Rabu, 27 Juli 2016

The Real Civil War



Assalamu’alaikum cintah, 

Mungkin kamu pernah dengar film yang sempat booming di bioskop baru-baru ini, yang katanya keren banget animasinya, saya jadi teringat ketika greny saya mengucapkan sepatah kata “The real civil war” beliau masuk ke dalam rumah dengan jaket tutorialnya dengan tawa khasnya. Dia cerita bahwa ibu-ibu depan kos memasang tulisan “Dilarang parkir” di halaman kos kita yang notabene sempit sekedar dilewati satu motor, bahkan dia baru tahu saat sedang memindah motor dan diberitahu tetangga kos sebelah. 

Memang ada istilah tetangga nyebelin atau semacam itu, dan ada juga istilah anak kos selalu salah. Jadi cowok yang ngekos itu selalu salahnya plus plus. Saya memang belum terbiasa dengan masalah semacam ini. Si ibu sering kali mendatangi kami di kos dan mengomel-ngomel masalah motor yang terparkir seadanya. Sebenarnya kita juga bingung kalo harus memarkir dengan rapi, karena gang yang sempit dan bagasi yang limit kuota juga. Pernah juga sekali saya diomelin gara-gara menyalakan mesin sepanjang gang “ga liat itu tulisannya mbak!!”. Ya saya mbatin orang tulisannya Cuma disuruh turun. Sering, pokoknya sering banget si ibu ini ngomel-ngomel dan sekali saya parkir bannya langsung digembosin, padahal motor hasil pinjem teman.  Saat ini si mba greny juga cerita saat si tetangga kos sebelah memindah tanaman hias si ibu dengan cara memasukkan kakinya ke dalam pot dan menggesernya. Entah jadi apa tanaman itu.

Oiya, si ibu ini kan juga suka sekali menanam bunga di pot, tapi beliau sering kali menaruh potnya menjorok ke halaman kos kita yang sempit atau menaruhnya di sudut rumah yang itu jalan lalu lalang kita mengeluarkan motor dari halaman dan garasi, naasnya pot-pot ini sering digeser paksa oleh sebagian dari kita (penghuni kos) karena dirasa sangat menghalangi jalan. Bahkan si Emba kosku yang lain cerita kalau pernah menaruh tong sampah di atas ember pot tanaman beliau. Seorang teman kosku yang notabene sholihah dan tak pernah mendendampun waktu itu pernah sekali membersihkan botol-botol bekas yang berserakan di depan kos kita, dia sebagai ukhti yang sholihah berinisiatif membuang air-air yang ada di botol-botol ke tanaman hias si ibu ini dengan tujuan agar bermanfaat dan tak mubazir, ternyata salah satu isi botol tersebut adalah minyak tanah, so endingnya tanaman si ibu ini mati.

Waktu itu saat sedang melingkar, murobbi saya pernah berkata bahkan kita jangan sampai melarang tetangga kita untuk memaku dinding rumah kita, meskipun dinding rumah kita adalah hak kita yang kita bisa melarang siapa saja untuk mengoyaknya, tapi biarlah tetangga kita juga bisa merasakan manfaatnya. 

Ibu saya bahkan mengajari saya untuk mengangkat jemuran tetangga yang ditinggal pergi pemiliknya saat turun hujan. Angkat beserta jemurannya dan taruh di teras, jadi sewaktu-waktu kita punya jemuran saat kita pergi dan turun hujan, maka tetangga kita juga akan melakukan hal yang sama, begitu salah satu bermuamalah dengan tetangga.

Saya juga pernah membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa tetangga adalah saudara kita yang patut kita sayang layaknya keluarga sendiri, karena tetangga adalah orang terdekat kita yang akan kita mintai pertolongan saat kita sakit atau terkena musibah, atau orang pertama yang mendengar suara kita saat kita berteriak maling!  Jadi sudah selayaknya kita mengasihi dan berbagi apa yang kita punya. Seperti halnya juga saya terhadap teman-teman kos, tak usah hitung-hitungan saat membelikan jajan atau sekedarnya. Mereka bahkan pernah rela membawaku ke 2 rumah sakit malam itu saat aku sakit, padahal esoknya mereka ujian. Ya begitulah, bahkan Rasululloh mencontohkan cara bermuamalah dengan sebaik-baiknya terhadap tetangga. 

Mungkin saya orang yang sering kali menyapa si ibu setiap kali saya lewat dan si ibu juga selalu menanggapinya dengan baik, tapi kadang saya juga merasa kesal saat si ibu ini ngomel-ngomel dan ingin rasanya saya mengatakan bahwa halaman rumah ibu itu tidak akan di bawa mati, so ga usah serakah. Tapi kadang saya juga engga tega. Teman sekos saya malah sampai ngambek, kalo ada apa-apa ga mau bantuin. Loh eh? 

Mungkin saya selama belasan tahun tinggal di kampung halaman tercinta belum merasakan hal semacam itu, atau mungkin karena peranku hanya sebagai anak dan mainnya adalah orangtuaku. Tpi di sini bahkan kita penghuni kos juga mungkin sudah dianggap sebagai individu yang independent dan tercatat eksistensi kita, so mungkin emang istilah anak kos yang selalu salah atau ungkin memang sikap kita yang childish dan berlalu sesuka kita.


Tapi ya inilah, the real civil war is neighbour war.

0 komentar:

Posting Komentar