Jumat, 24 Januari 2014

Peran Seorang Ibu



Assalamu’alaikum wr wb
Bismillahirrahmanirrahiim
            Di sore hari penuh pesona. Rintik hujan masih mengiringi panggilan sang pemikat syurga, semoga antum sudah melaksanakan sholat. Sembari menyisihkan waktu aku mau sedikit berbagi cerita.
            Sempet ketawa geli juga pas suatu hari ibuku cerita tentang enam anak yang kepergok nyolong ikan di kolam tengah sawah milik tetangga sebelah. Opps!! Tapi sempet miris juga, soalnya keenam anak itu umurnya masih di bawah 10 tahun. Terus lagi kata ibuku beberapa hari yang lalu memergoki anak-anak itu nyuri buah kedondong milik tetangga depan rumah. Mungkin emang sepele karena yang dicuri Cuma kedondong ataupun ikan, tapi sadar gak sih kalau perbuatan seperti itu gak pantes dilakuin anak sekecil mereka?
            Kenapa aku sempet ketawa geli di saat aku sendiri juga merasa miris. Karena setiap kali mereka ketahuan pasti bakal lari dan nyari seribu jurus buat kabur, itu artinya mereka masih punya rasa takut, meskipun baru sebatas terhadap manusia.  Hal itu akan sangat berdampak pada proses pembentukan karakter mereka sendiri. Wong kecilnya saja sudah suka nyuri, gimana gedenya? Na’udzubillahimindzalik.
            Terus lagi, pernah suatu sore sesudah sholat magrib ibuku pulang langsung komplain gara-gara anak-anak itu sempat membuat gaduh dan membuyarkan kekhusyu’an jamaah yang lagi menunaikan sholat magrib. Pake adegan berantem lah, nangis lah, pecicilan lah, tapi cerdiknya mereka ya itu, pake seribu jurus buat kabur begitu sholat selesai. Sampai pernah suatu hari tetangga yang bener-bener udah ngrasa dongkol benget ngejar tuh anak sampe depan rumah pak RT yang jaraknya cukup jauh. Fiuh, bisa kebayang gak sih? Padahal udah bolak-balik ibu-ibu, bapak-bapak ngomongin anak-anak itu, mulai dengan cara pelan sampe katakanlah ngebentak, tapi sama sekali gak mempan, bahkan mereka cenderung melawan. Ibuku sampe bingung harus bagaimana cara menghadapi mereka. Dan mirisnya lagi sebagian orang tua mereka hanya memaklumi.
            Ketika ibu aku cerita demikian, aku dengan entengnya menjawab, harusnya dididiknya dari kecil, ibuku menjawab lagi, kalo mereka juga anak kecil, mereka belum cukup gede. Oops!! Kalah satu skor :D. Hech, aku coba berfikir sejenak. Bukankah seharusnya seorang anak dididik dari mulai anak itu masih berada di dalam kandungan. Orang tua juga harus introspeksi diri, karena selamanya tindakan seorang anak bukan semata-mata karena kesalahan anak itu sendiri (ini bukan modus loh).
            Istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu bukan hanya sekedar opini belaka, tapi sebuah aksioma. Ketika seorang anak masih berada dalam kandungan, sebenarnya ia mampu menangkap dan memahami reaksi dari lingkungan di sekitarnya, terutama apa yang dirasakan oleh si ibu. Jadi segala sesuatu, pikiran, tindakan yang ibu lakukan akan sangat mempengaruhi kepribadian anak. Itu mengapa ibu hamil dianjurkan untuk selalu berpikir positif.
            Jika sebuah teori mengatakan bahwa seorang bayi yang masih berada di dalam kandungan akan memiliki budi pekerti yang halus jika rutin diperdengarkan musik klasik. Namun jika menurutku musik klasik itu diganti dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an insya Alloh akan menjadi anak yang sholeh/sholehah dan cerdas. Aamiin.
            Lalu jika kita mengaitkan dengan fenomena di atas, bisa ditarik kesimpulan. Bisa jadi karena orang tua, bisa jadi karena lingkungan, namun jika ditinjau dari segi lingkungan, bisa di katakana bahwa Pengampiran (saya berbicara lingkungan sendiri) merupakan sebuah desa yang terkenal santri-santrinya yang ‘alim atau orang yang taat beribadah (meskipun arti sebenarnya adalah orang yang berilmu) menurutku cukup baik (meskipun sekarang sudah jarang santri-santrinya).
            Dari pemaparan di atas bukan berarti aku nuduh itu adalah kesalahan orang tua 100% tapi bisa jadi karena pengaruh lingkungan yang lebih luas, seperti contohnya tontonan harian mereka juga sangat berpengaruh.
            Kembali lagi ke persoalan bayi dalam kandungan (maaf kalo tulisannya agak gaje :D). ketika aku memaparkan kebiasaan para ibu yang masih gak ngerti juga perihal pantangan yang digembor-gemborkan orang jaman dulu. Mungkin mereka menganggap itu hanya sebuah teori kuno yang udah gak klop buat di pasang di jaman modern kayak sekarang ini. Itu kan kata mereka orang jaman dulu, kita kan laen, kita kan orang jaman sekarang, jadi beda dong! Mungkin begitu salah satunya cara mereka berdalih.
            Ketika aku mengajukan beberapa pertanyaan. Apa yang sering ibu lakukan saat hamil? Apa yang mereka dengar? Apa yang mereka tonton? Dan apa yang mereka pikirkan dan rasakan? Dari situ ibuku setuju denganku. Akibat dari dekadensi yang berimbas pada peradaban generasi selanjutnya.
            So, bagi para ibu, selalu ingat! Peradaban dunia di masa yang akan datang ada di tangan kalian. Dari tangan kalian pula seorang anak akan tumbuh, menjadi sosok seperti apakah mereka, itu sangat di pengaruhi peran seorang ibu. Mendidik mereka sejak dalam kandungan, kemudian melindungi, menaungi, mengasihi, dari mulai sejak dalam kandungan, kemudian saat anak itu lahir ke dunia dari mulai balita hingga dewasa, peran seorang ibu tak akan pernah bisa lepas.
            Sebagai seorang perempuan (calon ibu) aku pun berharap akan lahir seorang anak dari rahimku, seorang anak yang soleh, berbudi pekerti luhur, cerdas dan tentunya bisa menjadi kholifah di muka bumi ini. Serta satu hal yang kucita-citakan adalah memiliki seorang anak yang mencintai Alloh dan Rasulnya, mampu bersahabat baik dengan Al-Qur’an. Hafidz dan hafidzah. Mohon di Aamiin-I J
            Untuk ibuku tercinta, terimakasih telah menjadi ibu yang terbaik bagiku, menjadi orang yang paling berharga bagiku, menjadi orang yang paling mengerti denganku. Karena jasa-jasanya aku ada di dunia ini, aku mampu tumbuh menjadi seorang gadis. Terimakasih untuk setiap doa yang dipanjatkan untukkku. Terimaksih telah mendidikku dengan sangat baik, meskipun aku belum sepenuhnya bisa menjadi sosok yang diharapkan ibuku. Maafkan aku karena masih terlalu sering membuat ibu khawatir, tapi percayalah bahwa apa yang kulakukan adalah demi kebaikan dan berjuang di jalan Alloh. Serta tak lupa juga terimakasih telah berbagi ‘cantik’ denganku J juga terimakasih karena telah menyayangiku lebih dari yang lain (bukannya pilih kasih loh). Ibuku adalah figure yang baik, dari beliau aku belajar banyak hal. Semoga Alloh selalu melindungi, mengasihi, menyayangi, dan merahmati ibuku tercinta. Aamiin.
            Jika banyak sekali terdapat kesalahan pada tulisan di atas, mohon dimaklumi, karena aku hanyalah seorang gadis berusia 17 tahun, seorang gadis yang baru tumbuh dan baru mulai untuk belajar. Seorang gadis yang belum pernah merasakan menjadi seorang ibu, namun bisa merasakan betapa berharga atas kehadirannya.
            Sampai jumpa di kemudian hari J
Wassalamu’alaikum wr wb
           

0 komentar:

Posting Komentar