Sabtu, 16 November 2013

Bincang-bincang Soal Socrates

Assalamu’alaikum wr wb
Bismillahirrahmaanirrahiim…
           
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, minggu pagi yang cerah. Disambut oleh sang mentari dengan senyum indahnya. Awan putih cantik yang masih menyimpan titik-titik kelembutan menyelimuti langit yang belum nampak kebiruannya. Penulis masih diberi kesempatan untuk menghirup udara pagi yang begitu segar hingga mengisi sudut-sudut alveoli. Tanah coklat yang masih menyimpan molekul-molekul air dan titik-titik butiran bening sisa embun yang masih bertengger asyik diatas daun-daun hijau, awassss!!!! Ada ulat! Hehehe (mau apa sih sebenernya nih penulis? basa-basi mulu, ini bukan novel Non… :D). sungguh besar karunia Alloh yang diberikan untuk hamba-Nya, jadi sudah selayaknya kita bersyukur.
           
Di minggu pagi yang cerah ini (sebenernya matahari belum nongol sih…) penulis masih menyempatkan menulis (namnaya juga penulis) untuk sekedar menyapa pembaca dan bincang-bincang soal… apa yah? Seorang filsuf yang males banget buat nulis, jadi sebagai gantinya penulis mau nulisin sedikit soal beliau. Meskipun sebenernya besok udah mulai try out yang pertama. Duh jantungku dag dig dug der! Abis belum nyiapin apa-apa sih… masih terbuai dengan rajutan kata-kata dan luapan imajinasi yang menghiasi ujung-ujung sinaps. Ditambah lagi masih sibuk diskusi sama penulis lainnya yang udah berpengalaman dan juga wira-wiri nyari deadline buat beberapa karyaku, kemaren udah nemu satu, doakan saja semoga berhasil, aamiin.  Entah kenapa try out kali ini kayak kurang semangat, paling yang semangat belajar Cuma mapel Bahasa Indonesia. Setiap hari baca novel, nulis cerpen… gak bosen-bosen. Soalnya lebih asyik kalo belajarnya real, dari pada ngitungin kec epatan buah jatuh dari pohonnya (Sorry…, tak ada maksud menyinggung buat yang suka begituan :D). Alhamdulillah penulis sekarang udah punya 8 cerpen, karena baru menulis beberapa minggu yang lalu, ketika penulis pengen coba-coba bikin cerpen yang simple, eh malah ketagihan, novel agak dicuekin, sedih :’( hehehe, bisa aja! Dari sekian tulisan itu udah ada beberapa yang dikritik oleh penulis lainnya. Intinya tanggapannya bagus, namun pasti ada tapinya… terutama untuk EYD masih kacau balau. Harus lebih rajin belajar lagi. Untuk puisi udah punya 18, karena agak males nulisnya, entah kenapa dan karena apa, tapi beberapa juga udah di upload di blog. Terus untuk novel, sebenernya udah punya tiga judul. Yang dua belum selesai semuanya, yang satunya udah selesai, tinggal diketik, eh… malah flashdisk yang buat nyimpen novel tersebut kenal virus merah jambu *LOL jadinya ketikan yang udah sekian halaman harus menanggung derita. Sebenarnya belum ilang filenya, Cuma keadaannya ghaib. Waktu discan muncul, tapi gak bisa dilihat, sedih lagi…(ceritanya curcol :D) tapi ya sudahlah, tak ada yang sia-sia. insyaAlloh masih bisa dikembalikan filenya, kalaupun tidak, penulis sudah pasrah. Karena semua yang terjadi pada diri kita adalah kehendak Alloh, kita harus ridho. Semua yang dikehendaki Alloh adalah baik untuk kita. Jadi kita harus pandai mengambil hikmahnya (materi liqo pekan lalu).
           
Udah ah… jangan curhat mulu, judulnya mau bincang-bincang soal Socrates, tapi kok malah isinya curhatan doang! :D
           
Yups untuk kali ini penulis ingin sekali membahas mengenai Socrates, bukan membahas, hanya sedikit mengambil pelajaran darinya. Salah satu kalimatnya yang terkenal yaitu “Orang yang paling bijak adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu” itu mengapa dia selalu bertanya, namun bertanyanya itu untuk berdiskusi, karena dia nggak pernah mau bersikap menggurui orang lain, dia selalu berlagak bodoh, berlaga gak tahu, untuk tahu semuanya. Tapi hebatnya, lewat diskusi itu orang-orang menjadi tahu kehebatan Socrates. Bahkan terkadang menyadarkan orang tersebut dengan cara yang halus, tidak seperti menggurui. Socrates tidak pernah memandang orang lain lebih rendah dari dirinya, begitupun dia gak mau dipandang lebih rendah dari orang lain. Dia itu sosok yang rendah hati, istilah lainnya Humble.  Jadi waktu itu setiap orang di Athena mengaguminya karena ia bertanya pada siapa saja, bahkan pada seorang budak sekalipun karena Socrates percaya bahwa setiap manusia punya yang namanya akal. Tingkahnya inilah yang membuat Athena terkaget-kaget. Seorang filsafat yang mau bergaul dengan seorang budak, karena waktu itu budak tidak dianggap manusia. Dibalik setiap tingkatan level manusia waktu itu, pasti manusia punya hati nurani yang berkata sendiri “begitulah seharusnya Manusia”. Itulah mengapa Socrates selalu bertingkah atas nuraninya, dia pernah berkata, orang yang mengetahui apa yang baik, maka akan selalu berbuat baik.
           
Diatas sudah dikatakan bahwa Socrates adalah seorang filsuf yang males banget nulis, karena hobinya bertanya terus, jadi Plato yang bertindak sebagai muridnya banyak menuliskan tentang Socrates.
           
Dalam salah satu bukunya, Republic, Plato menulis tentang goa, jadi begini “Sebenarnya orang-orang yang berada di goa itu duduk menghadap kearah dinding goa dengan cahaya api unggun di depan mereka—karena dunia luar berada di belakang mereka dan sedihnya mereka hanya melihatnya dari pantulan yang ada di dinding goa yang ada di depan mereka, mereka hanya melihat bayang-bayang semesta saja. Mereka pun tenggelam dalam bayang-bayang itu, mencoba mencari tahu apa dan membicarakannya sampai mereka menyimpulkan bahwa hanya bayang-bayang itu saja yang ada. Kemudian suatu hari ada satu orang yang keluar dari goa itu dan menemukan bahwa ternyata di luar sana banyak keindahan sejati yang menunggu mereka di dunia nyata, tanah air, sungai-sungai, dan kehidupan yang lebih indah. Lalu orang yang sudah keluar goa itu memberi tahu mereka tentang keindahan di luar sana dan mengajak mereka keluar. Sedihnya, orang yang berada di dalam goa itu tidak ada yang mau percaya. Mereka masih percaya bahwa bayangan yang mereka lihat di dindin goa adalah yang aslinya.  Dan akhirnya orang yang mengajak keluar dari goa itu dibunuh”
           
Tulisan diatas adalah penggambaran Plato terhadap kekecewaannya. Orang yang berada di dalam goa itu adalah Athena dan yang keluar dari goa adalah Socrates. Ia dihukum mati oleh pemerintah Athena karena pemikiran dan gagasan-gagasan filosofisnya dianggap gila dan membahayakan Negara. Namun satu yang pasti, Socrates berbuat segalanya tulus demi kebaikan manusia. Kalo di dalam hatinya, dia percaya bahwa manusia itu punya hati nurani yang tidak pernah berbohong. Ini warisan terbesarnya. Socrates sangat percaya kalau hati nurani yang selalu tahu mana yang benar dan mana yang salah. Intinya, pencuri, perampok, dan orang jahat merasa dalam hatinya kalau yang dia lakukan itu salah. Socrates pun mati dalam menegakkan hati nuraninya. Sewaktu ia disuruh memmilih antara meminum racun sampai mati atau mengakui bahwa pemikirannya salah dan diusir dari Athena, dia memilih meminum racun demi Athena dan demi nuraninya.

Socrates percaya pada kebenaran dan kebaikan, dan di lubuk hati seseorang pasti kebaikan itu ada, walaupun dia berbuat salah dengan segala macam alasan duniawi yang bisa membenarkan dia… jauh di dalam lubuk hatinya dia tahu kalau dia salah dan orang tersebut pasti tidak bahagia. Jadi jika kita ingin hidup bahagia, bersihkanlah hati dan lakukan hal yang baik. Karena orang yang berbuat kebaikan pasti akan selalu dikenang oleh orang lain.

Dikutip dari : Novel berjudul 5 cm
            Semoga bisa diambil pelajarannya bagi kita semua, aamiin…

Wassalamu’alaikum wr wb

1 komentar:

UMG mengatakan...

prett

Posting Komentar