Semenjak kelasku dipindah ke lab
kimia, rasanya aku harus mulai beradaptasi dengan kelas baru itu, dari mulai
tempat jajan, jarak kelas dengan masjid yang jauh, naik turun tangga, bahkan
aku harus merelakan jam pemberangkatan lebih awal agar tidak keteteran sampai
di “kelas baru” yang berada di lantai 6. Jam 5-6 adalah pelajaran biologi yang
gurunya punya tingkat keteladanan tinggi alias telat dan…. Hehehe, alhasil
kelas jadi gaduh dan amburadul. Menambah suasana panas yang membakar saraf, tak
dapat dielakan lagi, kepala dan leher bagian belakangku mulai terasa sakit dan
entahlah, begitu nyeri. Dua buah AC dan dua buah kipas angin tak dapat membatu
untuk satu ruangan tak cukup besar itu.
“Siapa
yang mau sholat dhuha? kamu mau?” suara “gayung siwur” itu menggema ke seluruh
penjuru kelas namun tersamarkan oleh teriakan mulut-mulut yang lebih lebar.
Kulirik jam dinding berwarna merah yang tergantug di depan lemari, bergambar
red devil pula, dan anehnya lagi backgroundnya bergambar bunga-bunga berwarna
pink. Waktu menunjukkan pukul 10.30, masih ada waktu untuk sholat dhuha,
berhubung tadi malam aku tak bangun untuk sholat tahajud karena tanpa sadar
mematikan alarm saat tidur atau bahkan dengar tapi dibiarkan, atau juga karena
sama sekali tidak dengar. Banyak kemungkinan yang jelas aku bangun ketika waktu
subuh membangunkanku dari mimpi yang sudah kulupakan sejak semenit aku bangun
tidur. Ok kembali lagi ke suasana “kelas baru”
“Mba
aku ikut…” aku langsung beringsut menghampiri Mba Ita dan mengambil mukena
“Kemana
ini Fut?” saut Metria yang akhir-akhir semangat sekali sholat Dhuha
“Sholat
Dhuha Met..” jawabku
“Aku
ikut”
“Ayo…”
Mba Ita menggandeng tangan Metria.
Kami
bertiga, menuruni 5 tangga untuk sampai di masjid depan, masjid yang mempunyai
kenangan tersendiri untkku. Namun warnanya yang semula pink kalem, sekarang
berubah menjadi hijau. Sedikit berbeda dari dulu. Mba Ita melirik jam di
dinding
“Ah,
sudah setengan 11, 2 rakaat saja” ucap Mba Ita sambil mengenakan mukena
berwarna coklatnya
“Aku
juga deh, yang penting untuk menghilangkan lebel orang lalai di jidatku,
hehehe” masih teringat jelas kata ustadz mudaku itu. jika kita tak sholat
Tahajud, tidak bersedekah, maka sholat Dhuhalah, agar kita tidak menjadi orang
yang lalai.
Mba
Ita membaringkan tubuhnya selesai sholat Dhuha, diikuti aku dan Metria
“Aku
sebenernya seneng kalo abis sholat boboan pake mukena, tapi gak boleh” cetus
Mba Ita tiba-tiba
“Aku
juga Mba, terutama abis sholat Subuh, malah sampe sekalian tidur, hehehe”
sambungku
“Lah,
kamu sih gak dimana juga pasti tidur, hahaha” kelakar Metria menertawaiku
“Hahaha,
bisa ajah, aku emang ngantukan banget sih, tapi kalo lagi bosen ajah” jawabku
santai
“Emang
kenapa sih gak boleh boboan pake mukena?”
“Ya
gak tahu…Eh kita kok malah santai gini sih? Mau balik ke kelas gak?”
“Gak
Usah, jauh, mending disini aja sampe Dzuhur” cetusku enteng
“ya
udah deh, aku mau tidur dulu” Mba Ita tidur dengan keadaan masih mengenakan
mukena. Kebetulan masjid juga sepi, jadi lebih leluasa. Sedangkan aku dan
Metria asyik cerita sambil tiduran.
Waktu
Dzuhur tiba, Sely, teman sekelasku bilang kalau tadi pelajaran Biologi ada guru
yang masuk. Guru pengganti.
“Masa
sih Sel?” teriakku kaget
“Iya
bener laaaah” jawab Sely
“Tadi
mbahas materi yang apa Sel?” Tanya Mba Ita
“ya
nglanjutin kemaren”
“Substansi
Genetik Mba?” aku menoleh ke arah Mba Ita “Duh, aku gak mudeng lagi”.
Seusai
sholat Dzuhur aku segera kembali ke kelas. Tak membuang-buang waktu lagi. Aku langsung
minta ajari Neria dan Elin. Duh makin pusing, mana gak begitu mudeng lagi.
Akhirnya setelah muter-muter mudeng juga.
“Aku
tolong ajari lah” teriak Mba Ita
“Mba,
sama aku aja, aku dah mudeng J”
“Udah?
Ok deh”
Untung ajah ada teman berbaik hati
mau ngajarin, meskipun diledek juga. Ampun deh, gak lagi-lagi bolos jam
pelajaran, apalagi tidur di kelas, hehe:D

0 komentar:
Posting Komentar