Kamis, 14 April 2016

Serpihan Hidup yang Baru Ditemukan






Bismillahirrahmaanirrahiim,,

Terkadang aku bertanya-tanya,  mengapa dalam satu minggu ada 7 hari. Saat kemarin baru saja melalui hari minggu, dan esok sudah akan melalui hari minggu lagi, apa yang salah? Kenangan yang terlalu cepat diulang. Ketika aku masih ingin tinggal di suatu tempat, namun waktu bergulir begitu cepat. 

Kebersamaan bersama orang-orang yang kita sayang, sahabat, keluarga, terasa begitu cepat berlalu. Intinya satu hal, saat kita belum bisa mensyukuri apa yang kita rasakan sekarang, kita hanya akan mengingat-ingat masa lalu yang terasa begitu indah, padahal saat itu juga kita tidak mensyukuri dan merasakan masa lalu kita itu indah. Namun begitu, segala sesuatu yang telah berlalu, yang telah hilang dari genggaman kita akan terasa sangat berharga ketimbang saat ia hadir bersama menemani kita, mewarnai hari-hari kita, menjadi kesibukan kita. 

Seperti sesuatu yang kusebut dengan menulis, satu hal yang selalu aku rindukan, tapi enggan kujumpai karena terlalu banyak alasan. Kadang aku berfikir, bertanya, mengapa Alloh berlaku kejam padaku, menempatkanku di tempat yang sama sekali tak pernah ku bayangkan, tempat yang keras dan menuntut kesempurnaan. Namun hal itu sama sekali tak memberiku solusi, aku hanya mencoba berhuznudzon dengan mengambil hikmahnya. Mungkin ini cara Alloh mendidikku, ini cara Alloh membuatku menjadi dewasa, mempertemukanku dengan orang-orang hebat, mengenalkanku arti perjuangan saat aku ingin mencpapai sesuatu. Meski pada Akhirnya apa yang aku tuju juga merupakan perjuangan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Aku hanya berfikir bahwa Alloh tidak akan memberiku cobaan diluar batas kemampuanku. Alloh tahu aku mampu, maka Alloh memberi cobaan yang begitu dahsyat ini.


Dulu aku pernah punya seorang teman kantor yang begitu baik dan innocent. Saat dia ada di sampingku aku merasa tak ada yang istimewa, padahal kita yang ngekos bersama, tinggal bersama, makan bersama, dalam satu kantor yang sama, kita jalan-jalan bersama. Rasanya waktu selama 24 jam kita lalui bersama, tapi tak ada yang istimewa, aku hanya menganggap ini takdir biasa. Hingga pada saatnya ketika aku baru berhijrah, aku merasakan satu hal yang namanya kesedihan, karena kita akan berpisah. Aku meninggalkannya seorang diri, di saat dia mulai akan memperbaiki diri. Aku tahu dia butuh aku, aku tahu dia butuh dukungan dan support dari aku. Menghadapinya sendiri akan jauh lebih sulit. Saat ia mulai mengenakan jilbabnya, aku tahu bukan perkara yang mudah untuk di bawa ke perusahaan. Harusnya aku ada di sana, tapi aku harus di sini. Bahkan pertemuan di kemudian hari yang hanya 1 jam itupun terasa sangat berharga. Kita melakukan hal-hal konyol yang dulu belum sempat kita lakukan bersama. Berfoto di atas jembatan penyebrangan.





Ada lagi satu kisah. Dulu aku pernah mencari sebuah informasi mengenai perguruan tinggi di kawasan Jakarta yang menyediakan beasiswa. Satu ketika aku googling dan menemukan satu postingan terkait info beasiswa, dia, seperti dugaanku pasti mahasiswa juga, ternyata benar. Banyak orang yang menanggapi postingan itu dan menanyakan banyak hal, begitupun aku. Sampai ia memberi alamat emailnya untuk konsultasi lebih lanjut. Di situ aku mulai menggali banyak hal dan bertukar informasi. Karena keterbatasan bekomunikasi melalui email akhirnya kita berbagi nomor telepon dan pin BB. Mulai saat itu aku sering mengajaknya diskusi, tentang banyak hal dan aku merasa dia orang yang tepat untuk diajak diskusi. Hingga akhirnya aku tidak lolos seleksi beasiswa di kampusnya, hingga saat akhirnya aku pindah ke Jogja untuk menempuh kuliah S1 ku, kita masih saling berkomunikasi meski hanya sebatas aku mengirim pesan “Kakak” lalu dia menjawab “iya?” setelah itu ya sudah tidak ada perbincangan apapun.

Hingga suatu hari Alloh mengizinkanku untuk kembali ke kota kenangan, kota yang penuh dengan perjuangan itu dalam satu moment. Alloh mempertemukanku dengan sosok dia, teman, atau sahabat yang dulunya kita hanya mengenal dari media social kemudian sampai kita benar-benar bertemu dan bercerita banyak hal, berbagi pengalaman satu sama lain, yang kita menjadi sahabat di dunia nyata.
Kupikir itu satu hal yang konyol. Aku sering mendengar tentang orang-orang yang memiliki sahabat baru yang mereka kenal dari media social, sempat aku berfikir itu hal yang konyol tapi bahkan aku mengalaminya. Kupikir bukan hal yang buruk, asal kita mengenal betul identitas orang yang kita kenal melalui media social. 

Banyak hal menarik yang kulalui, begitu banyak, hingga aku merasa malu, hingga aku tidak tahu bagaimana caranya aku harus bersyukur atas semua nikmat yang Alloh berikan itu.

1 komentar:

fajar faruki mengatakan...

futi...

Posting Komentar