Rabu, 07 September 2016

Kisah Pilu


Betapa Futy tidak meyadari bahwa dulu aku menulis begitu banyak kisah, namun hanya mengendap dalam memori komputerku saja. padahal ada banyak pelajaran yang bisa futy bagikan. tulisan yang sudah lebih dari dua tahun mengendap, kini futy mencoba untuk membagi, semoga bisa diambil hikmahnya :)

Author POV
Bismillahirrahmaanirrahiim
                Saudaraku, maukah kau kuceritakan sebuah kisah pilu yang membuat butiran beningku meleleh, dadaku remuk, dan jiwaku porak-poranda? (Lebay) ah tapi bohong jika aku tak berkata demikian.
                Apa yang ada di pikiranmu saat mendengar kata Ayah? Sesosok yang tangguh, kuat, mengayomi dan memberikan perlindungan bagimu? Membimbingmu? Mengasihanimu? Menuntunmu menuju jalan-Nya? Namun bagaimana jika semua itu hanya sebuah ilusi? Bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Maka tersenyumlah tatkala kau memiliki seorang ayah yang baik. Mungkin kau bertanya apakah ada seorang ayah yang jahat? Padahal ia telah menjadi perantara bagimu untuk bisa menapakkan kakimu di bumi ini? Mungkin ada tapi minor. Baiklah jangan terlalu lama mengeryitkan dahi, nanti kau bisa pusing sendiri.
                Ketika hari itu seorang gadis mendekatiku dan melempar seulas senyum yang begitu aneh? Kau bilang aneh? Iya begitu aneh. Kau tahu ia melakukannya berapa kali? Sering, bahkan sangat sering, padahal aku sedang asyik membaca buku. Maka aku pun terpaksa harus menangkupkan buku demi mendengar sebuah cerita, ceita yang membuat butiran beningku meleleh.
                “Fut, ceritakan padaku tentang Perempuan dan jilbab”  spontan ia berkata begitu. Kau tahu? Ia membuatku bingung harus memulai dari mana, tapi baiklah, aku tak ingin membuatnya kecewa
                “Perempuan itu istimewa, ia bukan hanya sekedar perhiasan dunia, namun ia adalah tiang Negara, karena ia memiliki peran yang begitu penting di dalam Masyarakat. Karena dari seorang perempuan lahir seorang generasi penerus bangsa. Dari tangannya tercipta sebuah karakter dan kepribadian yang akan membentuk identitas suatu masyarakat. Jika perempuannya baik maka generasinya baik, kemudian lingkungan baik, dan juga Negara akan baik pula,namun jika perempuannya tidak baik, maka bisa kau bayangkan sendiri.
                Lalu perempuan yang baik itu yang seperti apa? Perempuan yang baik adalah perempuan yang shalihah. Definisinya adalah ia yang ketika di pandang suaminya menyenangkan, diperintah oleh suaminya menaati, dan ketika suami tak berada di rumah maka ia menjaga harta dan kehormatannya. Lalu bagaimana dengan kita yang belum bersuami? Yaitu menjaga diri dan kehormata kita,sebelum kita “dititipkan” orang tua kita kepada imam kita, salah satunya dengan memakai jilbab. Kenapa harus jilbab? Karena jilbab bisa melindungi kita dari kejahatan. Seperti perintah Alloh dalam surah An-Nur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Perintah mengenakan jilbab. Jika itu sudah menjadi perintah Alloh maka kita wajib menaatinya,  karena perintah Alloh pasti baik untuk kita. Sebagai awal mula, belajarlah sedikit demi sedikit, karena manusia butuh proses, hingga kamu benar-benar menyadari makna jilbab itu sendiri, hingga kamu enggan untuk melepasnya kembali. Namun tidak cukup hanya sampai di situ, karena setelah itu pasti akan ada banyak cobaan berat yang perlahan mengikis perjuangan kita. Itu pasti! Namun di situ lah Alloh ingin tahu seberapa besar kesungguhan kita untuk menaati perintah-Nya, semakin kita banyak di uji, makan insya Alloh kita semakin dicinta, jadi tetap lah bertahan hingga kamu mencapai kemenangan”
                Ia pun hanya tersenyum tanpa memotong ucapanku sedikitpun. Bahkan ia sering merasa kagum saat aku bercerita tentang kelebihan wanita-wanita yang menutup aurat, dengan mengibaratkanya seperti berlian, barang dagangan di etalase, sampai makanan sekalipun. Ia selalu mengerti dan membenarkan ucapanku. Hingga suatu hari ia berkata bahwa sesungguhnya ia juga ingin berjilbab, sungguh aku sangat bahagia, namun entah apa yang menjadi problemik baginya saat ini hingga jilbabnya itu belum istiqomah membalut tubuhnya.
                Kau tahu aku sangat bahagia saat ia dengan telaten mengajakku untuk sholah dhuha di masjid atau sekedar menemaniku? Ia membuatku kagum. Pernah pula ia tiba-tiba mendekatiku dan bertanya tentang kisah para sahabat, padahal aku sedang asyik main game. Dengan membagi otak aku pun melakukan keduanya.
                “Mmmm, banyak, bahkan sangat banyak. Tentunya sangat menginspirasi dan membuat kita sadar betapa kecil pengorbanan kita yang hidup di masa sekarang”
                Ia terdiam, aku pun terdiam.
                “Ali itu istrinya berapa?” whatssss? Ia bertanya begitu padaku? Ia seketika membuatku mengakhiri gameku.
                “Ali itu istrinya satu, yaitu Fatimah RA, putri Rasululloh”
                “Satu? Berarti Ali setia donk” ia membuat bibirku menyabit.
                “Ali itu menikah muda, ketika usianya baru 18 tahun. Mereka hidup bersahaja, namun bahagia, bahkan sangat bahagia J terlebih jika kamu tahu kisah asmara mereka”
                “Terus, terus?” ia semakin antusias, membuatku mengangkat sebelah alisku.
                “Jangan kamu fikir kalau Ali dan Fatimah itu pernah pacaran seperti layaknya remaja zaman sekarang. Proses pelamarannya pun unik, dan tentunya bikin terenyuh. Ketika Abu Bakar melamar Fatimah, padahal sebenarnya Ali menaruh rasa pada Fatimah, tapi ia berfikir bahwa ia tidaklah pantas, karena usianya dan pekerjaanya. Ia berfikir jika Abu Bakar yang menjadi suaminya pasti akan lebih baik, namun Rasululloh menolak. Teman-temannya semakin membesarkan hati Ali  untuk mencoba melamar Fatimah, tapi ia belum berani. Hingga akhirnya Umar datang melamar, Ali pun memiliki pemikiran yang sama seperti saat Abu Bakar melamar, namun di tolak juga. Bukannya ia semakin optimis namun semakin pesimis, karena kedua sahabat Rasululloh saja telah ditolak. Tapi teman-temannya selalu mendukungnya dan akhirnya memberanikan diri untuk melamar Fatimah dan mendatangi rumah Rasululloh. Kamu tahu waktu teman-teman bertanya jawabannya? Ali berkata AHLAN WASAHLAN begitu katanya, maka pernikahan pun di laksanakan. Ternyata Rasululloh itu tahu bahwa Ali dan Fatimah sama-sama memiliki rasa yang sama. sebuah pelajaran, bahwa jodoh memang tak akan kemana, bahwa jodoh itu pasti akan dipertemukan oleh Alloh, meski yang satu di belahan bumi utara dan yang satu di belahan bumi selatan, tak peduli akan hal itu, Alloh pasti akan mempertemukan dua hati yang saling terpaut itu” ah, aku akui temanku yang satu ini memang sangat menyebalkan, karena ia telah membuat air mataku meleleh. Megapa justru aku sendiri yang menangis? Padahal aku sendiri yang sedang bercerita. Kau tahu, ia yang menenagkanku dan memberiku semangat.
                “Futi yang sabar ya” katanya penuh makna.
                Hmmmmmzzzzz, sudahlah, bukankah aku berkata bahwa aku akan menceritakan sebuah kisah pilu? Tentang seorang Ayah? Ya baiklah. Tapi satu catatan, tak perlu mempertanyakan ceritanya ataupun berfikir sesuatu yang aneh, saranku, hanya ambil saja hikmahnya J
***
Paramita POV
Assalamu’alaikum, perkenalkan namaku Paramita Adinda, biasa dipanggil Mita, ya sebut saja begitu. Aku anak ke-3 dari 5 bersaudara, semua kakak dan adikku laki-laki, hanya aku seorang yang perempuan, mungkin itu sebabnya aku menjadi sangat tomboy dan hoby berkelahi, maksudnya bela diri :D
                Hari itu, tepatnya  sehari sebelum hari raya idul fitri. Sore itu aku mandi di kamar mandi, setelah selelsai aku menaruh celanaku di gantungan dan lupa membawanya keluar kamar mandi. Tak berselang lama Ayahku masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi. Adikku, dengan jahilnya menjatuhkan celanaku hingga mengenai ayah.
                Malam itu. ketika takbir dikumandangkan, menggema di setiap penjuru. Aku terduduk sendiri di teras rumah, ditemani semilir angin yang menyapu lembut ujung-ujung rambutku. Pikiranku kacau antara rindu dan sedih. Di satu sisi aku memikirkan ibuku yang tidak pulag selama 2 tahun ia berada di Jakarta. Dan di sisi yang lain aku memikirkan diriku sendiri yang terlampau lelah menjadi ibu kedua bagi adik-adikku. Aku menengok seisi kamar di mana di situ tergantung baju baruku untuk lebaran besok yang sudah ku cuci dan ku setrika. Tak lupa baju adik bungsuku yang ku beli dari hasil keringatku sendiri. Ya, selama seminggu ini aku membantu temanku menjaga toko baju milik ibunya di pasar. Hasilnya, lumayan bisa untuk mebeli baju adikku dan juga bajuku.
                Malam ini berlalu tanpa makna yang berarti, aku hanya berdiam diri di tengah kegelapan mendengar gema takbir yang perlahan menuntun hatiku untuk hanyut dalam dekapan alunannya. Tanpa kusadari butiran air mataku jatuh. Terlintas fikiran, mengapa hidupku seperti ini? Aku lelah…lelah dan sangat lelah, tapi tak ada satupun orang yang mengetahuinya.
***
                Pagi itu sangat ramai, ya tepatnya hari ini adalah hari raya i’dul fitri. Aku menyandang pakaian baruku dengan bangga. Berkali-kali aku memutar tubuhku. Mencoba mematut penampilanku. Ah, terkadang aku juga memiliki sifat feminime sebagai seorang perempuan. Aku membuka tirai yang menutupi pintu kamarku. Terlihat di ruang tamu sudah banyak tamu yang berdatangan untuk bersilaturrahmi. Tiba-tiba ayahku memanggilku dengan berteriak.
                “Tata….dimana kamu?”
                “Iya Yah…Tata di sini. Ada apa yah?” aku keluar dari kamar dan menemui ayah di ruang tamu.
                “Kamu yang jatuhin celana kamu ke kepala Ayah?” ayah membentakku dengan mata melotot, tak lupa dengan gayanya saat marah, berkacak pinggang.
                “Engga Yah, bukan Tata…bener…” aku membela diri dengan suara bergetar.
                Ayah melemparkan celanaku ke mukaku dengan kasar “Ini buktinya apa?”          
                “Bener Yah…Tata gak bohong….” Aku melihat adikku yang tengah berdiri di salah satu ujung ruangan itu. iya hanya diam menatapku. Beberapa pasang mata juga menatapku dengan aneh. Mereka pasti bertanya-tanya sebenarnya ada masalah apa antara aku dan ayahku.
                “Ngaku gak kamu!” ayah semakin antusias membentakku.
                “Nda Yah, bukan Tata…Tata gak tahu apa-apa” aku masih tetap kekeuh membela diri. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang terasa panas dan nylekit hinggap di pipiku. Tangan kekar ayah dengan akurat mendarat di pipiku.
                “Ngaku gak kamu!” ayah masih mendesakku. Adikku hanya diam terpaku, sedangkan orang-orang merasa terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dan aku…aku hanya menahan rasa sakit ini.
                “Ngga…” sekali lagi ayah menamparku hingga terasa terbakar wajahku. Namun aku hanya diam dan diam. Kemudian sesuatu yang membuatku terkejut ayah merobek baju bagian depanku hingga terlihat pakaian dalamku.
                “Sama orang tua itu harusnya yang sopan, jangan bertindak sembarangan dan membuat orang tua marah” sambung ayah memarahiku. Tanpa kusadari air mataku mengalir….aku malu…dan sungguh aku malu…tapi kakiku serasa di pasung hingga aku tak dapat bergerak. Ayah pergi meninggalkanku sedangkan aku masih di tempat, menahan rasa malu yang amat sangat. Sungguh aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.
                Hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan untukku, dimana seharusnya aku bahagia, namun aku harus menahan rasa sakit dan rasa malu. Dan juga…baju baruku…yang kubeli dengan kerja kerasku sendiri kini sudah dirusak oleh ayah. Namun yang paling kusesali adalah, aku sangat malu ketika auratku terbuka dihadapan banyak orang. Sungguh aku tak mengetahui jalan pikiran ayahku.
***
Author POV       
                Futy sempet shock waktu denger cerita itu…menurutmu apa itu masuk akal seorang ayah memarahi anaknya sampai sedemikian rupa, padahal kesalahan anaknya tak seberapalah. Mana ada seorang ayah yang tega berbuat sekasar itu pada anaknya, menamparnya…dan yang lebih membuatku terkejut merobek bajunya dihadapan banyak orang.  Entahlah…aku sendiri masih tak tahu dan tak mengerti. Tapi Futy Cuma nda tega waktu dia bercerita seperti itu hingga menangis. Seorang dia menangis…ini adalah hal yang sangat jarang dan aku yakin ini bukan cerita yang hanya sekedar diada-ada.
                Hmmmm, mungkin cukup ini catatan Futy, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua dan ayahnya menyadari kesalahannya serta temanku diberi kesabaran oleh Alloh SWT. Segerakan berjilbab ya neng….:)

0 komentar:

Posting Komentar