Rabu, 25 November 2015

Cerita Tentang Sepeda Baru dan Mereka



Bismillahirrahmaanirraahiim,,

Inikah yang dinamakan cinta sobat?

Mengapa begitu mengharukan dan membuatku ingin selalu kembali ke pangkuan bunda?
Bahkan baru beberapa baris kutorehkan tulisan ini, namun tak bisa kubendung air mata ini.
Hari itu aku menerima telepon dari ibuku, beliau menanyakan apakah aku jadi membeli sepeda baru? Deg! Jujur aku merasa cukup kaget, karena waktu itu tak benar-benar serius membicarakan hal ini dengan orang tuaku. Tapi satu hal ini memang pernah benar-benar melintas di pikiranku, bahkan aku menulisnya di sticky notes dalam desktop latopku. Inilah dari sekian mimpi-mimpiku yang dengan segala azzam akan kuperjuangkan untuk mendapatkannya. Namun rasanya begitu aneh saat aku mendapatkannya secara Cuma-Cuma  dan tanpa perjuagan sedikitpun, right?

Satu hal sesederhana ini tapi cukup mengusik pikiranku. Selama ini aku memerlukan perjuangan khusus untuk mendapatkan segala sesuatunya. Bukan hal yang aneh bukan saat orang tua mengabulkan permintaan apa yang kita mau, tapi tidak bagiku kawan. 

Jika kalian diposisiku, apa yang kalian rasakan? Bahagiakah? Namun tidak bagiku. Justru aku merasa sangat sedih dan selalu ingin menangis, tapi di sisi lain aku juga tak ingin menolak pemberian dari mereka. Sekali lagi kawan, ini hal yang sangat sederhana, tapi membuatku berpikir berulang-ulang.
Saat dua tahun yang lalu orang tuaku juga membelikanku sepeda motor, baru saja kemarin rasanya kawan, dan sekarang mereka hendak membelikanku sepeda baru lagi untuk kemudahanku keliling kampus. Bukan, bukan dari sudut pandang itu yang kumaksud. Sudah sekian lama aku tak ingin menuntut apapun dari kedua orangtuaku, karena kusadari sudah seharusnya waktuku untuk memberi.
Ketika aku berpikir, apa mereka cukup rejeki untuk memberi itu, atau entah bagaimana keadaan mereka saat ini. Perlu diketahui bahwa orangtuaku hanya seorang petani biasa, mereka telah sepuh dan tak cukup tenaga untuk terus bekerja keras. Atau apakah meraka sengaja menyisihkan sebagian rejeki mereka di tengah kesulitan yang sedang mereka hadapi, atau entahlah, aku tak bisa membayangkan semua itu.

Lalu bagaimana dengan aku di sini, yang jauh di perantauan, belum bisa belajar dengan baik. Belum bisa mengukir prestasi yang akan membuat mereka bangga. Aku yang masih egois dengan diriku sendiri dan menyimpan sejuta impian yang harus ku gapai untuk diriku sendiri. 

Kalian tahu kawan, untuk sekedar memberimu hidup hingga saat ini saja orang tua kalian telah menghabiskan lebih dari setengah rejeki mereka, bahkan mereka hanya menyisakan sekian persen rejeki mereka untuk diri mereka sendiri. Mereka hanya berharap untuk kebahagiaan kita, masa depan kita, menjadikan diri kita menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi lingkungan disekitar kita. Lalu pantaskah kita untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain? Membolos kuliah,atau bahkan malas latihan dan mengerjakan tugas? Padahal orang tua kalian di sana sedang bekerja keras sepanjang hari dan merasakan lelahnya di sisa waktu malam hari.

Setiap orang yang merasakan perantauan pasti akan merasakan bagaimana rasanya rindu dengan orang tua. Merasakan perasaan cinta yang lebih dalam dari biasanya,merindukan keadaan rumah dan selalu ingin kembali ke rumah. 

“Catatan homesick” mungkin itu yang sedang kalian pikirkan, namun tidak hanya itu. Ini menjadi sebuah perenungan bagi kita semua. Setiap keberhasilan kita, kebahagiaan hidup yang kita rasakan, ada campur tangan dari kedua orang tua kita. Ada doa-doa mereka yang diijabah. Maka setinggi apapun pendidikan kita, jabatan kita, kedudukan dan pangkat kita,mungkin bahkan melebihi kedua orang tua kita. Itu semua karena doa dan pengorbanan orang tua kita. Jangan merasa sombong atau lebih dibanding orang tua kita. Walau bagaimanapun kedudukan orang tua adalah lebih dari kita.
Catatan cinta,,

Catatan rindu,,

Berjanjilah untuk lebih baik dan berusaha untuk menjadi yang terbaik.

Sepeda baru? Ah bahkan hal sesederhana ini masih perlu kupertimbangkan. Really? Lalu bagaimana dengan kalian yang mungkin juga mengalami hal sepertiku? Bahagia? Senang? Sedih? Biasa saja? Atau berpikir lebih jauh?

Haha, hanya catatan diakhir bulan, menjelang akhir semester. Dan mempersiapkan diri untuk bekerja keras memberi kado istimewa untuk orang tua tercinta, right?

0 komentar:

Posting Komentar