Rabu, 29 Juni 2016

Hanya Sebuah Drama



Assalamu’alaikum blog cantikku, sore hari menjelang berbuka puasa di tanah kelahiran. Ah mungkin aku tak sempat membuka buku diaryku untuk sekedar menulis sepatah dua patah kata. Terlalu berat atau malas mencarinya diantara tumpukan buku Linguistics, Literature, Translation, Structure atau semacam itulah. Mungkin akan lebih akrab dengan laptopku yang terbiasa bersama sehari-hari begadang mengerjakan tugas atau menonton film. Aku pernah menulis sebuah cerpen sebanyak 11 halaman full english, kalau bukan karena tugas akhir mungkin aku juga tidak akan mengerjakannya. Aku matian-matian mengerjakannya sampai pagi, meski endingnya hanya dosenku yang membacanya tanpa ada orang lain. Semakin lama aku menulis aku hanya ingin membacanya untuk diriku sendiri. Kadang aku tertawa, atau mungkin aku terlalu memasukkan karakterku di sana sehingga aku tidak ingin orang lain menyelamiku terlalu dalam.

Mungkin kamu pernah nonton drama korea berjudul “She Was Pretty” mengeja judulnya aku jadi ingat sewaktu dosenku menegur seorang mahasiswanya yang menulis “My mother was beautiful” artinya ibunya cantik ketika dulu dan sekarang tidak. Hanya masalah tenses tapi berdampak juga yah. Sewaktu dedek emezku merekomendasikan drama itu aku hanya iya iya saja tanpa berharap lebih. Karena bagiku menonton drama korea cukup wasting time ga logis sedangkan aku sering kali merelakan waktu tidurku untuk membaca novel, menyelesaikan book report, artfull writing, atau tugas lainnya. Tapi karena aku tidak harus melakukan semua itu setelah UAS jadi aku mengganti waktu lemburku dengan menonton drama. 

Drama itu mengisahkan seorang anak SD yang dulunya sangat cantik menyukai seorang cowok teman sekelasnya yang gendut dan sering kali di bully. Namun 15 tahun kemudian cowok itu berubah menjadi cowok super ganteng dan cerdas, sebaliknya si cwek jadi buruk rupa minta ampun. Bahkan saat mereka janjian bertemu si cowok ga mengenali si cewek ini. Endingnya si cewek meminta sahabatnya yang cantik untuk berpura-pura menjadi dirinya. Unfortunatelly dia bertemu si cowok itu di kanor tempat si cewek ini magang, yang mengejutkan si cowok ini adalah Wakil Pimpinan Redaksi di perusahaan tersebut. Banyak hal tragis yang terjadi hingga si cowok menemukan si cewek ini sebagai teman yang dulu ia kenal, dan ternyata si cowok ini benar-benar suka sama si cewe apapun keadaannya. Hmmzzz syndrom melankolisku belum sembuh juga dari dulu.

Grenyku berkomentar “Kalo di drama mah emang gitu fut, tapi kalo di dunia nyata ya mbelgedes lah cowok seganteng itu mau tetep suka sama si ceweknya yang udah jadi jelek banget”
Sedangkan mba Fina “Aku nonton episode tiga langsung tak lompati ke episode 9”
“Why?”
“Ga tahan liat jeleknya :P di episode 9 kan ceweknya udah cantik”
Si Dedek emezku dengan logat gemeznya “Koe kie pancen terbuka banget sama drama baru”
“Ben, cowoknya ganteng :P”

Aku sama sekali tidak sedang review drama, tapi drama ini memang menggambarkan aku banget sebagai cewek buruk rupa yang kerja di sebuah perusahaan dan kerap kali melakukan kesalahan-kesalahan konyol, beruntung saja bosku tidak seganteng Ji Song Joon. Dasar aku yang melankolis yah, atau mungkin istilah lainnya naiff watcher atau apalah itu namanya. 

Sampai di episode sekian aku menemukan kutipan bahwa di dunia ini berlaku hukum aturan dimana ketika kita mendapat banyak ketidakberuntungan maka kita juga akan semakin banyak mendapat keberuntungan sejumlah ketidakberuntungan yang kita dapatkan. Itu kata-kata untuk Ji Song Joon yang bekerja keras sampai pingsan demi mencapai penjualan di level nomor satu. Daebakk!!

Terkadang aku menemukan kata-kata penyemangat dari hal-hal kecil yang tidak senagaja kujumpai. Hal kecil dan sangat remeh, tapi membuatku sadar betapa adilnya dunia ini.

Pernah juga aku mendengar Ustadz Yusuf Mansyur berkata bahwa ketika kita menjupai kesedihan di awal maka kita sedang menumpuk banyak kebahagiaan di akhir.

Setiap orang punya masalah, karena setiap orang memiliki idealitanya masing-masing. Tapi terkadang realita tidak sesuai dengan idealita itu mengapa masalah menjadi ada. 

Bahkan kita melakukan kesalahan bukanlah menjadi masalah jika kita memang manusia namun lebih pada bagaimana reaksi kita terhadap kesalahan tersebut.

Kata mbak Tutorku jangan fokus pada masalahnya tapi fokus pada solusinya.

Mungkin itu juga yang membuatku sanggup bertahan hingga saat ini, dalam keadaan apapun karena Alloh selalu memberi jalan di setiap masalah yang kuhadapi.

0 komentar:

Posting Komentar