Bismillahirrahmaanirrahiim,,
Terkadang aku bertanya-tanya, mengapa dalam satu minggu ada 7 hari. Saat
kemarin baru saja melalui hari minggu, dan esok sudah akan melalui hari minggu
lagi, apa yang salah? Kenangan yang terlalu cepat diulang. Ketika aku masih
ingin tinggal di suatu tempat, namun waktu bergulir begitu cepat.
Kebersamaan bersama orang-orang yang kita sayang, sahabat,
keluarga, terasa begitu cepat berlalu. Intinya satu hal, saat kita belum bisa
mensyukuri apa yang kita rasakan sekarang, kita hanya akan mengingat-ingat masa
lalu yang terasa begitu indah, padahal saat itu juga kita tidak mensyukuri dan
merasakan masa lalu kita itu indah. Namun begitu, segala sesuatu yang telah
berlalu, yang telah hilang dari genggaman kita akan terasa sangat berharga
ketimbang saat ia hadir bersama menemani kita, mewarnai hari-hari kita, menjadi
kesibukan kita.
Seperti sesuatu yang kusebut dengan menulis, satu hal yang
selalu aku rindukan, tapi enggan kujumpai karena terlalu banyak alasan. Kadang aku
berfikir, bertanya, mengapa Alloh berlaku kejam padaku, menempatkanku di tempat
yang sama sekali tak pernah ku bayangkan, tempat yang keras dan menuntut
kesempurnaan. Namun hal itu sama sekali tak memberiku solusi, aku hanya mencoba
berhuznudzon dengan mengambil hikmahnya. Mungkin ini cara Alloh mendidikku, ini
cara Alloh membuatku menjadi dewasa, mempertemukanku dengan orang-orang hebat,
mengenalkanku arti perjuangan saat aku ingin mencpapai sesuatu. Meski pada
Akhirnya apa yang aku tuju juga merupakan perjuangan yang lebih dahsyat dari
sebelumnya. Aku hanya berfikir bahwa Alloh tidak akan memberiku cobaan diluar
batas kemampuanku. Alloh tahu aku mampu, maka Alloh memberi cobaan yang begitu
dahsyat ini.
Dulu aku pernah punya seorang teman kantor yang begitu baik
dan innocent. Saat dia ada di sampingku aku merasa tak ada yang istimewa,
padahal kita yang ngekos bersama, tinggal bersama, makan bersama, dalam satu
kantor yang sama, kita jalan-jalan bersama. Rasanya waktu selama 24 jam kita
lalui bersama, tapi tak ada yang istimewa, aku hanya menganggap ini takdir
biasa. Hingga pada saatnya ketika aku baru berhijrah, aku merasakan satu hal
yang namanya kesedihan, karena kita akan berpisah. Aku meninggalkannya seorang
diri, di saat dia mulai akan memperbaiki diri. Aku tahu dia butuh aku, aku tahu
dia butuh dukungan dan support dari aku. Menghadapinya sendiri akan jauh lebih
sulit. Saat ia mulai mengenakan jilbabnya, aku tahu bukan perkara yang mudah
untuk di bawa ke perusahaan. Harusnya aku ada di sana, tapi aku harus di sini. Bahkan
pertemuan di kemudian hari yang hanya 1 jam itupun terasa sangat berharga. Kita
melakukan hal-hal konyol yang dulu belum sempat kita lakukan bersama. Berfoto di
atas jembatan penyebrangan.
Ada lagi satu kisah. Dulu aku pernah mencari sebuah
informasi mengenai perguruan tinggi di kawasan Jakarta yang menyediakan
beasiswa. Satu ketika aku googling dan menemukan satu postingan terkait info
beasiswa, dia, seperti dugaanku pasti mahasiswa juga, ternyata benar. Banyak orang
yang menanggapi postingan itu dan menanyakan banyak hal, begitupun aku. Sampai ia
memberi alamat emailnya untuk konsultasi lebih lanjut. Di situ aku mulai
menggali banyak hal dan bertukar informasi. Karena keterbatasan bekomunikasi
melalui email akhirnya kita berbagi nomor telepon dan pin BB. Mulai saat itu
aku sering mengajaknya diskusi, tentang banyak hal dan aku merasa dia orang
yang tepat untuk diajak diskusi. Hingga akhirnya aku tidak lolos seleksi
beasiswa di kampusnya, hingga saat akhirnya aku pindah ke Jogja untuk menempuh
kuliah S1 ku, kita masih saling berkomunikasi meski hanya sebatas aku mengirim
pesan “Kakak” lalu dia menjawab “iya?” setelah itu ya sudah tidak ada
perbincangan apapun.
Hingga suatu hari Alloh mengizinkanku untuk kembali ke kota
kenangan, kota yang penuh dengan perjuangan itu dalam satu moment. Alloh
mempertemukanku dengan sosok dia, teman, atau sahabat yang dulunya kita hanya
mengenal dari media social kemudian sampai kita benar-benar bertemu dan
bercerita banyak hal, berbagi pengalaman satu sama lain, yang kita menjadi
sahabat di dunia nyata.
Kupikir itu satu hal yang konyol. Aku sering mendengar
tentang orang-orang yang memiliki sahabat baru yang mereka kenal dari media social,
sempat aku berfikir itu hal yang konyol tapi bahkan aku mengalaminya. Kupikir bukan
hal yang buruk, asal kita mengenal betul identitas orang yang kita kenal
melalui media social.





1 komentar:
futi...
Posting Komentar