Rabu, 21 Oktober 2015

Mengapa Akhwat harus Cantik?



Assalamu’alaikum wr wb sahabat,, telah sekian lama peri pink ini tidak menyapa sahabat. Dalam ruang dan waktu yang berbeda, dengan aktivitas yang pastinya berbeda. Jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Namun selalu ada yang kurindukan, kembali pada fitrahku, dunia tulis menulis dan menyapa kalian semua. Setelah bermetamorfosis, melalui jalan takdir dan tempaan hidup kini peri pink hadir dalam bentuk yang berbeda, lebih fresh tentunya dan semangat yang kian menjadi.
Kenapa? Tiba-tiba seorang peri pink yang dulunya sama sekali ga peduli dengan style, menyinggung tentang kata cantik. Ya meskipun diakui tak diakui peri pink ini lumayan feminim, tapi sama sekali tak pernah memikirkan masalalah bau badan atau tampilan wajah. What’s going on?
Sahabat pernah mendengar sebuah hadist yang menjelaskan bahwa seorang perempuan yang melalui sekumpulan laki-laki kemudian tercium bau wanginya, maka ia di adalah seoarng pezina. Hadist itu memerangkan tentang dilarangnya bertabarruj atau memamerkan kecantikan. Karena wanita hanya boleh berhias untuk suaminya seorang.
Nah, itulah motivasi saya untuk cuek dengan segala yang berbau kecantikan atau fashion, padahal bukankah Alloh mencintai keindahan dan kecantikan? Disinilah persepsi seorang perempuan dilimbungkan.
Peri pink baru menyadari bahwa seorang akhwat adalah figure yang akan menjadi sorotan ketika ia berjalan melewati sekerumunan manusia. Bahkan celanya yang sedikit saja akan menjadi begitu kentara dimata manusia lain dibanding ‘perempuan biasa’ yang dianggap terang-terangan memperlihatkan celanya.
Nah bagaimana pencitraan seorang akhwat di masyarakat? Sosok yang tentunya anggun dan solihah namun di sisi lain terlihat kucel dan dekil, right? Adakah hubungannya dengan hadist di atas? Bagi diri peri pink sendiri mungkin sedikit meyinggung, tapi perkara kebersihan lebih sering karena masing-masing karakter individu.
Bahkan ada sebuah cerita tentang seorang perempuan yang sangat aktif dalam mensyiarkan islam dalam berbagai hal, namun ada masalah dengan jilbabnya yang masih terlihat belum syar’I, ketika dia ditanyai apakah engkau tidak ingin memperlebar jilbabnya hingga sempurna menutupi bagian yang seharusnya dan syar’I, seperti para akhwat? jawabannya simple “ga mau, karena akhwat bau” what the ___ !!! hanya karena alasan sesimple itu membuat si perempuan mempertimbangkan untuk berhijab layaknya seorang akhwat.
Sahabat, begitu buruknyakah citra seorang akhwat di kalangan manusia dalam hal kebersihan? Bahkan ada seorang teman peri pink yang mukenanya tidak pernah dicuci sama sekali hingga mengganggu konsentrasi saat sholat berjamaah dengan dirinya, padahal dia sangat rajin sholat fardhu maupun sunah, tilawah, dan amalan-amalan ruhiyah lainnya, namun sayang sekali jika casingnya saat menghadap sang kholik kurang diperhatikan.
So, apa kesimpulannya? Tak perlu tampil berlebihan saat keluar rumah, namun keep clean and beautiful. Tingkatkan citra seorang akhwat untuk lebih baik, agar sahabat di luar sana yang belum mau menjadi seorang ‘akhwat’ tak lagi menimbang-nimbang masalah pencitraan. Tetap ingat bahwa orang disekitar kita butuh kenyamanan saat dekat dengan kita, tidak hanya Karena takut dianggap tabarruj pada lawan jenis. Bagi peri pink, wanita yang tangguh, tegas, berwibawa, namun stay soft and beautiful akan lebih dihargai di mata laki-laki. Jangan takut ya guys untuk menjadi lebih baik, tingkatkan citra seorang akhwat bahwa ia juga cantik namun tetap menjalankan syari’at yang telah ditentukan oleh sang pencipta. Sahabat, karena kalian itu istimewa.

0 komentar:

Posting Komentar