Bismillahirrahmaanirrahiim,,
Sempat
tergelitik ketika pulang kampung kemarin kusempatkan untuk membaca catatan
lamaku, buku diary yang kusimpan di lemari catatan dari kelas 4 SD sampai
sekarang. Dan kebanyakan dari catatan itu seputar kisah asmara atau sesuatu
semacam itu. Jujur aku tidak begitu ingin menulis karena tema ini. Sejak aku
bekerja di Jakarta aku menjadi asing dengan kata mellow, atau lebih tepatnya
menghindari segala hal yang berbau asmara, bagiku belajar, mengejar mimpi adalah
sesuatu yang sangat prioritas, tujuan hidup, rencana jangka pendek dan jangka
panjang. Meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Tapi mengingat satu hal
bahwa aku seorang perempuan juga tidak sepantasnya menghindari laki-laki.
Ingat! Sehebat apapun perempuan ia tetap membutuhkan seorang laki-laki.
Dalam
catatan itu banyak sekali nama laki-laki yang aku sebutkan, bahkan di setiap
moment selalu ada saja nama yang di mention. Sampai-sampai aku merutuki diriku
sendiri, mengapa aku begitu banyak menghabiskan waktuku untuk memikirkan
hal-hal seperti itu, dan imbasnya adalah pada akademikku. Aku juga heran mengapa
banyak sekali nama-nama laki-laki yang dimention dan itu pasti orang yang
pernah sekali waktu menyatakan perasaan kepadaku. Sekali waktu dulu ketika aku
masih sangat kecil, aku menjumpai laki-laki yang dia sangat berani menggedor
jendela kamarku malam-malam. Bayangkan sodara-sodara!! Aku yang masih gadis
lugu dan imut-imut gimana perasaannya? Bahkan berulang kali mengirimiku surat
ci*ta, dari mulai kertas biasa sampai kertas surat super cantik yang disemprot
parfum beraroma maskulin, bayangkan!! Sampai suatu saat aku putuskan untuk
mengubur surat-suratnya di bawah pohon mangga samping rumah. Bahkan sering sekali dia menungguku di suatu
jalan dimana biasa aku lewati ketika sepulang sekolah. Karena saking jeranya
aku sama si dia aku putuskan untuk mencari jalan lain. Dan ketika itu temanku
mengabari bahwa si dia bahkan sudah membawa gitarnya untuk menyanyikan sebuah
lagu untukku, tapi akhirnya dia hanya menyanyi untuk teman-temanku. Ada rasa
bersalah sih saat itu. Tapi sekali lagi bahwa aku ini perempuan kejam yang
kadang tidak mempertimbangkan perasaan laki-laki. Hmmz tapi catatan tentang dia
sudah kubakar ketika malam itu. Ketika aku benar-benar tidak mau dia mengganggu
hidupku.
Ada
lagi tipe si dia yang lain ketika dia menaruh rasa pada si aku kemudian dia
jadi rajin sholat, baik, rajin, dan sebagainya. Namun bagiku dia bukan
seseorang yang sampai bisa mengambil hatiku. So sampai saat ini dia juga menjadi
sahabatku yang Alhamdulillah sering memberi info kajian :D dan Insyaalloh dia
sudah menjadi ikhwan yang solih.
Diatas
hanya ada 2 si dia yang mungkin paling berkesan, dan selebihnya mungkin hanya
seperti angin lewat yang mereka menyatakan perasaan, lalu tidak kutanggapi,
kemudian sudah berlalu. Namun ada juga sosok yang pasti kukagumi ya, karena aku
juga perempuan normal pada umumnya. Seseorang yang sangat biasa dan sederhana,
bahkan mungkin dia tak memiliki kelebihan dibanding yang lainnya. Berbeda
sekali dengan pandangan hidupku dan suka dengan jalan hidup yang menantang dan
berdinamika. Dan sedangkan dia tipe yang lurus dan ya bisa dikatakan sangat
biasa. Mungkin banyak yang suka dengan si dia anak, karena penampilannya yang
bisa dibilang cukup oke dan ya,,,, gitu deh. Tapi di luar itu sama sekali bahwa
aku tertarik pada si dia bukan karena hal itu. Bahkan ketika diam-diam aku
tertarik pada si dia, dia tidak tahu. Bayakangkan!! Dari sekian banyak
laki-laki yang mengungkapkan perasaannya padaku, sekali aku menyukai seseorang
dan orang itu sama sekali tidak tahu, otomatis dia tidak menaruh rasa yang sama
kan denganku?? It’s no problem. Karena pada akhirnya dia juga kemudian pergi
dan sekali waktu aku tahu bahwa aku bakanlah orang bisa masuk di kriteria si
dia.
So,
kemudian rasa-rasa itu juga terus ada sampai aku SMA, sampai kemudian aku menemui orang-orang baru
dan rasa itu berpindah dari satu hati ke hati yan lain. Jangan dikira orang
seperti aku yang biasa aktif di forum, yang ketika di forum kajian pranikah
atau seputar ta’aruf hanya diam dan
menjadi pendengar saja, tidak pernah menaruh rasa pada seseorang. Pernah, dulu,
mungkin tidak sekarang, karena saat satu rasa itu tumbuh aku akan menekan
bahkan membabatnya habis. Bukannya aku menyalahi fitrah, tapi perasaan yang
kemudian terus dipupuk akan tumbuh dan menimbulkan problematika. Aku hanya
merasa bahwa ini belum saatnya, tidak ingin mencintai orang terlalu dini atau
menanti dalam diam. Karena kita tidak akan pernah tau siapa jodoh kita. Kalau kita
sudah berpatokan pada satu orang maka kita akan menutup mata pada seseorang
yang kemudian datang dan ia lebih baik dari sebelumnya. Yok serahkan jodoh kita
pada Alloh semata.

1 komentar:
wow......
ternyata oh ternyata.....
sukses buat mba futy......
Posting Komentar