Assalamu’alaikum cintah,
Mungkin kamu pernah dengar film yang sempat booming di bioskop baru-baru
ini, yang katanya keren banget animasinya, saya jadi teringat ketika greny saya
mengucapkan sepatah kata “The real civil war” beliau masuk ke dalam rumah
dengan jaket tutorialnya dengan tawa khasnya. Dia cerita bahwa ibu-ibu depan
kos memasang tulisan “Dilarang parkir” di halaman kos kita yang notabene sempit
sekedar dilewati satu motor, bahkan dia baru tahu saat sedang memindah motor
dan diberitahu tetangga kos sebelah.
Memang ada istilah tetangga nyebelin atau semacam itu, dan ada juga istilah
anak kos selalu salah. Jadi cowok yang ngekos itu selalu salahnya plus plus.
Saya memang belum terbiasa dengan masalah semacam ini. Si ibu sering kali
mendatangi kami di kos dan mengomel-ngomel masalah motor yang terparkir
seadanya. Sebenarnya kita juga bingung kalo harus memarkir dengan rapi, karena
gang yang sempit dan bagasi yang limit kuota juga. Pernah juga sekali saya
diomelin gara-gara menyalakan mesin sepanjang gang “ga liat itu tulisannya
mbak!!”. Ya saya mbatin orang tulisannya Cuma disuruh turun. Sering, pokoknya
sering banget si ibu ini ngomel-ngomel dan sekali saya parkir bannya langsung
digembosin, padahal motor hasil pinjem teman.
Saat ini si mba greny juga cerita saat si tetangga kos sebelah memindah
tanaman hias si ibu dengan cara memasukkan kakinya ke dalam pot dan
menggesernya. Entah jadi apa tanaman itu.
Oiya, si ibu ini kan juga suka sekali menanam bunga di pot, tapi beliau
sering kali menaruh potnya menjorok ke halaman kos kita yang sempit atau
menaruhnya di sudut rumah yang itu jalan lalu lalang kita mengeluarkan motor
dari halaman dan garasi, naasnya pot-pot ini sering digeser paksa oleh sebagian
dari kita (penghuni kos) karena dirasa sangat menghalangi jalan. Bahkan si Emba
kosku yang lain cerita kalau pernah menaruh tong sampah di atas ember pot tanaman
beliau. Seorang teman kosku yang notabene sholihah dan tak pernah mendendampun
waktu itu pernah sekali membersihkan botol-botol bekas yang berserakan di depan
kos kita, dia sebagai ukhti yang sholihah berinisiatif membuang air-air yang
ada di botol-botol ke tanaman hias si ibu ini dengan tujuan agar bermanfaat dan
tak mubazir, ternyata salah satu isi botol tersebut adalah minyak tanah, so
endingnya tanaman si ibu ini mati.
Waktu itu saat sedang melingkar, murobbi saya pernah berkata bahkan kita
jangan sampai melarang tetangga kita untuk memaku dinding rumah kita, meskipun
dinding rumah kita adalah hak kita yang kita bisa melarang siapa saja untuk
mengoyaknya, tapi biarlah tetangga kita juga bisa merasakan manfaatnya.
Ibu saya bahkan mengajari saya untuk mengangkat jemuran tetangga yang
ditinggal pergi pemiliknya saat turun hujan. Angkat beserta jemurannya dan
taruh di teras, jadi sewaktu-waktu kita punya jemuran saat kita pergi dan turun
hujan, maka tetangga kita juga akan melakukan hal yang sama, begitu salah satu
bermuamalah dengan tetangga.
Saya juga pernah membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa tetangga adalah
saudara kita yang patut kita sayang layaknya keluarga sendiri, karena tetangga
adalah orang terdekat kita yang akan kita mintai pertolongan saat kita sakit
atau terkena musibah, atau orang pertama yang mendengar suara kita saat kita
berteriak maling! Jadi sudah selayaknya
kita mengasihi dan berbagi apa yang kita punya. Seperti halnya juga saya
terhadap teman-teman kos, tak usah hitung-hitungan saat membelikan jajan atau
sekedarnya. Mereka bahkan pernah rela membawaku ke 2 rumah sakit malam itu saat
aku sakit, padahal esoknya mereka ujian. Ya begitulah, bahkan Rasululloh mencontohkan
cara bermuamalah dengan sebaik-baiknya terhadap tetangga.
Mungkin saya orang yang sering kali menyapa si ibu setiap kali saya lewat
dan si ibu juga selalu menanggapinya dengan baik, tapi kadang saya juga merasa
kesal saat si ibu ini ngomel-ngomel dan ingin rasanya saya mengatakan bahwa
halaman rumah ibu itu tidak akan di bawa mati, so ga usah serakah. Tapi kadang
saya juga engga tega. Teman sekos saya malah sampai ngambek, kalo ada apa-apa
ga mau bantuin. Loh eh?
Mungkin saya selama belasan tahun tinggal di kampung halaman tercinta belum
merasakan hal semacam itu, atau mungkin karena peranku hanya sebagai anak dan
mainnya adalah orangtuaku. Tpi di sini bahkan kita penghuni kos juga mungkin
sudah dianggap sebagai individu yang independent dan tercatat eksistensi kita,
so mungkin emang istilah anak kos yang selalu salah atau ungkin memang sikap
kita yang childish dan berlalu sesuka kita.
Tapi ya inilah, the real civil war is neighbour war.

0 komentar:
Posting Komentar