Sabtu, 25 Juni 2016

Apalah Arti Sebuah Kata Ramadhan

Assalamu’alaikum wr wb

Sahabatku di jalan dakwah, lama, teramat lama saya tidak menyapa antum di sini, menyapa sahabat di balik rangkaian kata oleh penaku. Namun sekarang, saya yang hanya seorang selower mencoba mengunjungi rumah lamaku yang sempat ditanggalkan. Rumah ini semata hanya untuk mencurahkan rasa, berbagi cerita, mengambil hikmah bukan tempatku untuk bersyi’ar. Ku kira aku memiliki tempatku sendiri. 

Satu tahun, waktu yang begitu cepat berlalu tanpa ku tahu remuknya badan ini kugunakan untuk apa saja, untuk berjuangdi jalan Alloh kah? Atau hanya menuruti nafsu belaka mengejar dunia?

Tahun lalu masih tergambar jelas sewaktu aku tuangkan sujud terkhusyukku di atas sebuah karpet merah malam itu, atau menyelesaikan lembaran-lembaran kitab suciku yang kulantunkan di seperiga malam terakhir. Sewaktu itu kusadari bahwa tiada kawan yang membuatku yakin akan janji Alloh kecuali harapan dan mimpi-mimpiku. 

Ah, di malam yang katanya lebih baik dari seribu bulan itupun bahkan tak kulalui tanpa syukur yang terus mengalir. Hingga aku bertanya bagaimana cara untukku dapat seperti saat itu di malam yang lain. Namun detik ini juga kutemukan jawabannya. Sesuatu yang tidak kita sukai, sesuatu yang membuat kita menangis, sesuatu yang amat besar dan terasa berat pundak ini untuk menahannya sendiri, kemudian kusadari bahwa betapa aku membutuhkan Tuhanku. Ah klise! Tapi memang tabiat manusia seperti itu, ia akan kembali pada-Nya saat ia benar-benar sudah tidak sanggup menanggung beban dipundaknya. Dari sini kita bisa mengambil ibroh bahwa Alloh memberi kita ujian, cobaan, semata-mata karena Alloh sayang sama kita dan Alloh ingin kita selalu mendekat dan mendekat. Jika kita selalu diberi kebahagiaan yang ada kita semakin lupa, kita merasa hebat, dan kemudian menjadi sombong. 

Dalam hidup ini pasti selalu ada yang membuat kita sedih, kita berat untuk menjalaninya. Seperti saat itu, detik-detik yang bahkan tak bisa kulupakan sedikitpun. Tapi kita memang harus pandai mengambil hikmah. Seberat appaun beban itu kita harus ridho dan yakin bahwa Alloh menyimpan hikmah di balik semua itu. Jangan pernah takut dengan apa  yang menimpa kita sekarang akan berimbas buruk untuk masa depan kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, kita hanya harus berikhtiar lebih. Bahkan seringkali Alloh memberi jalan keluar dari arah yang tak disangka-sangka. Selalu itu dan amat sangat sering kualami. Kuncinya Ridho.

Ada satu istilah menarik, Ramadhan. Konon para sahabat di zaman Rasululloh amat sanngat gembira saat tamu istimewa itu hadir dan amat sangat sedih ketika ia pergi. Mereka selalu berdo’a 6 bulan sebelumnya agar dipertemukan dengan Ramadhan. Lalu bagaimana dengan kita? Adakah yang mengeluh ketika di hari yang terik kita harus bekerja keras tanpa setetes air yang membasahai kerongkongan kita atau sebongkah energi yang menyuplay tenaga kita? Tidak! Bahkan pejuang tangguh tak pernah mengeluh dengan semua itu, ia akan berangkat ketika matahari baru hendak mucul dan kembali saat malam telah larut. Ia hanya menengguk air dan beberapa butir kurma saat berbuka kemudia sisa malamnya ia isi dengan berkhalwat dengan Alloh SWT. 

Ramadhan di cawang berburu malam seribu bulan. Benar memang ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Dulu aku menunggu kesempatan itu memanjatkan sebuah do’a, sebuah harapan yang sangat ingin kucapai, sebatas harapan di dunia. Hhhzzz mungkin kuakui belum ku sandang gelar Muttaqin hingga orientasikupun masih sebatas dunia. Tapi berproses ya kawan, ada kalanya kita membutuhkan sesuatu untuk menjadikan kita semangat melakukan sesuatu. Dulu kawan saat membuka pintu kamarku kujumpai sebuat tulisan yang tinggi di atas sana “MTH SQUARE” bagiku itu masih menjadi tulisan mistis dan menakjubkan. Di sini tak kujumpai lagi tlisan semacam itu. Tulisanyang hanya terpampang di atas gedung pencakar langit. 

Lalu di sini, kutemuka nuansa yang sangat berbeda, ketika aku memiliki banyak kawan ang mensuportku untuk meningkatkan amal dan ibadah. Kajian di mana-mana, takjil gratis, imam yang hafidz, tempat nyaman, situasi yang kondusif tapi tak menggerakkan nuraniku untuk sekedar menangis dan bersimpuh di sepertiga malam terakhir. Why? Itulah aku butuh harapan untuk diperjuangkan, aku butuh kesedihan untuk membuatku menangis, aku butuh itu semua. Bahkan tilawah berlembar-lembarpun akan terasa lebih semangat jika kita memiliki keyakinan kuat akan sebuah harapan. 

Ustadz Solihudin di malam peringatan Nuzulul Qur’an itu mengatakan bahwa Al-Qur’an itu mulia, maka siapapun yang mau berdekatan dengan Al-Qur’an maka akan Alloh muliakan, akan dimudahkan segala urusannya, namun bagaimana kita hendak berdekatan erat dengan Al-Qur’an jika kita hanya memiliki target khatam sekali dalam sebulan. Artinya kita hanya berjumpa dengan sebuah ayat sekali dalam sebulan. Itu yang membuat saya merasa jleb jleb jleb!! 

Ada lagi ustadz favorite saya, beliau ustadz syatori yang pertanyaan-pertannyaanya membuat saya tercengang. Bagaimana kita diajari untu bersabar, memaafkan, ikhlas dalam berbagi, ikhlas dalam menerika ketentuan Alloh, cara kita mengambil hikmah dibalik setiap peristiwa. Ah, antum tak kan mengerti sebelum datang langsung di kajian beliau. Bahkan antum akan menyadari bahwa dunia ini terlalu hina untuk membuat antum menangis, ada Alloh yang Maha Besar, ada Alloh yang menyayangi  dan memuliakan orang-orang yang bertaqwa saat dunia ini mencoba menghujat. 

Ayuk kawan, di sepuluh hari terakhir kita berfastabiqul khoirot untuk menggapai Ridho-Nya J

Apalah arti sebuah kata Ramadhan jika tidak dimaknai dengan lahirnya hati yang bertaqwa, insan yang mulia, dan semangat Lillah.

0 komentar:

Posting Komentar