Betapa Futy tidak meyadari bahwa dulu aku menulis begitu banyak kisah, namun hanya mengendap dalam memori komputerku saja. padahal ada banyak pelajaran yang bisa futy bagikan. tulisan yang sudah lebih dari dua tahun mengendap, kini futy mencoba untuk membagi, semoga bisa diambil hikmahnya :)
Author POV
Bismillahirrahmaanirrahiim
Saudaraku,
maukah kau kuceritakan sebuah kisah pilu yang membuat butiran beningku meleleh,
dadaku remuk, dan jiwaku porak-poranda? (Lebay) ah tapi bohong jika aku tak
berkata demikian.
Apa
yang ada di pikiranmu saat mendengar kata Ayah? Sesosok yang tangguh, kuat,
mengayomi dan memberikan perlindungan bagimu? Membimbingmu? Mengasihanimu?
Menuntunmu menuju jalan-Nya? Namun bagaimana jika semua itu hanya sebuah ilusi?
Bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Maka tersenyumlah tatkala kau
memiliki seorang ayah yang baik. Mungkin kau bertanya apakah ada seorang ayah
yang jahat? Padahal ia telah menjadi perantara bagimu untuk bisa menapakkan
kakimu di bumi ini? Mungkin ada tapi minor. Baiklah jangan terlalu lama
mengeryitkan dahi, nanti kau bisa pusing sendiri.
Ketika
hari itu seorang gadis mendekatiku dan melempar seulas senyum yang begitu aneh?
Kau bilang aneh? Iya begitu aneh. Kau tahu ia melakukannya berapa kali? Sering,
bahkan sangat sering, padahal aku sedang asyik membaca buku. Maka aku pun
terpaksa harus menangkupkan buku demi mendengar sebuah cerita, ceita yang
membuat butiran beningku meleleh.
“Fut,
ceritakan padaku tentang Perempuan dan jilbab”
spontan ia berkata begitu. Kau tahu? Ia membuatku bingung harus memulai
dari mana, tapi baiklah, aku tak ingin membuatnya kecewa
“Perempuan
itu istimewa, ia bukan hanya sekedar perhiasan dunia, namun ia adalah tiang
Negara, karena ia memiliki peran yang begitu penting di dalam Masyarakat.
Karena dari seorang perempuan lahir seorang generasi penerus bangsa. Dari
tangannya tercipta sebuah karakter dan kepribadian yang akan membentuk
identitas suatu masyarakat. Jika perempuannya baik maka generasinya baik, kemudian
lingkungan baik, dan juga Negara akan baik pula,namun jika perempuannya tidak
baik, maka bisa kau bayangkan sendiri.
Lalu
perempuan yang baik itu yang seperti apa? Perempuan yang baik adalah perempuan
yang shalihah. Definisinya adalah ia yang ketika di pandang suaminya menyenangkan,
diperintah oleh suaminya menaati, dan ketika suami tak berada di rumah maka ia
menjaga harta dan kehormatannya. Lalu bagaimana dengan kita yang belum
bersuami? Yaitu menjaga diri dan kehormata kita,sebelum kita “dititipkan” orang
tua kita kepada imam kita, salah satunya dengan memakai jilbab. Kenapa harus
jilbab? Karena jilbab bisa melindungi kita dari kejahatan. Seperti perintah
Alloh dalam surah An-Nur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Perintah mengenakan
jilbab. Jika itu sudah menjadi perintah Alloh maka kita wajib menaatinya, karena perintah Alloh pasti baik untuk kita.
Sebagai awal mula, belajarlah sedikit demi sedikit, karena manusia butuh
proses, hingga kamu benar-benar menyadari makna jilbab itu sendiri, hingga kamu
enggan untuk melepasnya kembali. Namun tidak cukup hanya sampai di situ, karena
setelah itu pasti akan ada banyak cobaan berat yang perlahan mengikis
perjuangan kita. Itu pasti! Namun di situ lah Alloh ingin tahu seberapa besar
kesungguhan kita untuk menaati perintah-Nya, semakin kita banyak di uji, makan
insya Alloh kita semakin dicinta, jadi tetap lah bertahan hingga kamu mencapai
kemenangan”
Ia
pun hanya tersenyum tanpa memotong ucapanku sedikitpun. Bahkan ia sering merasa
kagum saat aku bercerita tentang kelebihan wanita-wanita yang menutup aurat,
dengan mengibaratkanya seperti berlian, barang dagangan di etalase, sampai
makanan sekalipun. Ia selalu mengerti dan membenarkan ucapanku. Hingga suatu
hari ia berkata bahwa sesungguhnya ia juga ingin berjilbab, sungguh aku sangat
bahagia, namun entah apa yang menjadi problemik baginya saat ini hingga
jilbabnya itu belum istiqomah membalut tubuhnya.
Kau
tahu aku sangat bahagia saat ia dengan telaten mengajakku untuk sholah dhuha di
masjid atau sekedar menemaniku? Ia membuatku kagum. Pernah pula ia tiba-tiba
mendekatiku dan bertanya tentang kisah para sahabat, padahal aku sedang asyik
main game. Dengan membagi otak aku pun melakukan keduanya.
“Mmmm,
banyak, bahkan sangat banyak. Tentunya sangat menginspirasi dan membuat kita
sadar betapa kecil pengorbanan kita yang hidup di masa sekarang”
Ia
terdiam, aku pun terdiam.
“Ali
itu istrinya berapa?” whatssss? Ia bertanya begitu padaku? Ia seketika
membuatku mengakhiri gameku.
“Ali
itu istrinya satu, yaitu Fatimah RA, putri Rasululloh”
“Satu?
Berarti Ali setia donk” ia membuat bibirku menyabit.
“Ali
itu menikah muda, ketika usianya baru 18 tahun. Mereka hidup bersahaja, namun
bahagia, bahkan sangat bahagia J terlebih jika kamu tahu kisah asmara mereka”
“Terus,
terus?” ia semakin antusias, membuatku mengangkat sebelah alisku.
“Jangan
kamu fikir kalau Ali dan Fatimah itu pernah pacaran seperti layaknya remaja
zaman sekarang. Proses pelamarannya pun unik, dan tentunya bikin terenyuh.
Ketika Abu Bakar melamar Fatimah, padahal sebenarnya Ali menaruh rasa pada
Fatimah, tapi ia berfikir bahwa ia tidaklah pantas, karena usianya dan
pekerjaanya. Ia berfikir jika Abu Bakar yang menjadi suaminya pasti akan lebih
baik, namun Rasululloh menolak. Teman-temannya semakin membesarkan hati Ali untuk mencoba melamar Fatimah, tapi ia belum
berani. Hingga akhirnya Umar datang melamar, Ali pun memiliki pemikiran yang
sama seperti saat Abu Bakar melamar, namun di tolak juga. Bukannya ia semakin
optimis namun semakin pesimis, karena kedua sahabat Rasululloh saja telah ditolak.
Tapi teman-temannya selalu mendukungnya dan akhirnya memberanikan diri untuk
melamar Fatimah dan mendatangi rumah Rasululloh. Kamu tahu waktu teman-teman
bertanya jawabannya? Ali berkata AHLAN WASAHLAN begitu katanya, maka pernikahan
pun di laksanakan. Ternyata Rasululloh itu tahu bahwa Ali dan Fatimah sama-sama
memiliki rasa yang sama. sebuah pelajaran, bahwa jodoh memang tak akan kemana,
bahwa jodoh itu pasti akan dipertemukan oleh Alloh, meski yang satu di belahan
bumi utara dan yang satu di belahan bumi selatan, tak peduli akan hal itu,
Alloh pasti akan mempertemukan dua hati yang saling terpaut itu” ah, aku akui
temanku yang satu ini memang sangat menyebalkan, karena ia telah membuat air
mataku meleleh. Megapa justru aku sendiri yang menangis? Padahal aku sendiri
yang sedang bercerita. Kau tahu, ia yang menenagkanku dan memberiku semangat.
“Futi
yang sabar ya” katanya penuh makna.
Hmmmmmzzzzz,
sudahlah, bukankah aku berkata bahwa aku akan menceritakan sebuah kisah pilu?
Tentang seorang Ayah? Ya baiklah. Tapi satu catatan, tak perlu mempertanyakan
ceritanya ataupun berfikir sesuatu yang aneh, saranku, hanya ambil saja
hikmahnya J
***
Paramita POV
Assalamu’alaikum, perkenalkan namaku
Paramita Adinda, biasa dipanggil Mita, ya sebut saja begitu. Aku anak ke-3 dari
5 bersaudara, semua kakak dan adikku laki-laki, hanya aku seorang yang
perempuan, mungkin itu sebabnya aku menjadi sangat tomboy dan hoby berkelahi,
maksudnya bela diri :D
Hari
itu, tepatnya sehari sebelum hari raya
idul fitri. Sore itu aku mandi di kamar mandi, setelah selelsai aku menaruh
celanaku di gantungan dan lupa membawanya keluar kamar mandi. Tak berselang
lama Ayahku masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi. Adikku, dengan
jahilnya menjatuhkan celanaku hingga mengenai ayah.
Malam
itu. ketika takbir dikumandangkan, menggema di setiap penjuru. Aku terduduk
sendiri di teras rumah, ditemani semilir angin yang menyapu lembut ujung-ujung
rambutku. Pikiranku kacau antara rindu dan sedih. Di satu sisi aku memikirkan
ibuku yang tidak pulag selama 2 tahun ia berada di Jakarta. Dan di sisi yang
lain aku memikirkan diriku sendiri yang terlampau lelah menjadi ibu kedua bagi
adik-adikku. Aku menengok seisi kamar di mana di situ tergantung baju baruku
untuk lebaran besok yang sudah ku cuci dan ku setrika. Tak lupa baju adik
bungsuku yang ku beli dari hasil keringatku sendiri. Ya, selama seminggu ini
aku membantu temanku menjaga toko baju milik ibunya di pasar. Hasilnya, lumayan
bisa untuk mebeli baju adikku dan juga bajuku.
Malam
ini berlalu tanpa makna yang berarti, aku hanya berdiam diri di tengah
kegelapan mendengar gema takbir yang perlahan menuntun hatiku untuk hanyut
dalam dekapan alunannya. Tanpa kusadari butiran air mataku jatuh. Terlintas
fikiran, mengapa hidupku seperti ini? Aku lelah…lelah dan sangat lelah, tapi
tak ada satupun orang yang mengetahuinya.
***
Pagi
itu sangat ramai, ya tepatnya hari ini adalah hari raya i’dul fitri. Aku
menyandang pakaian baruku dengan bangga. Berkali-kali aku memutar tubuhku.
Mencoba mematut penampilanku. Ah, terkadang aku juga memiliki sifat feminime
sebagai seorang perempuan. Aku membuka tirai yang menutupi pintu kamarku.
Terlihat di ruang tamu sudah banyak tamu yang berdatangan untuk
bersilaturrahmi. Tiba-tiba ayahku memanggilku dengan berteriak.
“Tata….dimana
kamu?”
“Iya
Yah…Tata di sini. Ada apa yah?” aku keluar dari kamar dan menemui ayah di ruang
tamu.
“Kamu
yang jatuhin celana kamu ke kepala Ayah?” ayah membentakku dengan mata melotot,
tak lupa dengan gayanya saat marah, berkacak pinggang.
“Engga
Yah, bukan Tata…bener…” aku membela diri dengan suara bergetar.
Ayah
melemparkan celanaku ke mukaku dengan kasar “Ini buktinya apa?”
“Bener
Yah…Tata gak bohong….” Aku melihat adikku yang tengah berdiri di salah satu
ujung ruangan itu. iya hanya diam menatapku. Beberapa pasang mata juga
menatapku dengan aneh. Mereka pasti bertanya-tanya sebenarnya ada masalah apa
antara aku dan ayahku.
“Ngaku
gak kamu!” ayah semakin antusias membentakku.
“Nda
Yah, bukan Tata…Tata gak tahu apa-apa” aku masih tetap kekeuh membela diri.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang terasa panas dan nylekit hinggap di
pipiku. Tangan kekar ayah dengan akurat mendarat di pipiku.
“Ngaku
gak kamu!” ayah masih mendesakku. Adikku hanya diam terpaku, sedangkan
orang-orang merasa terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dan aku…aku
hanya menahan rasa sakit ini.
“Ngga…”
sekali lagi ayah menamparku hingga terasa terbakar wajahku. Namun aku hanya
diam dan diam. Kemudian sesuatu yang membuatku terkejut ayah merobek baju
bagian depanku hingga terlihat pakaian dalamku.
“Sama
orang tua itu harusnya yang sopan, jangan bertindak sembarangan dan membuat
orang tua marah” sambung ayah memarahiku. Tanpa kusadari air mataku
mengalir….aku malu…dan sungguh aku malu…tapi kakiku serasa di pasung hingga aku
tak dapat bergerak. Ayah pergi meninggalkanku sedangkan aku masih di tempat,
menahan rasa malu yang amat sangat. Sungguh aku tak tahu apa yang harus aku
lakukan.
Hari
ini adalah hari yang sangat menyedihkan untukku, dimana seharusnya aku bahagia,
namun aku harus menahan rasa sakit dan rasa malu. Dan juga…baju baruku…yang
kubeli dengan kerja kerasku sendiri kini sudah dirusak oleh ayah. Namun yang
paling kusesali adalah, aku sangat malu ketika auratku terbuka dihadapan banyak
orang. Sungguh aku tak mengetahui jalan pikiran ayahku.
***
Author POV
Futy
sempet shock waktu denger cerita itu…menurutmu apa itu masuk akal seorang ayah
memarahi anaknya sampai sedemikian rupa, padahal kesalahan anaknya tak
seberapalah. Mana ada seorang ayah yang tega berbuat sekasar itu pada anaknya,
menamparnya…dan yang lebih membuatku terkejut merobek bajunya dihadapan banyak
orang. Entahlah…aku sendiri masih tak
tahu dan tak mengerti. Tapi Futy Cuma nda tega waktu dia bercerita seperti itu
hingga menangis. Seorang dia menangis…ini adalah hal yang sangat jarang dan aku
yakin ini bukan cerita yang hanya sekedar diada-ada.
Hmmmm,
mungkin cukup ini catatan Futy, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua
dan ayahnya menyadari kesalahannya serta temanku diberi kesabaran oleh Alloh
SWT. Segerakan berjilbab ya neng….:)
0 komentar:
Posting Komentar