Assalamu’alaikum blog
cantikku, sore hari menjelang berbuka puasa di tanah kelahiran. Ah mungkin aku
tak sempat membuka buku diaryku untuk sekedar menulis sepatah dua patah kata.
Terlalu berat atau malas mencarinya diantara tumpukan buku Linguistics, Literature,
Translation, Structure atau semacam itulah. Mungkin akan lebih akrab dengan
laptopku yang terbiasa bersama sehari-hari begadang mengerjakan tugas atau
menonton film. Aku pernah menulis sebuah cerpen sebanyak 11 halaman full
english, kalau bukan karena tugas akhir mungkin aku juga tidak akan
mengerjakannya. Aku matian-matian mengerjakannya sampai pagi, meski endingnya
hanya dosenku yang membacanya tanpa ada orang lain. Semakin lama aku menulis
aku hanya ingin membacanya untuk diriku sendiri. Kadang aku tertawa, atau
mungkin aku terlalu memasukkan karakterku di sana sehingga aku tidak ingin
orang lain menyelamiku terlalu dalam.
Mungkin kamu pernah
nonton drama korea berjudul “She Was Pretty” mengeja judulnya aku jadi ingat
sewaktu dosenku menegur seorang mahasiswanya yang menulis “My mother was
beautiful” artinya ibunya cantik ketika dulu dan sekarang tidak. Hanya masalah
tenses tapi berdampak juga yah. Sewaktu dedek emezku merekomendasikan drama itu
aku hanya iya iya saja tanpa berharap lebih. Karena bagiku menonton drama korea
cukup wasting time ga logis sedangkan aku sering kali merelakan waktu tidurku
untuk membaca novel, menyelesaikan book report, artfull writing, atau tugas
lainnya. Tapi karena aku tidak harus melakukan semua itu setelah UAS jadi aku
mengganti waktu lemburku dengan menonton drama.
Drama itu mengisahkan
seorang anak SD yang dulunya sangat cantik menyukai seorang cowok teman
sekelasnya yang gendut dan sering kali di bully. Namun 15 tahun kemudian cowok
itu berubah menjadi cowok super ganteng dan cerdas, sebaliknya si cwek jadi
buruk rupa minta ampun. Bahkan saat mereka janjian bertemu si cowok ga
mengenali si cewek ini. Endingnya si cewek meminta sahabatnya yang cantik untuk
berpura-pura menjadi dirinya. Unfortunatelly dia bertemu si cowok itu di kanor
tempat si cewek ini magang, yang mengejutkan si cowok ini adalah Wakil Pimpinan
Redaksi di perusahaan tersebut. Banyak hal tragis yang terjadi hingga si cowok
menemukan si cewek ini sebagai teman yang dulu ia kenal, dan ternyata si cowok
ini benar-benar suka sama si cewe apapun keadaannya. Hmmzzz syndrom
melankolisku belum sembuh juga dari dulu.
Grenyku berkomentar “Kalo
di drama mah emang gitu fut, tapi kalo di dunia nyata ya mbelgedes lah cowok
seganteng itu mau tetep suka sama si ceweknya yang udah jadi jelek banget”
Sedangkan mba Fina “Aku
nonton episode tiga langsung tak lompati ke episode 9”
“Why?”
“Ga tahan liat jeleknya
:P di episode 9 kan ceweknya udah cantik”
Si Dedek emezku dengan
logat gemeznya “Koe kie pancen terbuka banget sama drama baru”
“Ben, cowoknya ganteng :P”
Aku sama sekali tidak
sedang review drama, tapi drama ini memang menggambarkan aku banget sebagai
cewek buruk rupa yang kerja di sebuah perusahaan dan kerap kali melakukan
kesalahan-kesalahan konyol, beruntung saja bosku tidak seganteng Ji Song Joon. Dasar
aku yang melankolis yah, atau mungkin istilah lainnya naiff watcher atau apalah
itu namanya.
Sampai di episode sekian
aku menemukan kutipan bahwa di dunia ini berlaku hukum aturan dimana ketika
kita mendapat banyak ketidakberuntungan maka kita juga akan semakin banyak
mendapat keberuntungan sejumlah ketidakberuntungan yang kita dapatkan. Itu kata-kata
untuk Ji Song Joon yang bekerja keras sampai pingsan demi mencapai penjualan di
level nomor satu. Daebakk!!
Terkadang aku menemukan
kata-kata penyemangat dari hal-hal kecil yang tidak senagaja kujumpai. Hal kecil
dan sangat remeh, tapi membuatku sadar betapa adilnya dunia ini.
Pernah juga aku mendengar
Ustadz Yusuf Mansyur berkata bahwa ketika kita menjupai kesedihan di awal maka
kita sedang menumpuk banyak kebahagiaan di akhir.
Setiap orang punya
masalah, karena setiap orang memiliki idealitanya masing-masing. Tapi terkadang
realita tidak sesuai dengan idealita itu mengapa masalah menjadi ada.
Bahkan kita melakukan
kesalahan bukanlah menjadi masalah jika kita memang manusia namun lebih pada
bagaimana reaksi kita terhadap kesalahan tersebut.
Kata mbak Tutorku jangan
fokus pada masalahnya tapi fokus pada solusinya.
Mungkin itu juga yang
membuatku sanggup bertahan hingga saat ini, dalam keadaan apapun karena Alloh
selalu memberi jalan di setiap masalah yang kuhadapi.
0 komentar:
Posting Komentar