang berilmu) menurutku cukup baik (meskipun
sekarang sudah jarang santri-santrinya).
Dari pemaparan di atas bukan berarti
aku nuduh itu adalah kesalahan orang tua 100% tapi bisa jadi karena pengaruh
lingkungan yang lebih luas, seperti contohnya tontonan harian mereka juga
sangat berpengaruh.
Kembali lagi ke persoalan bayi dalam
kandungan (maaf kalo tulisannya agak gaje :D). ketika aku memaparkan kebiasaan
para ibu yang masih gak ngerti juga perihal pantangan yang digembor-gemborkan
orang jaman dulu. Mungkin mereka menganggap itu hanya sebuah teori kuno yang
udah gak klop buat di pasang di jaman modern kayak sekarang ini. Itu kan kata mereka orang jaman dulu, kita
kan laen, kita kan orang jaman sekarang, jadi beda dong! Mungkin begitu
salah satunya cara mereka berdalih.
Ketika aku mengajukan beberapa
pertanyaan. Apa yang sering ibu lakukan saat hamil? Apa yang mereka dengar? Apa
yang mereka tonton? Dan apa yang mereka pikirkan dan rasakan? Dari situ ibuku
setuju denganku. Akibat dari dekadensi yang berimbas pada peradaban generasi
selanjutnya.
So, bagi para ibu, selalu ingat!
Peradaban dunia di masa yang akan datang ada di tangan kalian. Dari tangan
kalian pula seorang anak akan tumbuh, menjadi sosok seperti apakah mereka, itu
sangat di pengaruhi peran seorang ibu. Mendidik mereka sejak dalam kandungan,
kemudian melindungi, menaungi, mengasihi, dari mulai sejak dalam kandungan,
kemudian saat anak itu lahir ke dunia dari mulai balita hingga dewasa, peran
seorang ibu tak akan pernah bisa lepas.
Sebagai seorang perempuan (calon
ibu) aku pun berharap akan lahir seorang anak dari rahimku, seorang anak yang
soleh, berbudi pekerti luhur, cerdas dan tentunya bisa menjadi kholifah di muka
bumi ini. Serta satu hal yang kucita-citakan adalah memiliki seorang anak yang
mencintai Alloh dan Rasulnya, mampu bersahabat baik dengan Al-Qur’an. Hafidz
dan hafidzah. Mohon di Aamiin-I J
Untuk ibuku tercinta, terimakasih
telah menjadi ibu yang terbaik bagiku, menjadi orang yang paling berharga
bagiku, menjadi orang yang paling mengerti denganku. Karena jasa-jasanya aku
ada di dunia ini, aku mampu tumbuh menjadi seorang gadis. Terimakasih untuk
setiap doa yang dipanjatkan untukkku. Terimaksih telah mendidikku dengan sangat
baik, meskipun aku belum sepenuhnya bisa menjadi sosok yang diharapkan ibuku.
Maafkan aku karena masih terlalu sering membuat ibu khawatir, tapi percayalah
bahwa apa yang kulakukan adalah demi kebaikan dan berjuang di jalan Alloh.
Serta tak lupa juga terimakasih telah berbagi ‘cantik’ denganku J juga terimakasih karena
telah menyayangiku lebih dari yang lain (bukannya pilih kasih loh). Ibuku
adalah figure yang baik, dari beliau aku belajar banyak hal. Semoga Alloh
selalu melindungi, mengasihi, menyayangi, dan merahmati ibuku tercinta. Aamiin.
Jika banyak sekali terdapat
kesalahan pada tulisan di atas, mohon dimaklumi, karena aku hanyalah seorang
gadis berusia 17 tahun, seorang gadis yang baru tumbuh dan baru mulai untuk
belajar. Seorang gadis yang belum pernah merasakan menjadi seorang ibu, namun
bisa merasakan betapa berharga atas kehadirannya.
Sampai jumpa di kemudian hari J
Wassalamu’alaikum
wr wb
0 komentar:
Posting Komentar