Assalamu’alaikum wr wb
Sahabatku di jalan
dakwah, lama, teramat lama saya tidak menyapa antum di sini, menyapa sahabat di
balik rangkaian kata oleh penaku. Namun sekarang, saya yang hanya seorang
selower mencoba mengunjungi rumah lamaku yang sempat ditanggalkan. Rumah ini
semata hanya untuk mencurahkan rasa, berbagi cerita, mengambil hikmah bukan
tempatku untuk bersyi’ar. Ku kira aku memiliki tempatku sendiri.
Satu tahun, waktu yang
begitu cepat berlalu tanpa ku tahu remuknya badan ini kugunakan untuk apa saja,
untuk berjuangdi jalan Alloh kah? Atau hanya menuruti nafsu belaka mengejar
dunia?
Tahun lalu masih
tergambar jelas sewaktu aku tuangkan sujud terkhusyukku di atas sebuah karpet
merah malam itu, atau menyelesaikan lembaran-lembaran kitab suciku yang
kulantunkan di seperiga malam terakhir. Sewaktu itu kusadari bahwa tiada kawan
yang membuatku yakin akan janji Alloh kecuali harapan dan mimpi-mimpiku.
Ah, di malam yang katanya
lebih baik dari seribu bulan itupun bahkan tak kulalui tanpa syukur yang terus
mengalir. Hingga aku bertanya bagaimana cara untukku dapat seperti saat itu di
malam yang lain. Namun detik ini juga kutemukan jawabannya. Sesuatu yang tidak
kita sukai, sesuatu yang membuat kita menangis, sesuatu yang amat besar dan
terasa berat pundak ini untuk menahannya sendiri, kemudian kusadari bahwa
betapa aku membutuhkan Tuhanku. Ah klise! Tapi memang tabiat manusia seperti
itu, ia akan kembali pada-Nya saat ia benar-benar sudah tidak sanggup
menanggung beban dipundaknya. Dari sini kita bisa mengambil ibroh bahwa Alloh
memberi kita ujian, cobaan, semata-mata karena Alloh sayang sama kita dan Alloh
ingin kita selalu mendekat dan mendekat. Jika kita selalu diberi kebahagiaan
yang ada kita semakin lupa, kita merasa hebat, dan kemudian menjadi sombong.
Dalam hidup ini pasti
selalu ada yang membuat kita sedih, kita berat untuk menjalaninya. Seperti saat
itu, detik-detik yang bahkan tak bisa kulupakan sedikitpun. Tapi kita memang
harus pandai mengambil hikmah. Seberat appaun beban itu kita harus ridho dan
yakin bahwa Alloh menyimpan hikmah di balik semua itu. Jangan pernah takut
dengan apa yang menimpa kita sekarang
akan berimbas buruk untuk masa depan kita. Kita tidak tahu apa yang akan
terjadi di kemudian hari, kita hanya harus berikhtiar lebih. Bahkan seringkali
Alloh memberi jalan keluar dari arah yang tak disangka-sangka. Selalu itu dan
amat sangat sering kualami. Kuncinya Ridho.
Ada satu istilah menarik,
Ramadhan. Konon para sahabat di zaman Rasululloh amat sanngat gembira saat tamu
istimewa itu hadir dan amat sangat sedih ketika ia pergi. Mereka selalu berdo’a
6 bulan sebelumnya agar dipertemukan dengan Ramadhan. Lalu bagaimana dengan
kita? Adakah yang mengeluh ketika di hari yang terik kita harus bekerja keras
tanpa setetes air yang membasahai kerongkongan kita atau sebongkah energi yang
menyuplay tenaga kita? Tidak! Bahkan pejuang tangguh tak pernah mengeluh dengan
semua itu, ia akan berangkat ketika matahari baru hendak mucul dan kembali saat
malam telah larut. Ia hanya menengguk air dan beberapa butir kurma saat berbuka
kemudia sisa malamnya ia isi dengan berkhalwat dengan Alloh SWT.
Ramadhan di cawang
berburu malam seribu bulan. Benar memang ada satu malam yang lebih baik dari
seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Dulu aku menunggu kesempatan itu
memanjatkan sebuah do’a, sebuah harapan yang sangat ingin kucapai, sebatas
harapan di dunia. Hhhzzz mungkin kuakui belum ku sandang gelar Muttaqin hingga
orientasikupun masih sebatas dunia. Tapi berproses ya kawan, ada kalanya kita
membutuhkan sesuatu untuk menjadikan kita semangat melakukan sesuatu. Dulu kawan
saat membuka pintu kamarku kujumpai sebuat tulisan yang tinggi di atas sana “MTH
SQUARE” bagiku itu masih menjadi tulisan mistis dan menakjubkan. Di sini tak
kujumpai lagi tlisan semacam itu. Tulisanyang hanya terpampang di atas gedung
pencakar langit.
Lalu di sini, kutemuka
nuansa yang sangat berbeda, ketika aku memiliki banyak kawan ang mensuportku
untuk meningkatkan amal dan ibadah. Kajian di mana-mana, takjil gratis, imam
yang hafidz, tempat nyaman, situasi yang kondusif tapi tak menggerakkan
nuraniku untuk sekedar menangis dan bersimpuh di sepertiga malam terakhir. Why?
Itulah aku butuh harapan untuk diperjuangkan, aku butuh kesedihan untuk
membuatku menangis, aku butuh itu semua. Bahkan tilawah berlembar-lembarpun
akan terasa lebih semangat jika kita memiliki keyakinan kuat akan sebuah
harapan.
Ustadz Solihudin di malam
peringatan Nuzulul Qur’an itu mengatakan bahwa Al-Qur’an itu mulia, maka
siapapun yang mau berdekatan dengan Al-Qur’an maka akan Alloh muliakan, akan
dimudahkan segala urusannya, namun bagaimana kita hendak berdekatan erat dengan
Al-Qur’an jika kita hanya memiliki target khatam sekali dalam sebulan. Artinya kita
hanya berjumpa dengan sebuah ayat sekali dalam sebulan. Itu yang membuat saya
merasa jleb jleb jleb!!
Ada lagi ustadz favorite
saya, beliau ustadz syatori yang pertanyaan-pertannyaanya membuat saya
tercengang. Bagaimana kita diajari untu bersabar, memaafkan, ikhlas dalam
berbagi, ikhlas dalam menerika ketentuan Alloh, cara kita mengambil hikmah
dibalik setiap peristiwa. Ah, antum tak kan mengerti sebelum datang langsung di
kajian beliau. Bahkan antum akan menyadari bahwa dunia ini terlalu hina untuk
membuat antum menangis, ada Alloh yang Maha Besar, ada Alloh yang
menyayangi dan memuliakan orang-orang
yang bertaqwa saat dunia ini mencoba menghujat.
Ayuk kawan, di sepuluh
hari terakhir kita berfastabiqul khoirot untuk menggapai Ridho-Nya J
Apalah arti sebuah kata
Ramadhan jika tidak dimaknai dengan lahirnya hati yang bertaqwa, insan yang
mulia, dan semangat Lillah.
0 komentar:
Posting Komentar