Rabu, 16 Maret 2016

Apa yang Membuat Kita Bahagia?

               Hidup bukan hanya soal apa yang bisa kita dapatkan, namun seberapa bisa kita ikhlas untuk berbagi pada sesama. Bukankah hidup ini begitu singkat jika orientasinya hanya pada seberapa banyak materi yang bisa kita kumpulkan. Selama ini mungkin kita mengira bahwa dengan memberi uang yang kita miliki akan berkurang, atau mungkin kita tahu bahwa Alloh akan mengganti dengan berpuluh bahkan berates-ratus kali lipat, tapi berat rasanya saat harus mengeluarkan uang yang kita punya. 

                Dalam sebuah kajian malam itu saya benar-benar tersentak saat si ustadz mengatakan bahwa harta kita yang sesungguhnya adalah harta yang kita sedekahkan di jalan Alloh SWT, sedangkan harta yang tersisa semata untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Lalu berapa banyak harta yang sudah anda miliki saat ini? Tinggal lihat saja nanti saat hari perhitungan. 

                Pernah menjumpai sebuah kasus dimana orang terdekat kita sampai kelaparan dan tidak memiliki sepeser uangpun untuk membeli makan? Mungkin kita tidak tahu, atau mungkin tidak peka, atau bahkan mungkin tidak mau tahu, dan yang paling membuat galau adalah tahu, peka namun tidak tahu apa yang harus dilakukan, takut menyinggung atau melukai persaan orang tersebut saat kita sekedar membelikan makan. Padahal kita tahu bahwa orang tersebut telah menjaga dirinya dari sikap meminta-minta. Yah, sekedar berbasa-basilah membeli makanan dan menawarkannya makan bersama. Mungkin hal ini bisa diaplikasikan kepada teman sesama kos.

                Terkadang seharusnya kita merasa malu saat kita diberi rizki lebih oleh Alloh namun enggan untuk membagikannya kepada sesama. Padahal dalam setiap harta kita selalu ada hak orang lain. Bukankah bahagia itu ketika kita bisa memberi ketimbang menerima. Berusahalah untuk lebih banyak memberi ketimbang menerima, jangan sampai kita justru lebih banyak menerima sesuatu dari orang lain. Tidak peduli mau dalam keadaan lapang maupun sempit, Karena Alloh tidak akan mungkin membiarkan kita hidup tanpa rizki. 

                Bahkan ya sahabatku, saat kita masih diberi keikhlasan hati untuk menebar senyum kepada sesame, hal itu merupakan rizki yang tidak dapat diukur dengan angka. Membuat orang lain bahagia. Kita, menjadi alasan untuk orang lain berbahagia, semoga Alloh pula yang menjadi alasan kita untuk selalu berbahagia. Sebenarnya hidup itu sangat indah dengan segala kesyukuran.

              


0 komentar:

Posting Komentar