Assalamu’alaikum wr wb
Sahabat, si peri pemilik pena berwarna pink
ini kembali menyambut setelah sekian lama tak menyapa. Kalau dihitung-hitung
sudah 1 bulan ya? Entah apalah yang membuatku begitu jarang menyiapkan sebuah
hidangan di rumahku ini. Tapi di hari senin ini peri pink mau berbagi cerita
tentang aktivitas saat ini.
Me, seorang perempuan penggemar warna pink
saat ini bekerja di sebuah perusahaan jasa export import barang di
shenzhen-china :D oops salah, itu mah destinationnya, originnya mah dari
jakarta aja, kalau eksport tapi ya.... sebuah dunia baru yang sangat jauh dari
kata sastra, ketika setiap hari harus berurusan dengan berbagai dokumen dan
invoice sudah menyita banyak waktuku dari menulis. Tapi Futi janji deh bakal
lebih sering bikin coretan.
Dari awal direkturku udah bilang kalo belajar
itu ga mudah, tapi kalau serius pasti bisa deh. Awal masuk kerja masih ga
ngerti sebenernya kerjaanku apaan sih, katanya work team, tapi apa hubungannya
dengan teman-teman yang lebih sering menerima telepon dari customer dan mengetik
email, sedangkan aku hanya menghitung uang berbentuk rupiah dan dollar.
“kerja itu ga mudah de” begitu kata ustadzhaku
di bbm. Kena omel? Sering! Bikin tagihan salah? Pun sering :D
“Futy kerjainnya pelan-pelan aja, yang penting
bener” kata ka Vranco saat jam makan siang bersama, saya tahu kalo cowo china
itu sedang menghiburku.
“kalo Futy ngga ngerti tanya aja ke ka Puput”
kata ka Putri teman perempuan satu-satunya di kantor.
“pembelajaran atau keterlaluan?” celetuk ka kristian
saat jam kerja usai.
“kalo awalnya emang ga ngerti, tapi nanti
lama-lama juga paham kok” kata ka sepri yang sok dewasa.
Begitu banyak warna ya dear? :D tapi saya
bahagia dan bersyukur memiliki teman yang baik seperti mereka, karena teman
sangat pengaruh dengan kinerja kita, yes?
Apapun lah profesinya pasti selalu ada resiko,
ketika saat itu pula saya mencoba membuka sebuah obrolan dengan supir angkot di
Pasar Rebo.
“Bang, susah senengnya jadi supir angkot
gimana sih?”
“Ya senengnya kalo lagi banyak rejeki Neng,
susahnya kalo lagi sepi, abis itu juga resikonya gede, bawa nyawa orang, bawa
mobil orang pula, iya kan?”
Aku hanya mengangguk mengerti. Tapi pernah
juga aku membaca sebuah buku tentang mencintai pekerjaan sendiri. Kalo kita ini
memang harus mencintai pekerjaan sendiri, kalau tidak maka akan ada banyak
orang yang siap menggantikan posisi kita. Bekerjalah dengan hati, niatkan
ibadah maka hasil keringan kita tak hanya berbuah materi tapi juga menambah
timbangan amal kita diakhirat, Aamiin.
Dari sini pula aku belajar banyak hal yang
dulu tak kudapatkan saat di bangku sekolah. Salah satunya teliti! Soalnya dalam
dunia kerja itu ga pernah pandang bulu, mau kita bisa ngga bisa pokoknya harus
bisa, suka ga suka pokoknya harus bisa, kerjaan beres. Kalo ngetik sampe titik
koma spasi pun harus diperhatikan, soalnya kalo salah customer suka ga mau
nerima invoicenya. Kalo dulu waktu sekolah, salah dikit dimaklumin lah
ya....atau kalo guru yang killerpun paling juga Cuma dapet nilai jelek, tapi
kalo di dunia kerja, pasti dapet teguran deh. Dan lagi satu hal yang sewaktu
sekolah dulu sering diabaikan. Kalo guru bilang, siapa yang mau tanya? Pasti
semua diem :D. Nyesel kalo udah gini, kesempatan yang ada dibuang, padahal kalo
di dunia kerja harus bawel dan banyak tanya, apapun itu. So, yang lagi sekolah
harus bener-bener memanfaatkan kesempatan yang ada ya, jangan sepelekan
kesalahan sekecil apapun, karena kesalahan kecil akan membuat kita lalai dan
menimbulkan kesalahan besar, padahal kalo di dunia kerja dituntut untuk perfect
segala sesuatunya. Itu juga motivasiku di masa yang akan datang.
Itu sekedar gambaran pekerjaan di kantor,
sekarang peri mau mengajak kalian menilik situasi diluar. Kalian yang tinggal
di luar jakarta pernah ga sih ngebayangin gimana rasanya tinggal di kota sempit
yang banyak penduduk ini? Bahkan jalanan yang udah segitu lebarnya ga cukup
untuk dilaluli ribuan kendaraan, bahkan ada yang dengan egoisnya dijalan
sesempit itu menggunakan mobil pribadi yang hanya ditumpangi si ‘sopir’ saja
terutama di jalan raya bogor.
Terkadang penat saat menghabiskan waktu hingga
satu jam setengan diangkutan umum, dan mungkin bagi sebagian orang menjumpai
pengamen yang menambah kebisingan semakin membuat kepala ingin meledak,
tapi.... bagi saya pribadi kehadiran pengamen jalanan di tengah kemacetan
menjadi hiburan tersendiri dan juga sebagai cerminan cara kita untuk bersyukur.
Kebanyakan mereka membawa gitar atau bahkan sekedar bertepuk-tepuk tangan
sambil melantunkan lagu. Tapi suatu hari saya jumpai pengamen yang lain dari
yang lain. kali ini dia membawa sebuah biola, sebuah nada mellow pun mengalun
dari gesekan alat musiknya. Hingga tak kusadari air mataku jatuh. Entah apalah
yang sedang kupikirkan, tapi berdosa rasanya kalau aku tak menyisihkan uangku
sedangkan aku ikut menikmati permainan biolanya. Sayang, bakat sebagus itu
hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang bermuka masam penuh peluh yang
sedang kelelahan dengan perkerjaan sehari.
Oh dear, tapi hidup itu pilihan, bahagia itu
ada di hati bukan tempat di sekitar kita, kemanapun kaupergi tak akan kau temui
kebahagiaan itu selain dalam hatimu. Saat aku memiliki
dunia yang begitu meriah dan penuh cahaya lampion di malam hari, melewati
jalanan ramai itu, gedung bertingkat, mal besar, namun aku merasa sendiri.
Hatiku masih tertinggal di sebuah kota yang selalu mengingatkanku pada kalian,
sahabat pelangi seperti ‘sebiru hati ini’
0 komentar:
Posting Komentar